detikhealth

Waduh! Baru 8 Persen Pasien Depresi di Indonesia yang Tertangani

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 10/05/2017 11:42 WIB
Waduh! Baru 8 Persen Pasien Depresi di Indonesia yang TertanganiFoto: Hasan Alhabshy
Surabaya, Secara pendapatan, Indonesia boleh saja tergolong middle income countries, namun dalam penanganan depresi, Indonesia tak lebih baik dari negara lain yang tingkat pendapatannya lebih rendah.

Tetapi bukan berarti negara maju juga lebih baik. "Di negara maju, hanya 29 persen orang depresi yang bisa mendapatkan akses pada pelayanan atau bisa dideteksi di pelayanan kesehatan, nggak banyak juga ternyata," ungkap dr Eka Viora, SpKJ dalam Seminar Media bertemakan Depresi: Yuk Curhat di RS Jiwa Menur Surabaya, Selasa (9/5/2017).

Ironisnya, di Indonesia tercatat hanya 8 persen orang dengan gangguan depresi yang bisa terlayani. Sisanya, 92 persen pasien tidak mendapatkan pelayanan yang tepat dan dibutuhkan.

Sebabnya, keluhan-keluhan psikiatri atau kejiwaan lebih banyak dalam bentuk keluhan fisik seperti hilangnya nafsu makan, sering mual, atau sakit kepala (psikosomatis) atau penyakit-penyakit fisik yang biasanya mengikuti.

"Akibatnya penanganan misal obat yang diberikan menjadi kurang tepat karena hanya menyelesaikan gejala fisiknya saja dan biasanya juga tidak tuntas karena yang tahu mekanisme penyakit kejiwaan di balik itu hanya psikiater," tambahnya.

Baca juga: Mengapa Curhat Bisa Melegakan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Di sisi lain, depresi atau gangguan mental lain hanya dianggap sebagai 'efek samping' dari penyakit fisik yang dialami si pasien, sehingga kerap terabaikan. dr Eka mengaku beberapa kali menemukan kasus di mana depresi pada pasien penyakit fisik yang tidak tertangani berujung pada kematian.

Bahkan bila ditotal, dr Eka mengatakan 30 persen kasus kematian akibat bunuh diri sebenarnya dipicu oleh depresi yang bisa dicegah dan tertangani.

"Misal pada pasien MDR-TB yang bunuh diri. Depresi ini mempengaruhi kepatuhan minum obat dari si pasien, yang kemudian menjadi resistensi lalu si pasien tak kunjung sembuh dan memutuskan bunuh diri," jelasnya.

Pada saat yang bersamaan, cost atau biaya yang dikeluarkan oleh si pasien karena resistensi pada pengobatannya juga bisa memicu depresi lalu bunuh diri.

Contoh lain pada wanita yang terserang depresi pasca melahirkan. Bila depresinya tidak disadari, kemudian tidak tertangani maka dampaknya bisa meluas. "Ibu yang depresi rentan melakukan abuse pada anak," ujar dr Eka.

Baca juga: Penjelasan di Balik 'Kegemaran' Menyayat Diri Saat Depresi(lll/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close