detikhealth
Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

Menyikapi Suami Pemarah dan Mertua yang Suka Ikut Campur

Suherni Sulaeman - detikHealth
Rabu, 01/03/2017 16:18 WIB
Menyikapi Suami Pemarah dan Mertua yang Suka Ikut CampurFoto: admin
Jakarta, Saat kami pacaran, pria ini baik sekali sama saya dan sangat perhatian. Dia tidak pernah marah saat saya melakukan kesalahan kecil. Beberapa bulan pacaran, kami menikah. Saya langsung hamil dan kemudian melahirkan anak kami di rumah orang tua saya di daerah.

Setelah anak saya umur tiga bulan, cuti melahirkan saya berakhir dan saya harus kembali ke Jakarta. Semenjak ada anak kami, mertua sering datang ke rumah. Menurut saya dia terlalu ikut campur dengan pengasuhan anak kami. Saat saya protes ke suami, dia marah.

Sejak punya anak, saya merasa suami mulai berubah. Dia lebih cenderung membela ibunya yang sudah jelas-jelas sering cari perkara dengan saya. Kalau saya meminta bantuan suami untuk mencoba memberi nasihat ibunya, dia selalu tidak terima dan berbalik memarahi saya.

Saya capek, Mbak. Kantor saya jauh. Jadi kalau suami marah-marah, saya juga terpancing. Kami sering ribut di hadapan bayi kami dan baby sitter. Kalau marah, suami selalu menunjuk-nunjuk saya dan mengeluarkan kata-kata kasar.

Saya mencoba sabar, Mbak. Saya terima uang bulanan dari suami yang cuma cukup untuk bayar baby sitter sebulan, meskipun saya tahu gaji dia besar. Ternyata dia selalu memberikan gajinya untuk ibunya. Sementara cicilan rumah kami, yang mana atas nama suami saya, saya yang bayar.

Sering terpikir untuk bercerai, tapi saya kasihan sama anak saya. Lagi pula suami saya tidak akan membiarkan hak asuh jatuh di tangan saya, jika nanti kami bercerai. Rumah kami sudah seperti neraka.

Ivone (Perempuan, 25 tahun)

Jawaban

Dear Mbak Ivone,

Saya bisa memahami jika Anda merasa lelah karena selain menjadi istri dan ibu, secara tidak langsung Anda juga akhirnya menjadi pencari nafkah di dalam keluarga. Wajar juga, jika kelelahan dan kekesalan Anda membuat Anda ingin bercerai, apalagi Anda merasa suami tidak bisa mendengarkan Anda atau paling tidak berpihak pada Anda saat bermasalah dengan mertua. Sayangnya, perceraian terkadang bukan selalu jadi jalan keluar terbaik.

Masalah dalam perkawinan memang bisa saja terdiri dari banyak masalah yang berbeda sehingga terasa berat. Namun, bisa juga sebenarnya permasalahan tersebut saling berhubungan. Untuk itu, coba Anda runut kembali waktu terjadinya perubahan-perubahan tersebut. Buat beberapa patokan. Misalnya, sebelum menikah, setelah menikah (belum ada anak), setelah menikah (ada anak). Termasuk di dalamnya perubahan sikap kepada Anda, mulai memberi uang kepada mertua, dsb.

Berdasarkan cerita Anda, saya belum menangkap kapan jelasnya perubahan ini terjadi. Terkadang, kehadiran bayi juga bisa membuat seorang ayah baru stres. Bisa karena masalah belum siap, tidak tahu apa yang dilakukan, finansial, dsb. Cari tahu juga kondisi finansial dari mertua. Apakah ada hal-hal yang membuat suami jadi perlu memberikan hampir seluruh gajinya kepada mereka. Jika ternyata kondisi orang tuanya membutuhkan uang, ditambah dengan stres sebagai ayah baru, tidak heran jika ia menjadi mudah marah. Sayangnya, ia jadi melampiaskannya kepada Anda ketimbang menjadikan Anda menjadi teman bicara.

Terkait interaksi dengan mertua, seberapa dekat pasangan Anda dengan ibunya? Jika ia memang dekat dan selalu mendengarkan ibunya, protes secara langsung biasanya memang menjadi kontraproduktif. Ketimbang protes mengenai mertua, bagaimana jika Anda berdiskusi dengan pasangan tentang kesepakatan kalian dalam mengasuh anak? Jika ada yang tidak sesuai dengan ibu mertua, anggap saja sebagai masukan karena ia merasa lebih berpengalaman. Yang lainnya lakukan sesuai dengan kesepakatan Anda dengan pasangan.

5 tahun pertama pernikahan memang merupakan masa pasangan untuk saling beradaptasi terhadap kehidupan pernikahan. Terutama bagaimana mengatasi perbedaan ekspektasi. Jika Anda berdua sudah tidak bisa menemukan cara untuk mengatasi permasalahan, Anda bisa memulainya melalui orang yang dekat dengan suami Anda. Misalnya, anggota keluarga besar suami. Saat Anda bercerita, pastikan juga bahwa Anda sudah memberikan batasan bahwa yang Anda harapkan adalah penyelesaian permasalahan, bukan mencari sekutu untuk ikut marah terhadap suami Anda. Jika pertengkaran semakin meruncing, lebih baik konsultasi langsung dengan konselor pernikahan atau psikolog.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close