detikhealth

'Divonis' Cuci Darah, Apakah Harus Dilakukan Seumur Hidup?

Nurvita Indarini - detikHealth
Kamis, 09/03/2017 12:31 WIB
Divonis Cuci Darah, Apakah Harus Dilakukan Seumur Hidup?Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta, Saat seseorang 'divonis' cuci darah oleh dokter, apakah itu artinya seumur hidup harus menjalani cuci darah? Yuk simak penjelasan dokter.

"Cuci darah itu seperti obat. Jadi seseorang dengan gagal ginjal, ibaratnya seperti knalpot yang mesinnya rusak, bahan berbahaya nggak bisa keluar. Karena itu mengeluarkannya dengan cuci darah," ujar dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dari RS Mayapada Lebak Bulus di sela-sela live chat 'Ginjal dan Permasalahannya' di markas detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, Rabu (8/3/2017).

Dengan cuci darah, sambung dr Akbari, maka ginjal yang keracunan cepat pulih. Nah, harus dicari tahu dulu penyebab kerusakan ginjal dari pasien tersebut. Pada gagal ginjal akut, dikelompokkan berdasarkan lokasi pada saluran kemih yang mengalami gangguan yaitu penyebab pre-renal, renal dan post-renal.

"Gagal ginjal pre-renal terjadi di luar ginjal, yang mana karena gangguan di organ lain seperti jantung, hati, maupun usus. Jika masalah di organ lain teratasi maka kondisinya bisa pulih. Hanya dengan cuci darah sekali, biasanya sudah membaik kalau masalah di organ lain sudah diobati," terang dr Akbari.

Baca juga: Benarkah Konsumsi Obat dalam Jangka Panjang Picu Gangguan Ginjal?

Pada gagal ginjal renal, maka ginjalnya yang bermasalah karena toksin. Ini bisa karena obat, misalnya penggunaan obat anti-nyeri yang berlebihan, obat transplantasi dan antibiotik. Kata dr Akbari, di obat-obat tertentu memiliki zat kontras yang bisa mengganggu ginjal, akan tetapi ini sifatnya hanya sementara.

"Yang bahaya itu pada orang yang gampang sekali konsumsi obat anti-nyeri, di mana minum obat anti-nyeri seperti makan kacang. Nyeri mens, langsung minum. Sakit kepala sedikit, langsung minum," lanjut dokter berkacamata ini.

Selain itu, pada orang dengan penyakit otoimun di mana ginjal menyerang tubuhnya sendiri, mereka harus menjalani cuci darah terus-menerus. Kondisi otoimun ini penyebabnya masih belum diketahui.

"Pada gagal ginjal post-renal, terjadi disaluran kencing setelah ginjal, disebabkan faktor-faktor yang mempengaruhi aliran urine, karena ada sumbatan di salurannya," tutur dr Akbari.

Untuk itu dokter akan mengatasinya antara lain dengan membuat saluran baru ataupun membersihkan batu-batu di saluran yang menyumbat.

"Jadi cuci darah itu tergantung penyebabnya masing-masing. Cuci darah itu untuk membuang racun akibat kegagalan fungsi ginjal, bukan memperbaiki ginjal," sambung dr Akbari.

Baca juga: Jangan Malas Minum Air Putih, Ginjal Bisa Menderita

(vit/up)


 
Foto Terkait

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close