detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

'Kenapa Saya Belum Juga Menikah?'

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 28/02/2017 16:30 WIB
Kenapa Saya Belum Juga Menikah?Foto: thinkstock
Jakarta, Mbak Wulan, kenapa saya belum juga menikah ya? Umur saya sudah 37 tahun. Semua teman sebaya sudah menikah. Padahal saya adalah orang yang fashionable, berpendidikan dan punya pekerjaan yang cukup mapan. Terakhir kali pacaran aja SMA, Mbak. Saya juga jadi lupa gimana sih rasanya jatuh cinta. Di tempat ibadah dan tempat kerja saya bergaul dengan baik dengan lawan jenis, tapi tidak ada satupun yang tertarik pada saya. Jadi nggak mungkin dong, saya yang PDKT duluan.

Minta dijodohkan sama teman juga sudah saya lakukan. Tapi teman-teman tidak ada yang memberikan rekomendasi. Saya khawatir nantinya malah menikah karena mengejar status saja. Soalnya tekanan di keluarga dan lingkungan cukup tinggi. Menurut, Mbak, kenalan dengan laki-laki lewat media sosial untuk mendapat jodoh gimana? Cukup aman nggak ya?

Sheila (Perempuan, 37 tahun)

Jawaban

Dear Mbak Sheila,

Saya setuju dengan pernyataan Anda untuk tidak menikah hanya karena status saja, karena pernikahan membutuhkan kesiapan mental dan keterampilan untuk bisa mempertahankannya.

Kalau menurut Anda, apa yang membuat Anda belum menikah hingga saat ini? Apakah karena memang Anda memiliki keinginan atau kebutuhan yang rendah untuk menikah? atau karena Anda merasa tidak ada yang tertarik pada Anda dan Anda tidak mau menjadi orang pertama yang melakukan pendekatan? Hal ini yang perlu Anda tanyakan pada diri sendiri terlebih dahulu.

Menikah merupakan sebuah pilihan, sehingga memang ada orang-orang sampai pada titik tertentu tidak merasakan adanya kebutuhan untuk menikah. Misalnya, memang ingin fokus kepada karir terlebih dahulu, sudah mendapatkan banyak kebahagiaan dalam diri sendiri dan pertemanan yang ada saat ini, dsb. Lain halnya ketika memang ada keinginan menikah, namun ada kendala untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Jika Anda sudah menemukan jawaban bahwa memang Anda memiliki keinginan untuk menikah, maka berkenalan lewat media sosial bisa menjadi alternatif, terutama bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan waktu atau keterbatasan lainnya. Sekarang sudah banyak aplikasi kencan online yang bermunculan, cari tahu aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan Anda, karena ada juga aplikasi yang memang beralih fungsi hanya untuk mencari teman bersenang-senang.

Meskipun media sosial yang Anda gunakan sudah dipercaya aman, tetap perlu waspada ketika berkenalan. Seseorang bisa menampilkan hal yang berbeda di dunia maya dengan saat Anda bertemu langsung. Contoh sederhana, akan memang identitas atau gambaran fisik yang memang dianggap ideal, atau terasa seru saat chatting tapi ternyata ketika bertemu langsung pendiam. Tetap beri waktu untuk mengenal lebih satu sama lain, seperti bertemu secara langsung beberapa kali, sebelum memutuskan untuk menyikapi hubungan lebih serius.

Saya ingin menggarisbawahi pernyataan Anda bahwa 'ngga mungkin dong, saya yang PDKT duluan'. Menurut Anda, apa sih yang membuat perempuan jadi tidak boleh melakukan pdkt? Kalau Anda ingin berkenalan melalui media sosial, apakah cara ini juga yang ingin Anda terapkan? Menurut Anda, apakah cara ini bisa efektif untuk memulai perkenalan? Tentunya tidak, bukan.

Melakukan pendekatan bukan berarti seseorang jadi terkesan 'murahan', 'ngejar-ngejar', atau lebih parahnya lagi 'desperate' akan laki-laki, kok. Pendekatan berarti Anda terbuka untuk mencari tahu lebih jauh tentang orang yang berinteraksi dengan Anda. Saat ini, laki-laki juga kritis untuk mencari pasangan, lho. Mereka menginginkan hubungan yang bersifat timbal balik. Tidak hanya selalu pria yang diandalkan atau diharapkan untuk memulai segala sesuatu. Banyak hubungan yang berhasil untuk bertahan karena didasari atas adanya keingintahuan terhadap lawan bicaranya dan adanya keterbukaan.

Jika kata pendekatan terlalu 'menyeramkan', bisa diganti dengan memulai percakapan. Kalau ini masih sulit juga untuk dilakukan, barangkali ada hal lain yang lebih dalam yang terjadi di dalam diri Anda sehingga tanpa disadari Anda memang membatasi interaksi Anda dengan lawan jenis. Jika ini yang terjadi, konsultasi dengan psikolog klinis dewasa mungkin bisa menjadi salah satu alternatif.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit