Robert Koch: Penemu Bakteri TBC

Kelainan Bawaan Ancam Nyawa Bayi dan Balita di Indonesia

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 20/03/2017 14:37 WIB
Kelainan Bawaan Ancam Nyawa Bayi dan Balita di IndonesiaFoto: thinkstock
Jakarta, Kelainan bawaan menjadi salah satu masalah baru bagi kesehatan bayi dan balita di Indonesia. Bahkan menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kelainan bawaan bisa menggeser penyakit infeksi sebagai salah satu penyebab kematian bayi dan balita.

Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, dr Eni Gustina, MPH, mengatakan kelainan bawaan berkontribusi sebesar 1,4 persen terhadap kematian bayi usia 0-6 hati dan 18,1 persen terhadap kematian bayi 7-28 hari. Hal ini jauh lebih tinggi daripada 20 tahun lalu di mana penyebab kematian utama pada bayi dan balita adalah penyakit infeksi.

"Kalau berdasarkan data, penyebab kematian bayi dan balita pada tahun 1992 itu masih diare, campak, infeksi saluran napas, malaria, campak dan difteri. Kelainan bawaan belum termasuk dalam 10 besar penyebab kematian bayi dan balita," tutur dr Eni dalam temu media Hari Kelainan Bawaan di Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

"Tapi pada tahun 2007, kelainan bawaan sudah masuk 10 besar dengan angka 4,9 persen. Memang masih ada infeksi seperti tetanus, meningitis, diare dan pneumonia. Hanya saja masalah komplikasi kelainan bawaan seperti berat badan lahir rendah, asfiksia dan lainnya juga mencuat," tambah dr Eni lagi.

Baca juga: Ini Pesan WHO untuk Cegah Kasus Kelainan Bawaan

Hasil pelaporan data kelainan bawaan dari 19 rumah sakit di Indonesia sejak 2014 hingga 2016 menunjukkan ada ratusan kasus yang memenuhi kriteria sebagai kelainan bawaan. Kelainan bawaan terbanyak adalah talipes (20,6 persen), bibir sumbing, langit-langit mulut bolong dan neural tube defects (20 persen) dan atresia ani (10,1) persen.

dr Eni mengatakan bahwa tantangan akibat kelainan bawaan tidak hanya terkait dengan kematian bayi, namun juga dampak psikologis pada keluarga. Hal ini akan memengaruhi kualitas hidup pasien , keluarga dan berisiko menimbulkan beban emosional akibat tingginya stigma dan diskriminasi.

Oleh karena itu bertepatan dengan Hari Kelainan Bawaan pada 3 Maret lalu, Kemenkes mengajak masyarakat melalui Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) untuk mencegah terjadinya kelainan bawaan. Meski 50 persennya terjadi tanpa penyebab yang jelas, namun pola hidup sehat seperti olahraga teratur, makan buah dan sayur serta pencegahan dan deteksi dini penyakit.

"Hindari juga merokok dan mengonsumsi alkohol. Jauhi obat-obatan teratogenik. Selain itu sebisa mungkin jangan sampai tercemari merkuri, timbal, arsen dan zat organophosphate pada pestisida," tutupnya.

Baca juga: Semangat Bocah 3 Tahun Ikut Maraton Meski Idap Kondisi Langka (mrs/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit