detikhealth

Ada Orang Bisa Anggap Wajar Karya Seni Berbau Kanibalisme, Kenapa?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 01/03/2017 17:00 WIB
Ada Orang Bisa Anggap Wajar Karya Seni Berbau Kanibalisme, Kenapa?Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Tiap orang punya persepsi masing-masing dalam menilai karya seni. Salah satunya perasaan wajar saat melihat karya seni dengan tema kanibalisme.

Seperti gelaran seni yang dibuat oleh seniman Natasha Gabriella Tontey dengan konsep makan mayit. Dalam gelaran seni itu, dilakukan semacam perjamuan makan malam yang menyajikan camilan berbentuk janin, potongan-potongan boneka bayi, dan sajian horor lain.

Dalam beberapa foto yang diunggah netizen di instagram, terlihat beberapa orang berpartisipasi dalam acara tersebut. Ya, mereka berperan seakan-akan 'memakan mayat' tersebut yang tak lain adalah makanan biasa yang disajikan di wadah berbentuk bayi.

Menanggapi hal ini, psikolog klinis dari Tiga Generasi, Sri Juwita Kusumawardhani MPsi., Psikolog atau Wita mengatakan konten disturbing bisa dianggap wajar oleh orang-orang dengan pemikiran yang tidak umum.

"Sehingga persepsi dalam melihat suatu hal juga berbeda dengan orang kebanyakan," kata Wita dalam perbincangan detikHealth.

Ia menambahkan, ada pula konten mengganggu sebut saja seperti konten di acara TV Show 'My strange addiction'. Misalnya, ada seseorang yang 'hobi' makan rambut, menurut Wita itu juga sebenarnya menjijikan. Tapi itu lebih merujuk ke kebiasaan, di mana ada pemicu yang membuat ia memulai kebiasaan tersebut.

"Namun, peristiwa perjamuan makan mayit itu lebih ke pemikiran yang tidak lumrah," kata wanita yang juga praktik di Lembaga Psikologi Terapan UI ini.

Baca juga: Kenali Bedanya Orang dengan Masalah Kejiwaan dan Orang dengan Gangguan Jiwa

Lantas, apakah kondisi orang seperti itu sama dengan orang yang gampang jijikan saat makan. Misalnya ketika menyantap hidangan dia mendengar kata feses, maka nafsu makannya langsung hilang?

Wita mengatakan, makan memang merupakan proses pemenuhan kebutuhan secara biologis. Namun, sebenarnya kita tidak hanya menikmati proses makannya saja tapi juga memanjakan mata dengan tampilan makanan tersebut.

"Bukan hanya penyajian, misalnya campuran berbagai warna pada satu hidangan. Dan kita pun menikmati aromanya sehingga kalau sedang flu misalkan, makanan seenak apapun rasanya nggak ada kan?" kata Wita.

Nah, bagaimana seseorang mengapresiasi hidangan dan norma yang dianut tentunya berpengaruh banyak. Wita mengatakan jika dia berasal dari keluarga atau budaya yang mengajarkan untuk menghormati proses makan dengan tidak kentut atau bersendawa saat makan misalnya, tentunya akan sangat mengganggu ketika bertemu dengan orang yang berbeda normanya.

Baca juga: Manfaat Lain Sinar Matahari, Bantu Pasien Jiwa Stabilkan Kondisinya

(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit