detikhealth

Saat Pangeran Harry Curhat tentang Dampak dari Kematian Ibunya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 18/04/2017 06:48 WIB
Saat Pangeran Harry Curhat tentang Dampak dari Kematian IbunyaFoto: ist
Jakarta, Kematian Putri Diana memberikan dampak luar biasa bagi kedua putranya, Pangeran William dan Pangeran Harry. Namun bagi Pangeran Harry, kepedihan akan musibah ini justru ia pendam dalam-dalam.

Dalam sebuah wawancara dengan The Telegraph baru-baru ini, Harry mengaku 'memendam segala emosi' selama hampir dua puluh tahun setelah kehilangan sang ibu.

Ketika musibah itu terjadi, usia Harry masih 12 tahun. Saat itu, ia memilih untuk mengesampingkan pikirannya tentang sang ibu. "Cara saya menghadapinya adalah menolak memikirkan ibu saya karena saya tak yakin ini bisa membantu. Toh ini hanya membuatmu sedih dan tidak bisa menghidupkannya lagi," katanya.

Ia baru merasakan kepedihan yang mendalam di usia 28 tahun setelah muncul perasaan 'ingin meninju seseorang' dan rasa cemas yang begitu besar ketika menjalankan tugas kerajaan.

Saat itu ia baru menyadari jika kehilangan sang ibu berdampak serius terhadap kehidupan pribadi dan profesionalnya, apalagi keluarganya selalu menjadi sorotan publik, sehingga ia merasa sangat rentan mengalami 'complete breakdown' dalam berbagai kesempatan.

Pria yang saat ini menduduki urutan tahta kelima setelah Pangeran George dan Putri Charlotte itu mengaku mengalami 'total chaos' selama dua tahun.

Harry akhirnya mencari bantuan profesional setelah William dan orang-orang terdekatnya memberikan dorongan agar pria berambut merah ini mencari bantuan. "Lihatlah, kamu harus menyelesaikan ini. Tidak normal mengatakan bahwa tak ada yang bisa mempengaruhimu," kata William kala itu seperti ditirukan Harry.

Selain konseling, Harry juga berlatih tinju untuk melampiaskan rasa frustrasinya. "Pada tahun-tahun itu, saya memilih tinju karena banyak yang mengatakan tinju adalah cara yang sangat baik untuk melampiaskan agresi dalam diri. Dan ini benar-benar berguna untuk saya karena saya merasa ingin sekali meninju seseorang, jadi bisa memukul seseorang dengan aman rasanya sangat memudahkan," lanjutnya.

Baca juga: Ketika Anggota Keluarga Kerajaan Inggris Bicara Soal Gangguan Jiwa

Setelah belajar untuk bicara jujur tentang perasaannya, kini Harry merasa bisa membantu orang lain untuk melalui kesulitan yang sama. Padahal sebelumnya Harry sempat diduga mengalami masalah kejiwaan selepas bertugas di Afghanistan. Tetapi ia menampik hal ini.

Justru dari pengalaman itu, ia bisa terlibat aktif di unit pemulihan personel di Angkatan Darat Inggris di mana ia banyak berbincang dengan tentara yang terluka atau cedera tentang kesehatan jiwa mereka.

"Saya tahu sangat sulit untuk membicarakan masalah Anda dan ketika Anda memutuskan untuk menyembunyikannya, maka sebenarnya Anda telah memperburuk keadaan yang ada," tegasnya.

Ia juga bersyukur memiliki sosok kakak seperti William yang sangat mendukungnya dan mendorongnya untuk mencari bantuan tanpa lelah.

Saat Pangeran Harry Curhat tentang Dampak dari Kematian IbunyaFoto: Alastair Grant - WPA Pool/Getty Images


Harry berharap kisahnya dapat mendorong masyarakat luas untuk menepis stigma yang masih melingkupi orang-orang yang mengalami masalah kejiwaan. Seperti kita tahu, Harry dan kedua kakaknya, Pangeran William dan Kate Middleton mendirikan sebuah yayasan bernama Heads Together yang bergerak aktif dalam mempromosikan kesehatan mental.

Baca juga: Pakar: Stigma pada ODHA Datang dari Mana Saja (lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit