Robert Koch: Penemu Bakteri TBC

Tes Darah, Metode Paling Baru untuk Cek Potensi Autisme

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 20/03/2017 16:03 WIB
Tes Darah, Metode Paling Baru untuk Cek Potensi AutismeFoto: Thinkstock
Jakarta, Autisme masih dianggap sulit terdiagnosis karena baru dianggap mencurigakan saat gejalanya muncul. Di sejumlah negara, metode deteksinya pun masih jarang digunakan.

Tetapi bukan berarti peneliti berhenti mencoba mengembangkan metode terbaik untuk mempercepat diagnosis autisme. Salah satunya dilakukan tim peneliti dari AS.

Adalah peneliti dari Rensselaer Polytechnic Institute, New York yang pertama kalinya mengembangkan tes darah untuk mendeteksi autisme.

Tes darah ini digunakan untuk menganalisis biomarker atau penanda biologis yang muncul sebelum adanya perubahan perilaku pada anak dengan risiko autisme.

Juergen Hahn dan timnya menggunakan sampel darah yang dikumpulkan dari 83 pasien autisme berusia 10 tahun dari Arkansas Children's Hospital dan membandingkannya dengan 76 anak sehat.

Ternyata terjadi perbedaan proses metabolik yang menonjol pada anak dengan autisme dan yang tidak. Hal ini terlihat dari konsentrasi senyawa khusus yang dapat terlihat dari sampel darah.

Senyawa yang dihasilkan dalam proses metabolik tersebut antara lain FOCM (folate-dependent one-carbon metabolism) dan TS (transulfuration). Pada anak dengan autisme, keduanya mengalami perubahan signifikan.

Tak tanggung-tanggung, peneliti mengklaim metode tersebut dapat membedakan anak dengan risiko autisme dan yang tidak dengan tingkat akurasi mencapai 98 persen.

"Kami kira ini satu-satunya metode yang dapat membedakan apakah seorang anak berada dalam spektrum autisme atau tidak. Kami belum melihat ada metode lain yang memiliki akurasi seperti ini," kata Hahn seperti dilaporkan Science Daily.

Baca juga: Deteksi Dini Autisme di Indonesia Masih Sulit, Bisa Jadi Ini Sebabnya

Sejauh ini hanya ada beberapa metode deteksi autisme yang dikenal. Yang terbaru adalah dengan melakukan scan otak pada anak dengan risiko autisme. Terobosan lainnya adalah menggunakan tes visual atau penglihatan. Sejumlah peneliti juga meyakini risiko autisme pada anak bisa terlihat dari kemampuan bicaranya dan caranya mencium aroma tertentu.

Anak dengan autisme dikatakan tak bisa membedakan mana aroma yang harum dan mana yang tidak. Bahkan dari percobaan diketahui bahwa makin parah gejala autismenya, si anak makin besar kecenderungannya untuk menghirup aroma yang tidak sedap lebih lama.

Baca juga: Diagnosis Sulit, Banyak Anak dengan Autisme Tidak Tertangani dengan Baik(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit