detikhealth

Dokter: Jangan Gunakan Antibiotik Kalau Memang Tidak Betul-betul Diperlukan

Riris Septi Arimbi - detikHealth
Selasa, 09/05/2017 07:10 WIB
Dokter: Jangan Gunakan Antibiotik Kalau Memang Tidak Betul-betul DiperlukanFoto: thinkstock
Jakarta, Urusan obat-obatan memang bukan urusan orang awam. Tetapi tak ada salahnya Anda mengetahui ketentuan untuk mengonsumsi antibiotik dengan benar agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Perlu dipahami bahwa ada tiga metode yang memicu munculnya resistensi antibiotik di Indonesia. Pertama, karena overuse (penggunaan secara berlebihan).

Prof Dr dr Usman Hadi, MD, PhD, SpPD-KPTI, Kepala Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi, Departemen Penyakit Dalam RSUD Dr Soetomo, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menjelaskan, tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan terhadap berbagai virus maupun bakteri yang sangat hebat.

Akan tetapi antibiotik seringkali masih diberikan kepada mereka yang mengalami infeksi ringan. Padahal bila infeksinya ringan, tubuh akan menyembuhkan dirinya sendiri.

"Jadi kalau cuma infeksi2 kecil maka cukup diberi antiseptik atau pembersih luka maka akan membaik. Tapi kadang-kadang karena kita takut atau pengen cepet sembuh langsung diberi antibiotik," terangnya dalam Pfizer Press Circle (PPC) tentang Resistensi Antibiotik di Hotel Wyndham Surabaya beberapa waktu lalu.

Kedua, pria yang akrab disapa Prof Usman itu mengungkapkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau misuse, di mana pasien sebenarnya tidak memerlukan antibiotik tetapi diberi antibiotik.

"Misalnya pasien datang dengan demam, padahal sebenernya pasien itu infeksi virus tapi karena dokternya tidak tahu dan untuk mengatasi hal itu, ia tetap diresepkan antibiotik. Memang bisa sembuh, tapi akan terjadi resistensi tadi," urainya.

Ketiga, under-use (pemberian yang kurang) yaitu ketika pasien membeli obat sendiri di warung, kios atau pasar padahal mereka tidak tahu dosis yang tepat dan seberapa banyak yang harus dikonsumsi.

"Regulasinya sudah ada, bahwa antibiotik itu termasuk obat keras. Dilarang diperjualbelikan tanpa resep," tegas dr Hari Paraton, MD, SpOG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dalam kesempatan yang sama.

dr Hari menambahkan, sederhananya, segala gangguan kesehatan yang dipicu virus tidak akan bisa dibunuh oleh antibiotik. Itu artinya infeksi akibat virus seperti radang tenggorokan, flu, pilek, gondong, demam, demam berdarah, cacar air, campak, atau diare, jangan serta-merta diberi antibiotik.

"Misal sakit dari hari apa, terus dikasih antibiotik. Pas di hari kelima sembuh, kita mikirnya cocok, padahal memang wayahe waras (waktunya sembuh, red). Secara umum, hari ketiga itu biasanya puncaknya sakit, setelah itu gejalanya akan panas atau gejalanya akan berkurang," timpal dr Hari dalam kesempatan yang sama.

Kendati seseorang bisa sembuh dari sakitnya dengan antibiotik, tetapi sebenarnya di dalam tubuhnya sudah bersemayam bakteri resisten atau menjadi carrier dari bakteri berbahaya tersebut.

Baca juga: Sembarangan Pakai Antibiotik, Seperti Ini Bahayanya

Antibiotik tidak disarankan untuk digunakan terlalu lama. dr Hari menegaskan, antibiotik setidaknya dikonsumsi dalam kurun dua minggu saja, atau bila tanda-tanda infeksinya belum juga hilang maka penggunaannya harus segera disetop.

"Masyarakat juga harus cerdas. Boleh bertanya kalau dikasih resep, tanya apa ini antibiotik atau bukan," pintanya.

Ketika diberi resep antibiotik, pastikan Anda mengonsumsinya sampai habis, bahkan dikatakan tidak boleh putus sama sekali. Jikapun putus, konsumsi harus dimulai dari nol lagi, yang kemudian akan memicu prolong atau penggunaan yang berkepanjangan.

Namun jika tidak dihabiskan, jangan pula dibiasakan menyimpan, apalagi sampai memberikannya kepada saudara atau tetangga yang dirasa mengalami gejala sakit yang sama, sebab ini ada kaitannya dengan 'penularan' atau perpindahan bakteri kebal antibiotik tadi.

dr Hari mengingatkan kembali, sejumlah tindakan medis juga bisa dilakukan tanpa antibiotik, seperti operasi caesar, operasi gigi ataupun operasi pengangkatan amandel hingga tumor.

"Kalau diare, minum oralit aja. Saya (bantu, red) caesar juga nggak pernah pakai antibiotik. Paling tak kasih asam mefenamat sama parasetamol sebagai anti sakit, sudah cukup. Habis operasi gigi, kalau dikasih antibiotik, nggak usah diminum gapapa," pesannya.

Luka pasca tindakan lain seperti operasi pengangkatan tumor juga dijamin cepat pulih jika tidak diberi antibiotik, begitu pula dengan luka bekas sirkumsisi atau khitan, dan luka kecelakaan, yang cukup dibersihkan saja dengan antiseptik.

Baca juga: Harus dengan Resep Dokter, Kenapa Masih Ada Antibiotik yang Bisa Dibeli Bebas?(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit