detikhealth

Doctor's Life

dr Toni dan Ceritanya Sering Evakuasi Pasien Lewat Sungai karena Longsor

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 29/03/2017 09:10 WIB
 dr Toni dan Ceritanya Sering Evakuasi Pasien Lewat Sungai karena LongsorFoto: Radian Nyi Sukmasari / detikHealth
Tembagapura, Sejak November 2015 dr Toni Kustolani, MM (50) menjadi koordinator RS Wa Banti, Banti, Tembagapura. Suka duka pun ia alami saat melayani masyarakat. Seperti yang paling dikenang dr Toni yakni ketika terjadi longsor dan perang antar warga di sana.

Sejak dua tahun tinggal di Tembagapura, sudah beberapa kali pula longsor terjadi. Saat ada longsor, jembatan pun roboh. Otomatis, untuk pergi ke RS atau pulang, harus jalan kaki dan melewati sungai. Bahkan, pernah dr Toni dan staf RS mengevakuasi pasien menggunakan tandu melewati sungai.

"Jadi kan pasien kita tandu nih, itu juga kita pasang tali, kita pegangan juga ke tali. Ya, supaya pasiennya nggak sampai jatuh ke sungai kan," kata dr Toni saat berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.

Baca juga: dr Elisna SpP dan Caranya Mengedukasi Pasien Lewat Banyolan

Kemudian, pengalaman berkesan lainnya bagi dr Toni yakni ketika terjadi perang antar warga tahun 2007 di mana ia dan tim harus menembus daerah perang. dr Toni mengatakan, saat itu ia harus melewati jembatan yang menjadi perbatasan dia daerah perang kala itu.

"Jadi kita harus lewat situ. Caranya dikawal sama polisi. Memang sih mereka nggak ganggu mobil RS cuma sekali pernah mungkin mereka juga butuh, diambil itu bahan makanan dari mobil kita,," kata lulusan Pendidikan S2 Manajemen Rumah Sakit di Universitas Gadjah Mada (Long Distance Learning) ini.

Selama bertugas di RS Wa Banti, beragam karakter masyarakat ditemui dr Toni. Misalnya suku Amungme yang tinggal di Banti, mereka cenderung lebih sopan, lembut, dan terbuka. Tapi, ada pula warga lain yang punya temperamen buruk, lebih galak, atau ketika dinasihati hanya iya-iya saja tapi tidak mengindahkan. Salah satu kesulitan yang kerap dihadapi dr Toni yaitu ketika pasien diminta mengisi informed consent. Pastinya, hal itu tidak bisa sembarangan.

Tapi, kadang meski kondisi pasien kritis, ada keluarga yang mesti menunggu keputusan ayah atau paman pasien. Kesulitan ini juga kerap dialami tenaga medis ketika pasien dirujuk ke RS Tembagapura. Selama ini, dr Toni bekerja di International SOS. Nah, di Papua hanya RS Wa Banti-lah yang dikelola oleh International SOS di bawah Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK).

"Kalau di RS kan kita bisa banyak belajar. Ya meski sebenarnya saya di Papua sudah sejak tahun 2001, kemudian dirotasi," kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran ini,

Di Banti sendiri tidak ada sinyal telepon genggam. Namun, untuk berkomunikasi terutama jika ada keadaan darurat, bisa digunakan fix phone yang menggunakan wireless. Setiap tahun, dr Toni juga rutin mudik ke Bogor. Di Tembagapura pun, dr Toni tinggal bersama istri dan anak pertama serta ketiganya.

Baca juga: Bisa Merawat Orang Sakit Maupun Sehat, dr Dian Bahagia Jadi Dokter Gizi(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close