detikhealth

True Story

Kisah Fahry, Balita Asal Cilegon yang Kena Radang Otak dan Gizi Buruk

Muhammad Iqbal - detikHealth
Sabtu, 01/04/2017 08:03 WIB
Kisah Fahry, Balita Asal Cilegon yang Kena Radang Otak dan Gizi BurukFoto: Muhammad Iqbal/detikcom
Cilegon, Muhammad Fahry Junior, bocah berusia 4,5 tahun asal Lingkungan Dalingan, Kelurahan Kebon Dalam, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon hanya bisa terbaring di kasur dengan perawakannya yang kurus. Berat badannya hanya 11 kilogram.

Fahry didiagnosis gizi buruk, berat badannya pun terus menyusut. Penyakit itu dideritanya sejak berusia tiga bulan. Selain gizi buruk yang menggerogoti tubuhnya, Fahry juga mengalami radang otak, paru-paru, epilepsi, dan schabies (penyakit kulit).

"Kalau gizi buruk mah dari pertumbuhan umur dua tahun ke sini, timbangannya nggak naik-naik, kalau di umur 4 tahun ini paling juga 11 kilo," papar ibunda Fahry, Neneng Khoironi, saat ditemui detikcom, Jumat (31/3/2017).

Saat ditemui di kediamannya, Fahry tampak tidur pulas dengan kondisi telentang di atas kasur. Sesekali ia merengek dengan suara kecilnya. Fahry tak bisa berbicara apalagi berjalan. Neneng langsung sigap ketika buah hatinya bergerak. Gerakan Fahry tak biasa, ia kadang mengalami kejang-kejang.

Neneng yang bekerja sebagai penjual makanan keliling menceritakan, tubuh Fahry sejak kecil sudah diasupi obat-obatan berbahan kimia. Karena dengan obat itu penyakit kejang-kejangnya bisa teratasi. Meski begitu, obat yang berjenis generik yang diminum Fahry hanya pereda sementara.

"Kalau dia nggak minum itu dia kejang, harusnya dia minum yang obat paten itu, warnanya merah. Kalau sekarang harus beli sendiri obat itu, nggak ditanggung BPJS," tutur Neneng.

Perjuangan panjang Neneng untuk mengobati Fahry sempat menemui jalan buntu. Ia pernah ditolak rumah sakit lantaran tak punya BPJS. Tak patah semangat demi kesembuhan buah hatinya, Neneng bersama suaminya, Elan Kuswoyo menempuh jalur birokrasi di mana ia tinggal.
Kisah Fahry, Balita Asal Cirebon yang Kena Radang Otak dan Gizi BurukFoto: Muhammad Iqbal/detikcom

Baca juga: Kurang Gizi dan Kelebihan Gizi, Dua Masalah Kesehatan Utama Balita di Indonesia

"Sejak dia sakit ini tahun 2012 tadinya pakai SKTM, akhirnya ada BPJS itu saya bikin. Tahun 2015 berhenti pengobatannya, karena suami sudah nggak kerja, jadi iuran BPJS-nya juga berhenti," ujarnya.

Suami Neneng, Elan yang bekerja sebagai buruh serabutan tak mampu membawa Fahry ke rumah sakit yang peralatannya lengkap. Fahry disarankan oleh dokter RSUD Panggungrawi Cilegon untuk dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo agar diterapi saraf.

"Suami saya hanya kerja serabutan, nggak bisa berobat lebih jauh, setiap berobat pakai BPJS," terangnya.

Tahun 2015 lalu, Wali Kota Cilegon Iman Aryadi sempat menjenguk Fahry. Bantuan datang dari Wali Kota untuk pengobatan Fahry berupa BPJS gratis. "Uang yang bekal dari Pak Wali Kota itu pun hanya cukup seminggu ketika dia dirawat," imbuh Neneng.

"Sedangkan Fahry setiap hari harus diuap, kalau nggak dia sesak napas. Waktu di Rumah Sakit Krakatau Medika sempat masuk ruang ICU, itu juga diuap," tutur Neneng lagi.

Dengan nada sedih, Neneng menceritakan pernyataan dokter yang menangani Fahry. "Dokter itu memvonis nggak bisa diobatin, dia seperti bencana. Kalau Fahry yang nggak bisa diperbaiki. Bencana kan ada dua, yang bisa diperbaiki dan tidak bisa diperbaiki," ucapnya sembari berurai airmata.

Kini Fahry kecil butuh uluran tangan dari para dermawan untuk dapat berobat ke rumah sakit yang dapat menangani lebih optimal agar deritanya tak berkepanjangan.

Baca juga: Hindari Kasus Gizi Buruk, Edukasi Jadi Target Puskesmas Kelapa Gading(vit/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit