detikhealth

Konsultasi Umum

Remaja yang Selalu Cepat Lapar, Apa Sebabnya?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 04/05/2017 16:00 WIB
Remaja yang Selalu Cepat Lapar, Apa Sebabnya?Foto: Ilustrasi lapar/iStock
Jakarta, Dok saya remaja 17 tahun, ketika sekitar 1 jam selesai makan, saya sangat kelaparan lagi. Apakah dari kasus tersebut ada indikasi penyakit yang menyerang sistem pencernaan saya? Terimakasih, mohon dijawab segera.

Gentha (Laki-laki, 17 tahun)

Jawaban

Mencermati keluhan utama Mas Gentha di atas, yakni mudah merasa lapar setelah satu jam makan, maka ada kecenderungan mengarah ke polifagia. Polifagia ini bukan penyakit, melainkan gejala.

Polifagia adalah terminologi medis untuk menyebutkan konsumsi makanan dengan total asupan kalori yang melebihi normal. Bahasa awamnya adalah mudah merasa lapar (cepat lapar) alias sukar merasa kenyang. Polifagi atau polyphagia juga dikenal dengan istilah hyperphagia.

Secara umum, polifagia dapat merupakan indikasi yang mengarah ke penyakit atau gangguan tertentu seperti diabetes mellitus (kencing manis), stres, depresi, cemas, hipoglikemia (kadar gula darah rendah), hiperglikemia (kadar gula darah tinggi), bulimia, dsb.

Polifagia dan Diabetes

Pada diabetisi tak terkontrol dimana kadar glukosa darah tetap tinggi [hiperglikemia], glukosa dari darah tidak dapat memasuki sel-sel tubuh, karena kekurangan insulin atau terjadi resistensi insulin, sehingga tubuh tidak dapat mengubah makanan yang dikonsumsi menjadi energi. Kekurangan energi inilah yang menyebabkan peningkatan rasa lapar.

Yang perlu ditekankan disini adalah polifagia hanyalah satu dari tiga gejala utama diabetes mellitus tipe satu. Dua lainnya adalah poliuria (sering kencing atau banyak berkemih) dan polidipsi (sering haus).

Perspektif Fisiologis

Asupan makanan dikendalikan oleh pelbagai faktor, seperti gastrointestinal (sistem pencernaan makanan yang terdiri dari lambung dan usus), lingkungan dan sistem saraf pusat (SSP). SSP terutama nuklei hipothalamus merepresentasikan 'pusat lapar'. Sebaliknya, nuklei ventromedial merupakan 'pusat kenyang'. Lesi atau gangguan di amigdala atau nuklei paraventrikular juga dapat meningkatkan perilaku makan (feeding behaviour).

Polifagia Primer

Kondisi patologis yang memengaruhi SSP dapat meningkatkan perilaku makan, seperti untuk menyimpan cadangan energi pada kondisi normal. Ini disebut sebagai polifagia primer. Umumnya disebabkan karena abnormalitas SSP. Selain itu, polifagia primer juga disebabkan karena kerusakan 'pusat kenyang' berupa trauma, lesi masa (neoplasia), infeksi, dsb. Polifagia primer juga dapat disebabkan oleh faktor psikogenik, berupa stres dan sensasi ketagihan karena pertama kali merasakan masakan atau menu yang lezat (palatable diet).

Polifagia Sekunder

Polifagia sekunder muncul saat perilaku makan distimulasi oleh faktor-faktor non-neural dan juga disebabkan oleh peningkatan rerata metabolik atau penurunan suplai nutrisi. Penyebabnya gangguan homeostasis atau problem sistemik yang memengaruhi SSP.

Kondisi metabolisme ini dapat fisiologis (misal suhu dingin, masa pertumbuhan, sering beraktivitas suka berolahraga, masa kehamilan, menyusui) atau patologis (pada kondisi hipertiroidisme, akromegali, sindrom premenstruasi, sindrom Prader-Willi, sindrom Kleine-Levin).

Polifagia sekunder juga dapat disebabkan oleh penurunan suplai energi. Hal ini dijumpai pada penderita diabetes mellitus, sindrom malasimilasi (insufisiensi eksokrin pankreatik, infiltrative bowel disease, parasit, limfangiektasi, dsb), penurunan intake (dijumpai pada kondisi megaesofagus kongenital, diet rendah kalori, hipoglikemia, dsb).

Polifagia sekunder terkait erat dengan penggunaan atau konsumsi antikonvulsan [antikejang], terapi glukokortikoid, obat-obatan golongan antihistamin, progestin, benzodiazepin, amitraz, dan ciproheptadine.

Uniknya, polifagia sekunder juga dijumpai pada kondisi yang belum diketahui penyebabnya, seperti dijumpai pada hiperadrenokortisisme, shunt portasistemik atau hepatoensefalopati, dan SARDS (sudden acquired retinal degeneration).

Penyebab spesifik polifagia dapat didiagnosis dokter berdasarkan riwayat penyakit terdahulu, anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Kemungkinan terpapar di lingkungan sejuk, tinggal di daerah berhawa dingin, suka beraktivitas atau hobi berolahraga patutlah dipertimbangkan. Segera memeriksakan diri ke dokter tentunya merupakan langkah bijaksana untuk memastikan diagnosis dan mengetahui tatalaksana polifagi.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr Dito Anurogo, penulis 18 buku, S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta.(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close