detikhealth
Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

Menyikapi Istri yang Suka Indekos Daripada Pulang-Pergi ke Rumah

Suherni Sulaeman - detikHealth
Minggu, 09/04/2017 09:12 WIB
Menyikapi Istri yang Suka Indekos Daripada Pulang-Pergi ke RumahFoto: Thinkstock
Jakarta, Salam hormat,

Usia pernikahan saya sudah delapan tahun lebih, umur istri lebih tua tiga tahun dibandingkan saya. Kami baru dikaruniai anak laki-laki berumur tujuh tahun dan sekarang kelas dua sekolah dasar.

Istri saya kerja di salah satu bank pemerintah, mulai tahun 2013 istri dipindahkan agak jauh dari rumah, waktu itu istri mengambil keputusan untuk ngekost tapi saya dan anak harus menemani sehingga jadinya saya yang laju atau pulang pergi ke kantor lebih jauh. Pada tahun 2014 istri dan saya memutuskan untuk tidak ngekos dan dilaju atau pulang pergi ke kantor dengan pakai bus. Kadang seminggu atau dua atau tiga kali saya jemput ke kantornya.

Untuk diketahui jarak rumah dengan kantor sekitar 35 km atau waktu tempuh sekitar 40 menit. Kebiasaan itu sampai terjadi tahun 2015 di mana istri berangkat pakai bus pulang pun juga pake bus, kadang kala saya jemput juga ke kantor.

Pada tahun 2016 saya dimutasi di kantor saya, yang mana beban kerjanya banyak sehingga menjadi jarang saya jemput ke kantor istri, paling sebulan bisa jemput ke kantor istri. Pernah istri ngeluh-ngeluh badannya capek dikarenakan pulang pergi pake bus, waktu itu saya kurang menanggapi. Sampai akhirnya, akhir bulan Agustus 2016 istri minta untuk ngekost dengan alasan banyak kegiatan kantor biar tidak merepotkan saya.

Tapi yang menjadi keanehan, istri seminggu pulang hanya dua kali itu pun bukan waktu hari libur, hari Sabtu dan Minggu malah di kost dengan alasan banyak kerjaaan dan kegiatan kantor. Pernah suatu saat saya ngecek ke kostnya, ternyata dia malah bermalam di teman kosnya yang masih single, ditambah keterangan dari temen kostnya bahwa istri saya pernah karoke sama teman ceweknya padahal waktu itu pamitnya ada acara kantor.yang menjadi pertanyaan saya adalah :

1. Bagaimana membujuk istri supaya mau untuk dilaju atau pulang pergi ke kantor? Saya sudah menawarkan supaya tidak antar-jemput saja bahkan sampai istri saya suruh bawa mobil sendiri biar nggak capek. Tapi istri saya masih beralasan ribet dan banyak butuh biaya

2. Semenjak ngekos istri jadi bersikap dingin dan cuek sama saya dan anak, apakah mungkin istri punya selingkuhan lain?

3. Setiap diajak bercinta istri selalu alasan capek pusing badannya lelah, kalaupun mau itu pun istri pasif sama sekali, sampai-sampai saya stres dan berniat untuk mengakhiri hubungan rumah tangga ini. Bagaimana untuk menyikapi keadaan ini?

A (Laki-laki, 35 tahun)

Jawaban

Dear Bapak A,

Penelitian membuktikan bahwa pasangan terbaik sekalipun dapat mengalami permasalahan besar apabila berjauhan secara fisik dalam waktu yang sangat panjang. Meskipun, belum tentu permasalahan yang muncul saat Anda berjauhan, tidak akan terjadi saat Anda dan pasangan serumah dalam jangka waktu yang lama.

Untuk mengetahui cara apa yang bisa dilakukan untuk istri kembali ke rumah, tentu saja tidak dapat dilakukan hanya dengan sedikit informasi. Perlu adanya penilaian lebih lengkap yang mencakup kondisi pribadi masing-masing anggota keluarga, interaksi antar anggota keluarga termasuk keluarga lainnya yang menjadi sistem pendukung. Dengan demikian, bisa diperkirakan masalah apa yang melandasi keengganan istri untuk mau 'melaju'.

Yang bisa Anda lakukan saat ini adalah dengan mengenali pola istri Anda selama ini, misalnya, apakah ia mudah bosan, bagaimana pola istri ketika menghadapi permasalahan? (menghindar, kompromi, atau konfrontasi, dsb), siapa saja yang berada di dalam satu rumah? Bagaimana interaksi pasangan dengan orang-orang yang ada di dalam rumah? Bagaimana ia dalam menghadapi anak? Cari tahu dulu kemungkinan lain, selain jarak dan waktu ke kantor, yang bisa mempengaruhi istri enggan untuk 'melaju'.

Dari sekilas cerita Anda, sepertinya Anda lebih membutuhkan adanya kedekatan secara emosional dan fisik ketimbang pasangan Anda. Dengan usia perkawinan di atas 7 tahun Anda berdua memang perlu usaha ekstra untuk tetap dapat mempertahankan komitmen dan keintiman yang ada. Agar Anda tetap dapat mempertahankan perkawinan, Anda berdua perlu kembali duduk bersama untuk mempertimbangkan prioritas di dalam keluarga, yang mungkin bukan merupakan area finansial. Temukan kembali kesamaan visi dan misi berkeluarga pada Anda berdua, selaraskan kembali harapan Anda berdua dan cari cara untuk mencapainya bersama.

Adanya kecurigaan dan kecemburuan yang muncul pada hubungan jarak jauh biasanya memang menimbulkan adanya emotional distress yang membuat seseorang bisa jadi semakin sulit untuk berpikir dengan jernih. Akhirnya, setiap peristiwa yang dianggap janggal, semakin membuat kecemasan menjadi lebih tinggi dari sebelumnya dan muncul kecurigaan adanya perselingkuhan, dsb.

Kalau masalah ini sudah mulai mengganggu Anda, sebaiknya cari pihak ketiga yang membuat Anda percaya dan nyaman untuk bercerita, serta bisa melihat permasalahan secara netral dan obyektif. Pihak ketiga tidak selalu harus profesional seperti psikolog atau konselor perkwawinan, bisa saja orang tersebut adalah orangtua atau orang yang dituakan dalam keluarga yang Anda dan pasangan harga masukan dan pendapatnya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/


(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit