detikhealth
Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

Terlalu Diatur Mertua, Bagaimana Cara Agar Memiliki Privasi?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 18/05/2017 14:17 WIB
Terlalu Diatur Mertua, Bagaimana Cara Agar Memiliki Privasi?Foto: Thinkstock
Jakarta, Siang Mbak, saya sudah menikah lima setengah tahun dan mempunyai satu orang putri yang berusia 4,5 tahun. Sebelum menikah, saya meminta untuk tidak tinggal satu atap dengan mertua (saya meminta kepada suami untuk mengontrak saja), namun tidak diizinkan oleh suami dan mertua dengan alasan masih ada kamar kosong dan secara finansial biaya kontrakan bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih penting.

Akhirnya saya mengikuti saran suami untuk tinggal di rumah mertua. Selama sembilan bulan usia pernikahan, saya tinggal satu atap dengan mertua dan satu keluarga lainnya (adik ipar perempuan yang sudah berkeluarga terlebih dahulu). Dengan demikian ada tiga keluarga dalam satu atap rumah.

Pada usia ke sepuluh bulan pernikahan, pada saat itu saya saya sedang mengandung tujuh bulan. Akhirnya saya dan suami disuruh menempati rumah yang sebenarnya yang dibelikan oleh mertua adik ipar saya, hanya saja adik ipar saya lebih memilih untuk tetap tingal di rumah mertua saya. Sehubungan dengan posisi rumah yang saling membelakangi dan menempel, jadi ada akses masuk dari dapur ke dapur rasanya masih seperti satu atap karena secara keseharian aktivitas saya masih dipantau oleh mertua dan saya rasa walaupun berbeda rumah tetapi saya tidak memiliki privasi.

Kebetulan saya bekerja di perusahaan swasta dan mertua sayalah yang mengasuh anak saya yang tentu saja dari pola asuh yang diberikan pun berbeda. Selama tinggal bersama mertua, saya merasa kehidupan rumah tangga saya diatur dan tidak memiliki batasan-batasan privasi yang seharusnya saya dan suami miliki dalam kehidupan berumah tangga pada umumnya.

Dari segi karakter pun saya agak bertolak belakang dengan mertua dan adik ipar saya. Saya cenderung pendiam dan sebaliknya mertua dan adik ipar saya cenderung cerewet, pengatur dan agak galak. Jadi mereka sering berkomentar terhadap apapun yang berhubungan dengan saya, baik mengomentari penampilan saya, rumah, anak, suami dan hal lainnya.

Saya merasa sangat risi dan tidak memiliki privasi karena saya merasa sangat dipantau oleh mertua dan adik ipar saya yang membuat saya tidak nyaman tinggal di rumah tersebut. Sementara suami saya enggan untuk diajak tinggal terpisah dengan orang tuanya. Dan setiap kali saya sharing masalah ini dengan suami saya, suami saya terlihat agak sedikit marah, emosi dan selalu saja berujung dengan pertengkaran karena menganggap saya tidak bersyukur sudah diberikan tempat tinggal. Dan saya merasa sangat sedih dan kecewa karena maksud saya bukan untuk menjauhkan hubungan suami dan orang tuanya tapi saya juga butuh privasi dan ketenangan hidup.

Suami saya agak keberatan jika harus membeli rumah, mungkin yang jadi pertimbangannya adalah karena secara finansial kami pada saat ini masih pada taraf cukup dan belum berlebihan (karena saat ini kami masih mempunyai cicilan mobil yang awalnya diusulkan oleh suami dan mertua untuk membeli kendaraan terlebih dahulu daripada rumah) dan jika rumah berjauhan dengan mertua, tidak ada yang mengasuh anak saya karena saya dan suami bekerja. Dan sebelumnya kami sepakat untuk tidak memakai jasa baby sitter.

Yang ingin saya tanyakan:

1. Bagaimana caranya agar saya bisa membujuk suami saya untuk dapat hidup secara mandiri dan memiliki privasi seutuhnya? Karena saya merasa tersiksa dengan kondisi sekarang.
2. Jika suami saya menyetujui untuk tinggal terpisah dengan mertua saya, bagaimana jika mertua saya tidak menyetujui niat saya dan suami? Dan bagaimana agar saya tetap bisa membina hubungan baik dengan keluarga suami saya? Terimakasih.

D (Perempuan, 30 tahun)

Jawaban

Dear Mbak D,

Budaya ketimuran memang memberikan pengaruh bahwa keluarga memiliki peran yang cukup besar dalam pernikahan. Besarnya pengaruh keluarga tersebut bisa dibatasi dengan adanya kesepakatan yang dibuat bersama pasangan, termasuk di dalamnya bagaimana Anda dan pasangan mau menata rumah, pola asuh, berpenampilan, dan sebagainya.

Jika selama ini Anda menempatkan posisi sebagai pihak yang 'terancam privacy-nya' dan menghendaki pisah rumah, biasanya cara ini memang rentan membuat banyak pertengkaran di dalam pernikahan. Misalnya, Anda jadi merasa bahwa suami lebih membela mertua ketimbang Anda. Padahal, bisa saja yang terjadi adalah respon otomatis ketika seorang anak merasa orangtuanya 'diserang', sementara pasangan melihat situasi ini dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa meskipun keluarga campur tangan, untuk saat ini keberadaan mereka membantu untuk pengasuhan anak dan finansial, misalnya.

Bagaimana jika diskusi Anda ke depannya justru dimulai dengan mencari tahu apa yang sebenarnya Anda berdua ingin lakukan dalam rumah tangga? Rumah tangga seperti apa yang Anda berdua harapkan dan bagaimana Anda berdua berkompromi untuk mendapatkan harapan-harapan Anda, meskipun belum tentu semuanya terpenuhi. Hasil diskusi ini yang Anda berdua jadikan kesepakatan ke depannya.

Mengapa membuat kesepakatan Anda dan suami menjadi penting? Kesepakatan-kesepakatan yang Anda buat ini yang menjadi pedoman Anda dan pasangan dalam menjalani pernikahan, meskipun tidak tertutup kemungkinan akan ada penyesuaian. Tanpa adanya kesepakatan, dimanapun Anda tinggal nantinya, komentar dari pihak luar akan lebih mudah diinterpretasikan sebagai 'pelanggaran privacy' ketimbang sebagai sebuah masukan yang mungkin memang diperlukan, atau komentar yang sebenarnya cukup diabaikan. Bisa saja salah satu hal yang memungkinkan untuk dilakukan nantinya adalah tidak pindah rumah, tetapi untuk sementara cukup memberi tembok pembatas di dapur, bukan?

Setiap pilihan tentu saja memiliki konsekuensi. Melihat gambaran Anda tentang mertua, memang ada kemungkinan keputusan Anda dan pasangan pindah rumah akan mendapatkan banyak pertentangan. Kondisi di awal memang akan tidak menyenangkan di awal, apalagi jika Anda masih membutuhkan mertua untuk mengasuh anak saat Anda bekerja. Namun, semua kembali lagi kepada bagaimana kesepakatan Anda bersama pasangan, karena pasangan adalah salah satu orang yang bisa menjembatani hubungan Anda dengan mertua.

Pertimbangkan juga konsekuensi lanjutan dari kepindahan Anda. Termasuk di dalamnya pengaturan keuangan, pengasuhan anak sementara kedua orangtua bekerja, jarak antara rumah dan kantor, dsb. Pastikan bahwa semua konsekuensi yang memungkinkan sudah Anda diskusikan bersama pasangan dan bagaimana mengantisipasinya. Jangan sampai, kepindahan Anda justru menambah masalah lain dan membuat Anda tidak bahagia karena pilihan yang sudah disepakati bersama.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit