Robert Koch: Penemu Bakteri TBC

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

Ragu Menikah karena Terbayang Pria Lain

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 16/03/2017 16:23 WIB
Ragu Menikah karena Terbayang Pria LainFoto: Thinkstock
Jakarta, Selamat sore Mbak, saya berencana untuk menikah tahun depan dengan seorang laki-laki yang telah berpacaran dengan saya selama tujuh tahun. Dia adalah seorang lelaki baik-baik, cukup mandiri, dan mencintai saya. Pada saat memutuskan untuk bertunganan dengannya tiga tahun lalu, saya merasa cukup yakin untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Setelah bertunangan, kami sempat menjalani hubungan jarak jauh selama dua tahun. Pada saat itu saya sempat dekat dengan pria lain dan sempat berkencan dengannya beberapa kali tanpa sepengetahuan tunangan saya.

Tahun lalu saya kembali ke kota asal saya dan tunangan saya mengajak untuk menikah. Saya menyetujuinya, mengingat hubungan kami telah berlangsung cukup lama. Namun saya seringkali merasa stres dan tertekan pada masa-masa persiapan perikahan, mengingat saya masih memiliki perasaan dengan pria lain. Selain itu, saya merasa masih ingin hidup bebas dan bereksplorasi dengan hidup saya.

Apa yang seharusnya saya lakukan? Apa saya masih bisa melangsungkan kehidupan perkawinan yang sehat? Terimakasih Mbak.

Cindy (Perempuan, 25 tahun)

Jawaban

Dear Mbak Cindy,

Kecemasan sebelum menikah sebenarnya sesuatu yang sangat wajar untuk terjadi. Maka dari itu butuh kesiapan mental untuk menikah agar bisa meminimalisir kecemasan-kecemasan yang ada. Pertanyaannya sekarang adalah, Anda cemas karena ingin menikah dengan orang lain, atau memang pada dasarnya Anda belum siap untuk menjalin komitmen pernikahan?

Jika Anda cemas karena ingin menikah dengan orang lain, coba renungkan terlebih dahulu, apa yang membuat Anda ingin menikah dengan orang tersebut? Apakah memang karena Anda memang merasa lebih nyaman dengan dia? Apakah Anda lebih dapat berkomunikasi dengan dia? Apakah hubungan ini membuat Anda tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik lagi setiap harinya? Dsb.

Biasanya hubungan perselingkuhan memang terasa lebih baik daripada hubungan yang sedang dijalani. Padahal belum tentu jika hubungan diakhiri dan menjalin hubungan yang serius dengan selingkuhan, hal yang sama akan dirasakan. Renungkan juga, apa yang membuat Anda berselingkuh? Biasanya tidak mudah memang mengidentifikasi hal ini karena pelaku perselingkuhan juga terkadang tidak mengetahui pasti alasannya. Namun, bisa dimulai dengan pertanyaan, apa yang saya dapatkan saat bersama dia dan tidak saya dapatkan dari pasangan saya? Biasanya perselingkuhan bermula dari adanya pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi dari pasangan, meskipun tidak selalu.

Hal di atas dapat menjadi modal untuk Anda lebih waspada mengenai kebutuhan-kebutuhan dalam diri Anda sendiri, yang dapat berpotensi untuk terjadinya perselingkuhan kembali, dengan siapapun Anda nantinya. Misalnya, ternyata Anda memang sulit menjalin hubungan jarak jauh, karena Anda membutuhkan adanya kedekatan fisik dengan pasangan sebagai dasar membangun kedekatan emosional, dsb. Pilihannya adalah Anda memang terus mengikuti pasangan dimanapun ia bertugas, dengan segala konsekuensinya. Atau Anda dan pasangan belajar untuk menjalin hubungan jarak jauh yang dapat memfasilitasi kebutuhan kedua belah pihak.

Pernikahan sebenarnya tidak menjamin Anda jadi tidak bisa bebas dan mengeksplorasi diri sendiri. Bisa jadi sebaliknya, pernikahan bisa membuat Anda mengeskplorasi diri Anda dengan peran-peran yang baru muncul nantinya. Maka dari itu, penting untuk membicarakan harapan masing-masing dalam pernikahan sebelum pernikahan. Misalnya, masih ingin melanjutkan sekolah, sehingga keinginan untuk memiliki anak akan ditunda sampai kuliah selesai. Bagaimana membagi peran dalam rumah tangga nantinya, bagaimana membagi waktu agar masih tetap memiliki waktu luang untuk diri sendiri (entah melakukan hobi atau bertemu dengan teman-teman), dsb.

Pernikahan yang sehat tentu saja bisa didapatkan, dan untuk mendapatkan pernikahan yang sehat tentu dibutuhkan kerja keras dari kedua orang yang berkomitmen di dalamnya. Bahagia dalam pernikahan tidak selalu berasal dari hal-hal yang sudah pasti membahagiakan, bisa juga berasal dari kemampuan kalian berdua menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Maka dari itu, pernikahan membutuhkan banyak kesiapan. Tidak hanya persiapan mental, tetapi juga fisik, finansial dan hukum. Selain itu, tentu saja kesiapan untuk berkomitmen dengan satu orang pasangan.

Jadi, sudah siapkah Anda untuk menikah?

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit