detikhealth

Menyikapi Tuntutan Orang Sekitar Agar Segera Menikah

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Selasa, 18/04/2017 18:05 WIB
Menyikapi Tuntutan Orang Sekitar Agar Segera MenikahFoto: Thinkstock
Jakarta, Keputusan untuk menikah memang kembali lagi pada pertimbangan individu dan pasangannya. Hanya saja, kadang tekanan atau rongrongan dari keluarga dan orang sekitar agar segera menikah, bisa membuat tidak nyaman.

Dalam menyikapi tuntutan segera menikah seperti itu, psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi Tiara Puspita M.Psi., Psikolog mengatakan perlu disadari pula apakah kita memang sudah ingin menikah atau karena tuntutan orang di sekitar semata. Jika diri sendiri tahu rencana menikah karena tuntutan dari pihak luar, komunikasikan ke pihak luar kalau Anda belum siap nikah.

"Kenapa? Misalnya sudah ada pacar tapi pacarnya masih begini begini, masih belum siap. Baiknya sebutkan ada rencana menikah, tapi 3-4 tahun lagi nih biar orang di sekitar nggak nge-push, padahal kita udah ada rencana. Utarakan kalau kita memang ada rencana untuk serius. Saat itu dikomunikasian dengan jelas, orang tua atau orang di sekitar nggak akan merongrong atau memburu-buru kita buat menikah padahal saat itu kita belum siap," kata wanita yang akrab disapa Tita ini saat berbincang dengan detikHealth.

Lalu, bagaimana jika kebetulan memang belum ada pasangan? Menurut Tita, katakan saja bahwa memang belum ada pasangan. Ketika memang sulit mencari pacar, bukan tak mungkin orang-orang di sekitar mau membantu untuk mencarikan pacar, demikian disampaikan Tita. Hal itu, pastinya bisa terjadi ketika kita mengkomunikasikan dengan baik persoalan yang dialami.

Baca juga: Istri Meminta Suami Menikah Lagi karena Belum Juga Punya Momongan

Atau, bisa juga jika Anda masih fokus pada pekerjaan, utarakan bahwa sedang sibuk bekerja dan masih belum mamu memikirkan soal relationship. Sehingga, bisa saja mungkin baru 2 atau 3 tahun ke depan memiliki pasangan.

"Lebih baik menikah karena sreg dan siap daripada menikah karena terburu-buru atau dituntut oleh orang lain. Kan menikah kita yang menjalani. Maksudnya dengan kita komunikasikan. Apalagi sampai personal banget sifatnya, kita jelaskan aja menikah itu lebih baik karena kita sudah siap, daripada berhenti di tengah jalan," tambah Tita.

Ia menekankan, dalam pernikahan pasti butuh komitmen 24 jam. Dalam artian, nantinya pasangan akan memiliki anak dan pastinya keluarga serta pasangan juga mesti diurus. Sehingga, seseorang harus benar-benar siap dan tahu perannya setelah menikah seperti apa.

"Jangan cuma kayak pindah rumah dan kayak main rumah-rumahan. Pernikahan kan nggak gitu, tanggung jawabnya besar. Kita harus bisa terima baik buruknya pasangan kita, bagaimana kondisi ekonominya. Kita nggak tahu saat menikah dengan pasangan kondisinya lagi baik, terus tiba-tiba ada cobaan atau masalah. Semuanya kan harus diterima dengan konsekuensi dan risikonya," pungkas Tita.

Dikutip dari buku 'Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan' yang disusun tim Tiga Generasi, alasan-alasan salah untuk menikah yaitu:
- Sudah usianya menikah
- Sayang dengan hubungan pacaran yang sudah terlalu lama
- Ingin membahagiakan orang tua
- Ingin melarikan diri dari rumah keluarga asal
- Putus cinta dan pasrah dengan seseorang yang 'kebetulan ada' di samping kita
- Pasangan adalah menantu idaman semua orang.

Ditekankan, menikahlah karena kamu memang sudah merasa siap dan yakin bahwa dia adalah orang yang bisa membuat bahagia sekarang hingga nanti. Ingat, jangan menikah karena lingkungan menuntutumu sehingga keputusan dipilih dengan terburu-buru.

Baca juga: 'Bridezilla', Saat Wanita Jadi Super Sensitif Jelang Menikah(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit