detikhealthxx

Jangan Keliru, Ini Bedanya Gangguan Penyesuaian dengan Depresi

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Rabu, 11/01/2017 14:02 WIB
Jangan Keliru, Ini Bedanya Gangguan Penyesuaian dengan DepresiMantan pilot Citilink, Tekad Purna, usai diperiksa BNN (Foto: Okky Budi Permana/detikcom)
Jakarta, Mantan pilot maskapai penerbangan Citilink, Tekad Purna, disebut mengalami gangguan penyesuaian. Hal ini merupakan penjelasan atas aksinya yang sempat membuat heboh media sosial beberapa pekan lalu.

Dikutip dari CNN Indonesia, Kepala Bagian Humas BNN Slamet Pribadi menjelaskan Tekad diketahui mengalami penurunan emosi dan perasaan karena masalah yang dialaminya. Masalah itu, kata dia, bisa berkembang pada gangguan yang bersifat depresi.

Lalu, benarkah gangguan penyesuaian bisa berujung pada depresi? Dijelaskan dr Andri, SpKJ dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, gejala gangguan penyesuaian memang mirip dengan gejala depresi. Pengidapnya bisa merasa sering lelah, putus asa, hingga kehilangan nafsu makan dan selalu sedih.

Baca juga: Mengenal Gangguan Penyesuaian Seperti yang Dialami Mantan Pilot Citilink

"Tapi bedanya ada di stressornya. Kalau ada stres karena masalah kehidupan, lalu muncul gejala, itu gangguan penyesuaian. Tapi kalau nggak ada stres namun tahu-tahu sedih dan gejala lainnya muncul, kemungkinan besar itu depresi," tutur dr Andri kepada detikHealth, Rabu (11/1/2017).

Dikatakan dr Andri, gangguan penyesuaian rentan muncul pada orang yang mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan tersebut bisa saja terjadi karena beberapa hal seperti menikah, memiliki anak, pensiun dari pekerjaan atau menderita penyakit serius.

Contoh kasusnya, seseorang yang baru saja didiagnosis mengidap kanker akan lebih rentan merasa sedih dan sakit kepala. Ia mulai memikirkan bagaimana masa depan anak-anaknya hingga hal-hal lain yang dapat menyebabkan stres.

"Kalau sudah mengganggu kehidupan, misalnya dia jadi nggak bisa kerja, kehidupan sosial terganggu, mengisolasi diri, nah bisa jadi itu gangguan penyesuaian," paparnya.

Gangguan ini bisa berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan ke depan. Jika tak ditangani dengan baik, gangguan penyesuaian memang bisa berkembang menjadi depresi. Dengan catatan stressor yang ada sebelumnya sudah hilang namun keluhan dan gejala masih muncul.

"Kalau kondisinya cukup berat, pasien terlihat kehilangan minat, tidak lagi mau melakukan sesuatu hingga ada keinginan bunuh diri dan ini berlangsung lebih dari 2 minggu, bisa dikatakan sudah mengalami depresi yang tentunya membutuhkan penanganan lanjutan," tandasnya.

Baca juga: Kenali, Berbagai Gejala PTSD yang Bisa Terjadi Pasca Bencana Psikososial(mrs/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close