detikhealth

Korban Meninggal Akibat Wabah Flu Burung di China Tembus 161 Orang

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 13/03/2017 19:03 WIB
Korban Meninggal Akibat Wabah Flu Burung di China Tembus 161 OrangFoto: thinkstock
Jakarta, Wabah flu burung H7N9 di China masih berlanjut. Otoritas kesehatan setempat menyebut korban meninggal akibat wabah flu burung kali ini melebihi rekor terburuk sejak tahun 2009.

Laporan pada bulan Februari 2017 menyebut ada 160 kasus infeksi flu burung, dengan 61 di antaranya meninggal dunia. Jika ditotal sejak pertama kali korban jatuh pada Oktober tahun lalu, sudah ada 161 korban yang dipastikan meninggal akibat wabah ini.

"Pada bulan Februari tercatat ada 61 orang yang meninggal, lebih sedikit daripada bulan Januari dengan catatan 79 orang. Namun angka ini jauh lebih tinggi sejak virus pertama kali diidentifikasi pada 2013 lalu," demikian pernyataan dari National Health and Family Planning Commission, dikutip dari Reuters.

Tingginya angka kematian ini membuktikan penyebaran virus flu burung H7N9 pada manusia selama ini memang tidak menimbulkan gejala khusus. Hal yang sama juga terlihat pada unggas, di mana virus H7N9 tidak memiliki gejala seperti virus flu burung pada umumnya.

Sebagai perbandingan, 147 orang meninggal pada tahun 2010 akibat virus flu burung H1N1. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan investigasi soal mengapa penyebaran kasus ini masih tinggi terus berjalan.

"Situasinya masih terus berjalan. Lembaga kami di China masih melakukan investigasi pada kasus-kasus yang telah dilaporkan," tulis WHO.

Baca juga: Korban Flu Burung Mulai Berjatuhan di China

"Investigasi masih berlangsung jadi terlalu prematur bagi kita untuk menentukan penyebab peningkatan kasus. Sejauh ini yang telah kita ketahui adalah kebanyakan manusia terinfeksi H7N9 akibat kontak dengan unggas atau lingkungan yang tercemar, termasuk pasar burung," lanjutnya.

Kebanyakan dari kasus yang dikonfirmasi datang dari daerah Selatan dan pesisir China. The Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) di University of Minnesota memperkirakan setidaknya di musim dingin ini ada 347 kasus infeksi H7N9 di China.

"Salah satu faktor penting dari munculnya gelombang peningkatan kasus infeksi H7N9 pada manusia di China adalah karena kedekatan dengan pasar burung," kata ahli virus Ian Mackay dari University of Queensland.

"Untuk musim ini tampaknya ada respons yang lebih lambat juga sehingga berdampak pada lebih banyak manusia yang terekspos," pungkas Ian.

Baca juga: Virus Flu Burung yang Landa China Disebut Lebih Ganas dan Sulit Dideteksi (mrs/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit