detikhealth

Kekerasan Jalanan Bisa Picu Polisi Bunuh Diri

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 05/05/2017 13:35 WIB
Kekerasan Jalanan Bisa Picu Polisi Bunuh DiriScott Tracz, polisi yang bunuh diri di Chicago (Foto: Joshua Lott/Reuters)
Chicago, AS, Scott Tracz duduk di dalam mobil sedan hitamnya. Tak berapa lama, terdengar suara letusan senjata api. Seketika tubuhnya lunglai dan ia menghembuskan napas terakhirnya.

Demikian penuturan Ark Maciaszek, sepupu Scott, saat mengenang saat-saat terakhir kepergiannya. Scott, seorang polisi muda yang belum genap berusia 30 tahun, memilih menghabisi nyawanya sendiri karena depresi akibat tak tahan menghadapi kekerasan jalanan di Chicago, Amerika Serikat.

"Ia tak mau mencari bantuan dan pertolongan. Ia mengakui dirinya depresi. Namun ia takut kehilangan pekerjaannya jika ketahuan berobat ke psikiater karena masalah kesehatan jiwa," urai Ark, dikutip dari Reuters.

Scott sudah lama bercita-cita menjadi polisi. Ark menuturkan sepupunya memiliki jiwa keadilan dan sosial yang baik, dan menjadi polisi merupakan impiannya agar bisa membantu orang lain, terutama yang berasal dari keluarga imigran seperti dirinya.

Namun menjadi polisi berarti harus berhadapan langsung dengan kerasnya jalanan di Chicago. Seringkali, Scott menumpahkan isi hatinya kepada Ark ketika sedang bebas tugas. Kengerian yang dilihatnya setiap hari menghantui dirinya dan membuatnya depresi.

Baca juga: Penjelasan di Balik 'Kegemaran' Menyayat Diri Saat Depresi

Scott yang awalnya tergolong cerah dan periang menjadi murung dalam beberapa bulan terakhir. Keluarga dan teman tidak berhasil membujuknya untuk berobat ke dokter.

"Dia sering berkata, 'Kamu tak akan percaya apa saja yang bisa dilakukan manusia demi mencapai tujuannya,' lalu ia akan menunduk dan terlihat sedih," ungkap Ark lagi.

ilustrasi bunuh diriilustrasi bunuh diri Foto: Thinkstock

Kekerasan Jalanan di Chicago

Chicago, kota terbesar di Negara Bagian Illinois, memiliki citra negatif bagi masyarakat Amerika Serikat. Hal ini terjadi karena tingginya tingkat kekerasan jalanan yang terjadi di kota tersebut.

Pada tahun 2016, sekitar 760 kasus pembunuhan terjadi di kota itu. Jumlah yang tidak sedikit, bahkan lebih banyak daripada jumlah kasus pembunuhan di kota Los Angeles dan new York jika digabungkan.

Polisi juga mencatat terjadi lebih dari 4.300 kasus penembakan. Angka ini jauh lebih tinggi daripada tahun 2015, dengan kenaikan kurang lebih sekitar 60 persen.

Kepolisian Chicago juga tak luput dari sorotan. Tersebarnya video penembakan oleh polisi kepada remaja kulit hitam pada tahun 2015 menyulut kemarahan masyarakat. Warga menyalahkan polisi yang brutal, sementara polisi mengaku harus mengambil jalan kekerasan karena nyawa mereka terancam.

"Jalanan chicago seperti daerah konflik. Polisi setiap hari harus melihat bagaimana masyarakat bereaksi buruk terhadap kehidupan sehari-harinya," tutur Alexa James dari National Alliance on Mental Illnes Chicago.

Akibatnya, risiko polisi mengalami depresi pun meningkat. Laporan dari serikat polisi mengatakan prevalensi bunuh diri anggota polisi sebesar 29,4 per 100.000 orang.

Di sisi lain, kepolisian Chicago mengatakan data mereka menyebut prevalensi polisi yang bunuh diri sekitar 22,7 per 100.000 orang. Meskipun terdapat perbedaan data, angka-angka tersebut jauh lebih tinggi daripada prevalensi kasus bunuh diri secara nasional di Amerika Serikat yang berada di angka 18,1 per 100.000 orang.

Baca juga: Depresi Ada 4 Jenis, Kenali Berbagai Macam Cirinya

Pekerjaan sebagai polisi lekat dengan citra maskulin dan macho. Itu sebabnya polisi yang mengalami masalah kesehatan mental sering tidak melaporkan kondisinya, apalagi pergi berobat.

Selain terancam kehilangan pekerjaan, rasa malu akibat stigma dari rekan polisi lainnya membuat pasien masalah kejiwaan sangat tertutup. Sayangnya, ancaman bunuh diri akibat depresi ini dipandang sebelah mata oleh pihak kepolisian sendiri.

"Bunuh diri membunuh polisi, alkohol membunuh polisi, namun yang mereka khawatirkan adalah penyerangan bersenjata yang angka kejadiannya jauh lebih rendah," tutur Christy Lopez dari Justice Department.(mrs/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit