detikhealth

Kata Para Ibu Soal Karya Seni Berbau Kanibalisme dengan Objek Bayi

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 01/03/2017 18:10 WIB
Kata Para Ibu Soal Karya Seni Berbau Kanibalisme dengan Objek BayiFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Sebuah gelaran seni bernama 'makan mayit' besutan seniman Natasha Gabriella Tontey mengusung tema kanibalisme dan menjadikan bayi sebagai objeknya. Apa kata para ibu soal hal ini?

Ibu satu anak bernama Inez mengaku dirinya sebagai seorang ibu yang memiliki bayi berusia 17 bulan merasa sangat terganggu dengan konsep 'makan mayit' tersebut. Terlebih, bentuk makanan bahkan warnanya ada yang amat mirip dengan bayi. Di situ, Inez membayangkan seperti benar-benar makan bayi dan merasa jijik.

"Rasanya kok seakan-akan membunuh dan memakan bayi itu lumrah. Apalagi kalau yang melihat itu ibu yang pernah keguguran atau lagi hamil, pasti bakalan lebih sedih kan, jadi ingat anak sendiri. Sebagai ibu, sangat sangat nggak suka melihat itu, nggak etis," kata Inez.

Sementara, ibu lain bernama Nora mengatakan terganggu dengan hal tersebut. Sebab, bentuk bayi yang amat mirip membuatnya merasa melihat ada orang yang benar-benar makan bayi. Terlebih ketika melihat media sosial dan ada unggahan soal hal ini, membuat Nora amat terganggu.

"Terlepas dari apapun pertimbangan dia, ngelihat itu aku jadi keingetan anakku. Membayangkan bayi itu anakku, keponakanku. Meski bohongan, jadi ngerasa sedih, takut, terganggu. Ada kata-kata makan mayit juga jadi bikin makin terganggu," tutur Nora yang putranya berusia 2,5 tahun ini.

Sementara, pegawai swasta bernama Alia yang kini tengah hamil 13 minggu berpendapat kanibalisme saja sudah menjijikkan baginya, apalagi jika yang dijadikan objek adalah bayi.

Baca juga: Konten Berbau Kanibalisme, Lebih Picu Rasa Ngeri Atau Terganggu?

"Nggak kebayang kalau ada orang yang makan orang, apalagi bayi," ujarnya.

Terkait hal ini, psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi, Sri Juwita Kusumawardhani MPsi., Psikolog atau Wita mengatakan dilihat dari konten yang memang tidak lumrah, seseorang bisa merasa terganggu, terlepas dari kondisi belum punya anak atau baru mengalami keguguran.

Kondisi tersebut, kata Wita, tentunya membuat seseorang atau pasangan menjadi lebih sensitif. Sehingga, melihat kondisi ini tentunya akan memicu mereka mengingat kondisi yang dialami. Bagi pasangan yang baru mengalami keguguran (dalam kondisi berduka), meski belum melihat wujud sang bayi, bisa jadi mereka marah atau menyalahkan diri sendiri.

"Nah, jika melihat perjamuan makan mayit itu, bisa jadi mereka merasa tersinggung karena perjamuannya seperti 'merayakan' kematian janin. Hal ini serupa juga pada pasutri yang lama menanti anak. Kalau untuk yang masih punya bayi, kemungkinan ada campuran rasa marah, takut, miris atau sedih saat melihat perjamuan tersebut. Karena mereka tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi pada anak bayinya," jelas Wita.

Baca juga: Penjelasan Psikologi di Balik Karya Seni Berbau Kanibalisme(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit