detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Pasangan yang Masih Ingin Hura-hura Setelah Berumah Tangga

Suherni Sulaeman - detikHealth
Senin, 23/01/2017 15:40 WIB
Pasangan yang Masih Ingin Hura-hura Setelah Berumah TanggaFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Halo Mbak Wulan. Salam kenal saya Sisil, baru menikah 4 bulan lalu, tepatnya bulan Agustus tahun ini. Pada dasarnya saya senang menikah dengan seseorang yang saya cintai, dan seseorang itu juga mencintai saya, usianya pun sama, 27 tahun juga. Selama 4 bulan saya berusaha menjadi istri yang baik dan ideal buat suami saya.

Tapi kami berdua masih ingin hura-hura dan main sana sini tapi dengan lingkaran pertemanan yang berbeda, saya dengan teman saya sendiri, dan suami dengan temannya.

Apa mungkin kami belum tahu apa makna menikah itu? Saya pikir kalau keduanya sama-sama happy, why not tetap dilakukan. Yang penting tidak berbuat aneh-aneh semacam selingkuh. Begitu saja curhatan saya Mbak Wulan. Terimakasih.

Caesillia (Wanita, 27 tahun)

Jawaban

Dear Mbak Caesilia,

Selamat untuk pernikahannya ya. Pada dasarnya, menikah bukan berarti Anda dan pasangan jadi membatasi diri dan berhenti untuk bersenang-senang. Setelah menikah, tidak selalu 'aku' dan 'kamu' menjadi 'kita' di semua aspek. Bahkan setelah Anda memiliki anak pun, tetap disarankan setiap orang yang ada di dalam perkawinan tetap memiliki waktu berkualitas dengan dirinya sendiri, alias me time.

Setelah menikah, meskipun 'me time' penting, namun ada aturan mainnya. Pertama, pastikan bahwa Anda dan pasangan sama-sama menyadari pentingnya 'me time' sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas 'we time'. Jadi buat kesepakatan, kapan Anda dan pasangan akan melakukan 'me time', tanpa menghilangan kebutuhan untuk memiliki waktu yang berkualitas dengan pasangan.

Kedua, setiap pasangan memiliki pertimbangannya sendiri mengenai kapan dan berapa lama waktunya. Karena itu mengkomunikasikan kebutuhan untuk diri sendiri juga jadi penting. Sekalian belajar untuk negosiasi karena pada saat memiliki anak bisa saling membantu untuk penuhi kebutuhan ini. Misalnya, saat Anda ingin memanjakan diri ke salon, pasangan menjaga anak di rumah dan bisa bergantian waktunya dengan pasangan.

Ketiga, pastikan 'me time' tidak dipergunakan sebagai pelarian dari masalah, tetapi sebagai cara untuk lebih mengenal dan mengembangkan diri sendiri. Jadi, memiliki waktu berkualitas untuk diri sendiri seharusnya bisa membuat Anda menjadi lebih santai, lebih bisa diandalkan dalam hubungan dan tentu saja memperkuat hubungan Anda.

Jadi, yang paling penting dilakukan adalah bagaimana kesepakatan Anda dan pasangan mengenai hal ini. Jangan sampai ada salah satu pihak ada yang merasa diabaikan, karena bagaimanapun tetap perlu ada kompromi dalam perkawinan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close