detikhealth

Doctor's Life

Suka Duka dr Milka Ajari Masyarakat di Tembagapura Pola Hidup Sehat

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 27/03/2017 07:35 WIB
 Suka Duka dr Milka Ajari Masyarakat di Tembagapura Pola Hidup SehatFoto: Radian Nyi Sukmasari / detikHealth
Jakarta, Sejak tahun 2006, dr Milka Tiandra, MPH sudah tinggal di Tembagapura, Papua. Sejak itu pula, dr Milka bertekad mengabdikan dirinya demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat setempat. Suka duka pun dialami dokter kesehatan masyarakat di RS Wa Banti, Banti, Tembagapura ini.

dr Milka mengisahkan, dulunya banyak masyarakat terutama di Desa Banti dan sekitarnya yang belum menerapkan kebersihan. Sebut saja anak-anak bahkan mama-mama (ibu-ibu) masih banyak yang berceceran ingus di hidungnya dan mereka merasa biasa saja. Namun, perlahan-lahan dan berbekal kesabaran serta ketelatenan, dr Milka dan satu orang stafnya masuk keluar kampung bahkan yang berada di pegunungan untuk memberi edukasi pada masyarakat.

"Karena memang sudah panggilan hati ya. Senang sekali ketika kita bisa melihat ada perubahan yang mereka lakukan. Memang nggak mudah, nggak instan. Kita harus terus mendampingi dan terus menerus memberi informasi," kata dr Milka, ditemui di RS Wa Banti, Tembagapura, baru-baru ini.

Awalnya, memang dr Milka mesti meminta bantuan tokoh agama atau adat setempat. Terbukti, kini masyarakat sudah terbiasa dengan hal-hal terkait kesehatan. Usaha mengubah perilaku terkait kebersihan juga dilakukan dr Milka melalui pembentukan kader di tiap kampung. Termasuk kader posyandu 10 orang di tiap kampung, juga kader TB dan HIV yang berjumlah 10 orang di tiap kampung. Para kader, kata dr Milka terdiri dari anak muda, tokoh kampung, juga ibu-ibu. Dengan bantuan kader, perilaku hidup masyarakat mulai mengalami perubahn.

Contohnya, sudah jarang sekali ditemukan anak atau mama yang ingusan dalam keseharian. Mereka pun sudah sering mandi sehingga lebih wangi. Bahkan, di RS Wa Banti, ketika ada satu anggota keluarga yang sakit dan anak-anak menjenguk kemudian tiba jam makan, dengan tertib si anak akan antre untuk mencuci tangan di wastafel. Padahal, dulunya jangankan cuci tangan, saat hendak dirawat di RS mereka belum mandi. Jika begitu, dr Milka akan meminta mereka mandi dulu.

Edukasi kesehatan juga dilakukan dr Milka ke suku-suku yang tinggal di pegunungan. Untuk menjangkaunya, mau tak mau dr Milka harus berjalan kaki, dengan menggunakan sepatu boot dengan waktu tempuh bervariasi sekitar satu sampai dua jam. Menjangkau daerah pegunungan juga dilakukan melalui program dokter terbang yang diadakan 4 kali setahun.

Dalam program yang didanai Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) itu, dr Milka datang ke daerah yang sulit terjangkau bersama satu stafnya dan staf Dinas Kesehatan menggunakan chopper, kemudian berjalan kaki. Di desa sana, dr Milka bisa tinggal 3 sampai 5 hari di rumah masyarakat ketika memang ada kendala cuaca.

"Dulunya di sana anak-anak nggak dapat imunisasi. Makanya dengan kunjungan kita, kita juga meningkatkan coverage imunisasi. Awal memang banyak yang nggak mau datang, termasuk untuk memeriksakan kesehatan. Tapi makin ke sini sudah banyak yang mau anaknya diimunisasi dan mereka memeriksakan kesehatannya. Misalnya dia ngeluh badannya demam dan pusing, itu nanya, saya kenapa ya. Jadi awareness mereka sudah ada," tambah wanita kelahiran Sam Ratulangi, 22 Oktober ini.

Suka duka saat mengabdikan diri di Tanah Papua pastinya dialami dr Milka. Salah satu yang membuat hatinya terenyuh ketika ia merasa amat berguna untuk masyarakat di sana. Kala itu, ada pasien laki-laki yang menyebut dr Milka dengan sebutan anak. Memang, dalam keseharian, dr Milka juga kerap disebut Mama oleh anak-anak atau mereka yang usianya lebih muda.

Baca juga: 'Keasyikan' Mengabdi, dr Agus Tak Pulang-pulang dari Maluku

"Ada bapak-bapak yang ngomong 'Anak dokter mau datang ke sini, saya lihat anak dokter saja sudah sembuh'. Itu bener-bener mengena sekali di hati saya. Rasa senang saya tidak bisa terbayar oleh apapun. Kemudian, ada kepala suku Desa Banti 1 diisolasi karena kena tuberkulosis. Terus saya ditanya kenapa nggak jenguk kepala suku. Saya katakan sebetulnya memang nggak boleh karena sedang diisolasi karena nanti menular. Kalau terpaksa sekali ya pakai masker kitanya. Akhirnya mereka nurut karena memang mereka itu tulus ya, mau berubah," kata dr Milka.

Selain itu, ada pula pengalaman pahit yang dialami dr Milka. Di tahun 2007 sampai 2008, dr Milka mengambil pendidikan S2 Kesehatan Masyarakat di Universitas Gadjah Mada. Untuk itu, dr Milka bolak-balik ke Tembagapura-Yogyakarta. Saat itu, diduga ada yang menghasut, warga berpikir jika dr Milka meninggalkan mereka karena naik pangkat dan membawa uang masyarakat. Masyarakat berpikir, kerajinan mereka dalam membantu dr Milka 'dibalas' dengan perginya dr Milka begitu saja.

"Jadi mereka merasa ditinggal. Pas saya pulang, ada itu istrinya kepala suku, saya paranin, dia buang muka. Saya tanya 'Mama kau kenapa?'. Kata dia 'Saya marah sama kau, saya mau pukul kau. Kau pergi bawa uang masyarakat'. Saya diam saja awalnya kemudian saya kumpulkan mereka dan saya marah-marah. Saya katakan 'Saya tidak pergi bawa uang kalian. Kalau saya mau kaya, saya nggak ada di sini. Saya di sini itu karena saya sayang sama kalian'. Ya sudah besoknya mereka biasa saja karena karakter mereka ini kalau sudah selesai masalahnya ya sudah, nggak dendam," kata dr Milka.

Pernah pula ada kader yang ikut pelatihan tapi tidak izin pada suaminya. Alhasil ketika pelatihan berlangsung si suami datang dan marah-marah pada dr Milka. Tapi lagi-lagi, dengan berbicara dr Milka bisa memberi pengertian pada si suami. Mengabdikan diri di Tembagapura bukan berarti tanpa risiko. Kadang kala, ketika sedang terjadi perang suku atau bahkan marga, dr Milka kesulitan mencapai RS. Bahkan, pernah di tahun 2007 saat terjadi perang selama 5 bulan, dr Milka dan staf RS lain harus lewat sungai untuk menuju RS atau dengan pengawalan petugas keamanan.

"Kalau untuk ambulans, suku yang lagi perang ini membolehkan kami lewat. Karena di sini juga daerah tebing jadi potensi longsor ada ya. Kalau longsor ya terpaksa ke mana-mana kita jalan kaki," ujar dr Milka.

Baca juga: Idap ADHD Sejak Kecil, dr Dharmawan Kini Jadi Psikiater(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit