detikhealth

Memberi Penjelasan pada Anak Saat Orang Tuanya Dipenjara

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 12/05/2017 15:04 WIB
Memberi Penjelasan pada Anak Saat Orang Tuanya DipenjaraFoto: Thinkstock
Jakarta, Orang tua dibui alias dipenjara. Kondisi ini bisa menimbulkan tanda tanya di benak anak, terutama anak pra-remaja usia 9-12 tahun. Salah satu pertanyaan yang timbul adalah apakah orang tuanya akan pulang?

Ini salah satunya dialami putra bungsu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok ditanya putra bungsunya, Daud Albeener Purnama, yang tengah sakit, apakah sang ayah pulang ke rumah atau tidak.

"Begini, bukan naik (tensi darah Ahok), tapi waktu itu sempat ada sedikit ya tensi darahnya normal, naik-turun, ya normal ya, tapi sedikit agak shock ketika mengetahui putranya sakit, si Daud," cerita partner Ahok dalam pilgub DKI Jakarta, Djarot, di Gedung Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017), dikutip dari detikNews.

Menurut Djarot, Ahok lebih terguncang saat Daud bertanya apakah dirinya akan pulang atau tidak. "Terus kemudian (Daud) telepon, salah satu pertanyaannya adalah apakah papa pulang atau nggak?" ucap Djarot.

Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani M.Psi., Psikolog atau Nina mengatakan di usia pra-remaja atau 9-12 tahun, anak sudah memahami bahwa ada kondisi-kondisi yang bisa tidak menguntungkan untuk keluarga mereka. Pada anak di atas usia 7 tahun, dikatakan Nina pola pikir anak pun sudah lebih kompleks.

"Jadi kita bisa jelaskan lebih banyak pada mereka tentang kondisi yang tidak menguntungkan bagi keluarga. Contohnya saat salah satu anggota keluarga dibui, biasanya anak usia ini sudah cukup paham bahwa penjara tempatnya orang jahat," kata Nina saat berbincang dengan detikHealth, Jumat (12/5/2017).

Sehingga, mereka rentan berpikir anggota keluarganya adalah orang jahat. Ketika anak berpikir seperti itu, anak merasa anggota keluarga, apalagi itu orang tuanya adalah orang jahat. Akibatnya, konsep diri anak bisa jadi lebih negatif dan itu, kata Nina, berdampak negatif pada rasa percaya dirinya.

Baca juga: Ayah Ibu Hendak Pergi, Baiknya Jangan Tinggalkan Anak Diam-diam

Maka dari itu, keluarga tetap perlu menyampaikan hal sesuai tingkat pemahaman mereka. Dikatakan Nina, keluarga bisa menyampaikan bahwa orang tuanya dipenjara karena melakukan kesalahan seperti dia jika tidak mengerjakan PR maka mesti keluar dulu dari kelas disesuaikan. Hukuman yang dicontohkan disesuaikan dengan hukuman yang pernah anak alami.

"Kita juga bisa sampaikan bahwa orang tuanya mungkin melakukan kesalahan sama orang lain, tapi tidak bermaksud jahat sama kamu. Bagaimanapun kita mengakui ada kesalahan yang mungkin dilakukan orang tua. Apalagi kalau buat anak-anak yang lebih kena ke dirinya, apakah sebetulnya orang tua saya jahat atau nggak," papar Nina.

"Makanya kita bisa bilang misalkan 'Papa nggak niat jahat ke kamu cuma karena papa melakukan kesalahan, dia harus menebus kesalahannya di penjara," pungkas Nina yang praktik di Klinik Terpadu Universitas Indonesia, Depok, ini.

Baca juga: Sedih Banget, Tangisan Histeris Gadis Kecil yang Tidak Mau Ditinggal Ayahnya(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit