detikhealth

Dokter: Sakit Gula dan Ginjal Tidak Bisa Dilihat dari Air Liur

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 19/05/2017 13:05 WIB
Dokter: Sakit Gula dan Ginjal Tidak Bisa Dilihat dari Air LiurFoto: thinkstock
Jakarta, Klaim soal penggunaan bau mulut dan air liur untuk mendeteksi penyakit beredar di media sosial. Dengan menempelkan sendok di lidah dan menyinarinya dengan paparan cahaya terang, bau dan warna air liur yang terlihat disebut-sebut menandakan adanya penyakit tertentu.

Terkait hal ini, Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH mengatakan memang ada pemeriksaan kedokteran yang menggunakan sampel air liur dan dahak. Namun mekanisme tidak seperti apa yang tersebar di media sosial.

"Pakai sendok untuk periksa air liur itu nggak ada secara medis. Memang bisa sampel air liur dan dahak digunakan untuk memeriksa apakah ada bakteri tertentu atau tidak, tapi pemeriksaannya dilakukan di laboratorium dengan teknik kultur," tutur dr Ari kepada detikHealth.

Baca juga: Sendok Disebut Bisa Digunakan untuk Check Up Medis

Dijelaskan dr Ari bahwa pemeriksaan medis dalam ilmu kedokteran terbagi menjadi tiga, yakni wawancara pasien, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

Dalam pemeriksaan laboratorium, beberapa sampel dari pasien bisa diambil seperti darah, air kencing, air liur hingga dahak untuk mendeteksi apakah ada gejala penyakit-penyekit tertentu.

Pemeriksaan laboratorium yang menggunakan sampel air liur atau dahak biasanya dilakukan untuk melihat penyakit infeksi. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah ditemukan ada kuman, bakteri atau antibodi tertentu yang menyebabkan penyakit tersebut.

"Jadi tidak bisa dengan melihat air liur atau dahak langsung mendeteksi apakah menderita sakit gula atau ginjal," paparnya lagi.

Hal senada dikatakan oleh dr Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD, dari Badan Data dan Informasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menurutnya terlalu banyak variabel dalam eksperimen untuk bisa menentukan secara akurat suatu penyakit.

Mulai dari volume air liur, intensitas cahaya, hingga ke makanan dan minuman yang sebelumnya dikonsumsi oleh seseorang mungkin bisa memengaruhi hasil eksperimen.

Selain itu untuk melihat noda yang disebut merupakan tanda infeksi, di laboratorium sendiri membutuhkan waktu beberapa hari sampai koloni suatu bakteri bisa terlihat dengan mata telanjang.

"Teknologi biakan bakteri kita saat ini rata-rata tiga hari dengan medium tertentu. Bukan logam," ungkap dokter yang akrab disapa dr Koko ini.

Baca juga: Kata Dokter Gigi Soal Bau dan Warna Air Liur untuk Deteksi Penyakit


(mrs/vit)


 
Foto Terkait

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit