detikhealth

Jangan Salah, Anemia Juga Bisa Terjadi pada Anak-anak

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 29/03/2017 18:35 WIB
Jangan Salah, Anemia Juga Bisa Terjadi pada Anak-anakFoto: thinkstock
Jakarta, Di usia 6 bulan, anak sudah bisa mengalami anemia. Untuk mencegah terjadinya anemia pada anak, pemenuhan zat besi sejak ibu mengandung penting dilakukan.

Seperti penuturan ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Prof Dr Endang L Achadi, di usia 6 bulan anak sudah bisa anemia dan jika sampai usia 2 tahun kondisinya tidak segera ditangani, berbagai risiko bisa dialami anak. Normalnya, kadar Hb pada balita yakni 11 gram/dl.

"Itu akan bersifat permanen, diikuti penurunan IQ 10-12 poin. Maka, kalau anak anemia harus segera diatasi. Gejala anemia sama saja pada anak. Dia mudah letih, lemas, lesu, kalau pucat itu berarti sudah berat anemianya," tutur Prof Endang di sela-sela Konferensi Pers 'Indonesia Bebas Anemia' di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017).

Untuk mencegah anak anemia, Prof Endang menekankan bahwa ibu hamil tidak boleh mengalami defisiensi zat besi. Pasalnya, ketika ibu hamil mengalami defisiensi zat besi, maka si bayi juga akan mengalami kondisi serupa. Nah, ketika bayi lahir dalam kondisi kekurangan zat besi, kata Prof Endang, dia akan mudah terkena anemia.

Agar ibu tidak kekurangan zat besi, maka perlu mengonsumsi makanan kaya zat besi, pastinya dengan prinsip asupan gizi seimbang. Jika hendak melakukan pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb) untuk menentukan anemia atau tidak menurut Prof Endang boleh-boleh saja.

Baca juga: Tak Cuma Anemia, Kurang Zat Besi Saja Tubuh Mudah Lesu

"Atau kalau mau konsumsi tablet tambah darah (TTD). Program pemerintah kan sudah ada juga, ibu hamil diberi TTD setiap hari. Ini nggak bahaya. Sebab, tubuh punya autoregulasi. Kalau sudah cukup zat besinya dan ada asupan, akan dibuang. Tapi kalau kurang, akan diserap," tutur Prof Endang.

Selain itu, lanjut Prof Endang, anemia pada anak juga bisa terjadi karena faktor genetik. Misalnya, yang bersangkutan mengidap thalassemia sehingga memperbesar risiko pecahnya sel darah merah.

Mencegah kekurangan zat besi pada ibu hamil bisa dilakukan sejak remaja putri. Di mana tiap satu bulan sekali ia diberi suplemen zat besi. Memang, bisa ada efek berupa rasa tidak nyaman di perut, sakit, mual, atau feses berwarna hitam.

"Tapi ini tidak bahaya ya. Bisa diakali dengan mengonsumsi suplemennya malam sebelum tidur jadi kan nggak terasa efeknya," kata Prof Endang.

Baca juga: Sering Pusing dan Lemas? Awas, Bisa Jadi Kelebihan Sel Darah

Dikutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala yang paling sering ditemukan jika anak kekurangan asupan zat besi yakni pucat yang berlangsung lama (kronis) dan dapat ditemukan gejala komplikasi seperti lemas, mudah lelah, mudah infeksi, menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi dan gangguan perilaku.

"Sudah telat sebenarnya jika anak sudah tampak pucat. Segera bawa ke dokter, cek darah sambil tetap evaluasi sumber zat besi yang biasa diberikan pada anak. Berikan sumber zat besi seperti hati dan daging sapi misalnya 2-3 kali dalam seminggu, dengan porsi masing-masing minimal 75-100 gram," kata dr Yoga Devaera, SpA(K) dari RSIA Brawijaya Kebayoran Baru, beberapa waktu lalu.

Fungsi zat besi bagi tubuh yang paling penting adalah dalam perkembangan sistem saraf. Oleh sebab itu, kekurangan zat besi sangat memengaruhi fungsi kognitif, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi.

Pada anak usia 1 hingga 2 tahun, defisiensi zat besi bisa disebabkan oleh beberapa hal. Selain karena tidak mendapat makanan tambahan yang memadai, kekurangan zat besi juga bisa muncul karena anak minum susu murni berlebih, obesitas dan memang kebutuhannya yang kian meningkat karena adanya infeksi berulang.

(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close