detikhealth

Kisah Duka Ibu Pasca Kematian Bayinya dan 1.000 Liter ASI Donor

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 12/01/2017 16:05 WIB
Kisah Duka Ibu Pasca Kematian Bayinya dan 1.000 Liter ASI DonorFoto: fb
Jakarta, Ibu mana yang tak sedih ketika harus merelakan kepergian putranya. Hal itu pula yang dialami oleh Ariel Matthews. Ia kehilangan bayinya yang bernama Ronan saat si kecil baru berusia 11 hari.

Si kecil Ronan lahir pada tanggal 3 Oktober 2016 dengan bobot 4 kg. Namun, ia mengalami kelainan pada jantung dan dokter percaya pengobatan plus operasi bisa memperbaiki kondisinya. Selama beberapa hari, Ronan dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) sebelum operasi dilakukan.

"Sampai setelah operasi, kondisinya memburuk dan ia mengalami komplikasi. Saya merasa dia tidak akan bertahan. Benar saja, 11 hari kemudian, tepatnya tanggal 14 Oktober Ronan meninggal," tutur Ariel kepada Today.

Di tahun 2015, Ariel juga pernah kehilangan bayinya yang diberi nama Cayden. Saat itu, ia mendonorkan ASI-nya dan Ariel pun merasa dirinya lebih baik. Untuk itu, Ariel berniat mendonorkan ASI-nya dan tetap memerah ASI bahkan sejak Ronan dirawat di NICU.

Baca juga: Pendidikan ASI Eksklusif Penting Bagi Konsistensi Ibu Menyusui

Total, Ariel menghasilkan kurang lebih 1.000 liter ASI perah. Dengan bantuan bidan, ia menemukan 3 anak yang membutuhkan ASI. Dikatakan Ariel, ia bangga bisa memberi ASI selama 1 tahun pada seorang bayi sehingga si bayi tak butuh susu formula.

"Saya senang bisa membantu ibu dan bayinya. Jika Ronan masih ada, dia juga pasti senang jika saya bisa mendonorkan ASI untuk mengenang dia. Saya hanya ingin berbagi bahwa di balik sesuatu yang mengerikan yang kita alami, ada hal baik di sana. Pasti ada cahaya di tengah kegelapan," kata Ariel.

Dalam salah satu foto yang diunggah Ariel di laman Facebook-nya, terlihat dua orang bayi. Seorang bayi tersenyum sedangkan satu bayi lainnya tampak sedang minum susu dari dot. Dalam keterangan foto, Ariel menulis bahwa melihat foto-foto tersebut, membuat dia bahagia.

"Lihat dua anak itu. ASI untuk Ronan membuat mereka bahagia dan kenyang. Suatu kehormatan bisa menolong mereka dalam proses pertumbuhannya. Ada 3 bayi yang mendapat donor ASI saya dan semuanya laki-laki. Saya tidak akan lupa wajahnya. Satu anak dengan santainya minum susu dan satu lagi tersenyum setelah kenyang minum susu," tulis Ariel.

Baca juga: Soal Pemberian ASI, 5 Hal Ini Sering Bikin Galau Ibu yang Baru Melahirkan

Ia juga mengucapkan terima kasih pada ibu si bayi yang membolehkan Ariel membagi ASI untuk Ronan. Sebab, itulah cara Ariel menghormati kepergian Ronan dan itu membuatnya tak terlampau sedih.

Soal donor ASI, dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA dari RS Bunda Jakarta menekankan skrining sebelum ibu mendonorkan ASI penting. Tujuannya, supaya bayi tidak tertular penyakit misalnya saja HIV, hepatitis B atau C, dan sifilis.

Wanita yang akrab disapa dr Tiwi ini menekankan, semua risiko penularan penyakit tersebut sebaiknya diketahui oleh ibu penerima donor ASI supaya mereka memahami mengapa menerima donor ASI tak boleh sembarangan. Menurut pengalaman dr Tiwi, ada beberapa orang pasien yang mendonorkan ASI dan diminta melakukan skrining ulang, mereka bersedia.

"Karena kita mengajarkan orang untuk mendermakan ASInya namun jangan menularkan penyakit. Kita akan berterima kasih (mendapat ASI donor), namun jangan sampai donor ini berbahaya untuk bayi-bayi, dan kita arahkan agar tidak berbahaya. Walaupun hanya menyumbang, pengalaman saya saat orang-orang mau mendonor pasti itu karena (ASInya) berlebihan. Sehingga kita bilang agar aman ASInya diberi ke bayi-bayi kecil, ibunya yang mendonorkan ASI mesti dicek," papar pemilik akun instagram @drtiwi ini.

Kisah Duka Ibu Pasca Kematian Bayinya dan 1.000 Liter ASI DonorFoto: Infografis/ Mindra Purnomo
(rdn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit