detikhealth

Gangguan Jiwa Skizofrenia di Balik Pengakuan Sabar Nababan Sebagai Tuhan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 21/03/2017 11:35 WIB
Gangguan Jiwa Skizofrenia di Balik Pengakuan Sabar Nababan Sebagai TuhanFoto: Sabar Nababan/Facebook Sabar Nababan
Jakarta, Mengaku Tuhan dari sebuah agama baru, seorang pria bernama Sabar Nababan diperiksa polisi. Pria ini belakangan diketahui mengidap skizofrenia (schizophrenia), bahkan dikabarkan sampai berobat ke Denmark.

Perlu dipahami bahwa ada dua gejala yang paling khas dari pasien skizofrenia, yaitu adanya halusinasi dan delusi atau waham.

Halusinasi terjadi karena pasien skizofrenia mengalami gangguan penilaian realita, artinya ia tidak bisa membedakan mana yang real atau benar-benar terjadi dan yang tidak, atau semuanya dianggap sama benarnya.

Sedangkan delusi adalah suatu keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan latar belakang sosial, pendidikan dan budaya pasien tetapi dipertahankan secara kukuh oleh pasien. Kemudian pasien memiliki persepsi baru tentang dirinya atau hal-hal yang berkaitan dengannya.

Hal ini disampaikan dr Andri, SpKJ dalam tulisannya di detikHealth tentang skizofrenia beberapa waktu lalu. Namun untuk bisa sampai pada persepsi tertentu, semisal pemikiran bahwa dirinya adalah Tuhan atau sesuatu yang bukan jati dirinya, pasien skizofrenia biasanya mengalami berbagai sensasi terlebih dahulu.

dr Andri mengatakan, sensasinya bisa berupa pendengaran (halusinasi auditorik) berupa bisikan, penglihatan (halusinasi visual), penciuman (halusinasi olfatorik dan perabaan (halusinasi taktil) yang sebenarnya tidak nyata.

"Pada banyak kasus skizofrenia, yang paling sering dialami adalah gangguan halusinasi yang bersifat pendengaran," ungkapnya.

Baca juga: Ini Penjelasan di Balik Halusinasi Pengidap Skizofrenia

Persoalannya, pada kasus Sabar, tidak dijelaskan dengan pasti sensasi seperti apa yang dialami pria asal Mataram ini hingga kemudian mendorongnya untuk mengaku sebagai Tuhan.

Yang pasti halusinasi dan delusi ini tidak disadari oleh pasien skizofrenia. Mereka juga merasa tidak mengalami gangguan apapun, bahkan orang-orang di sekitarnya seringkali sulit meyakinkan yang bersangkutan untuk berobat atau menyadari apa yang sedang terjadi.

"Pasien merasa halusinasi itu memang benar ada dan tidak bisa dipatahkan oleh orang sekitarnya. Pasien juga kesulitan dalam mengendalikan halusinasi tersebut sehingga menimbulkan gangguan fungsional pada pasien," lanjutnya.

Baca juga: A Beautiful Mind: Si Genius yang Hidup di antara Halusinasi dan Delusi

Kapolres Mataram, AKBP Muhammad mengatakan, kepastian terkait status skizofrenia Sabar diperoleh dari pemeriksaan RS Jiwa Provinsi Nusa Tenggara Barat.

"Kita mendapatkan surat dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB, yang isinya bahwa yang bersangkutan mengidap skizofrenia sejak 2015," ujarnya.

Selepas dimintai keterangan terkait pengakuannya, pihak kepolisian tidak memberikan proses hukuman apapun terhadap pria ini. Namun aktivitas Sabar berikut agama baru yang dianutnya akan terus dipantau.(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit