detikhealth

Sering Diabaikan, Dokter Tegaskan Pentingnya Masker Bagi Pekerja Proyek

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Jumat, 19/05/2017 18:05 WIB
Sering Diabaikan, Dokter Tegaskan Pentingnya Masker Bagi Pekerja ProyekFoto: Ari Saputra
Jakarta, Penggunaan masker sudah jadi aturan umum bagi pekerja di area proyek, pertambangan maupun pabrik logam. Namun nyatanya, seringkali tampak pekerja enggan menggunakannya.

Seperti disampaikan dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, dr Feni Fitrania, SpP, salah satu alasannya adalah karena pemakaian masker sering dianggap tidak nyaman bagi pekerja. Sekalipun dipakai, kadang pekerja juga tidak memakainya dengan benar. Misalnya tidak menutup bagian hidung dan mulut dengan rapat.

"Iya mungkin tidak nyaman ya, jadi tidak dipakai dengan benar atau bahkan tidak dipakai sama sekali. Seringkali ada keluhan pakai masker bikin sesak, tidak bisa bernapas dengan leluasa, makanya pemakaian masker sering diabaikan," tutur dr Feni kepada detikHealth.

Padahal untuk perlindungan yang sempurna bagi kesehatan organ pernapasan, menurut dr Feni pemakaian masker harus dilakukan dan tentunya dengan benar. Seperti apa?

Baca juga: Ada Remaja Masuk Terowongan MRT Tanpa Masker, Apa Efeknya Bagi Paru?

"Jadi masker atau respirator yang dipakai harus benar-benar ketat dan menempel ke wajah. Ini supaya tidak ada kebocoran dari sekitar pipi, mulut atau dagu," imbuhnya.

Masker yang memenuhi syarat untuk melindungi pekerja dan pengunjung area berisiko seperti proyek bangunan atau pertambangan umumnya dengan jenis respitar

Masker yg memenuhi syarat tertentulah yg dapat melindungi pekerja dari risiko pneumokoniosis spt jenis respirator N95. Disampaikan dr Feni, masker ini terbuat dari kain. Sementara itu, masker bedah dianggap tidak memenuhi syarat untuk menghindari risiko penyakit pernapasan seperti pneumokoniosis.

Pneumokoniosis merupakan sekelompok penyakit yang dipicu oleh paparan debu, yang biasanya didapatkan di lingkungan kerja. Penyakit ini sulit terdeteksi karena baru muncul dalam jangka panjang dan gejalanya sulit dikenali karena mirip seperti batuk biasa.

Menurut dokter spesialis paru dari RS MH Thamrin, Prof dr Faisal Yunus, SpP(K), MD, PhD, pneumokoniosis terjadi akibat menghirup partikel debu atau logam bahaya, sehingga merusak paru-paru. Salah satu partikel yang kerap memicu pneumokoniosis adalah silika, dan kondisinya disebut sebagai silikosis.

"Pekerja dia area berisiko sebaiknya melakukan cek kesehatan berkala setidaknya setahun sekali, termasuk cek spirometri (uji fungsi paru -red) dan foto toraks. Konsultasi ke dokter paru apabila ada keluhan pernapasan lainnya. Perlu diwaspadai apabila ada keluhan seperti batuk-batuk lebih dari 2 minggu, sesak napas, demam, ada rasa tidak nyaman di dada ketika bernapas, dan lain-lain," pesan dr Feni.

Baca juga: Tanpa Helm dan Rompi, Ini Risiko Selfie di Terowongan MRT (ajg/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close