detikhealth

Oek, oek! Tangisan Bayi Jadi Suara Alarm Persalinan di Desa Ini

Chaidir Anwar Tanjung - detikHealth
Jumat, 19/05/2017 19:08 WIB
Oek, oek! Tangisan Bayi Jadi Suara Alarm Persalinan di Desa IniFoto: Thinkstock
Pekanbaru, Suara bayi yang sedang menangis jadi suara alarm yang unik. Itu adalah suara alarm persalinan di desa-desa di Kecamatan Kerinci Kanan, Kab Siak Riau. Oek, oek!

Alarm persalinan ini digagas para bidan desa setempat. Jadi ketika alarm persalinan berbunyi itu tandanya akan segera ada ibu yang akan melahirkan.

detikHealth menyempatkan diri untuk mampir ke UPTD Puskesmas Kerinci Kanan, Kab Siak, Kamis (18/5/2017). Puskesmas ini letaknya sekitar 50 meter dari tepi jalan lintas yang menghubungkan antara Kabupaten Siak dan Pelalawan, atau terpaut sekitar 90-an km dari Pekanbaru.

Bentuk puskesmas ini, tak jauh beda dengan puskesmas pada umumnya. Halamannya ditumbuhi rumput yang menghijau. Di dalam ada tempat pendaftaran pasien dan ruang tunggu dengan kursi-kursi yang tersusun rapi.

Didampingi camat setempat, MH Hassanal Lutfi, detikHealth memasuki ruangan 'operator' alarm persalinan di sudut sebelah kiri bangunan. Ternyata ruangan 'operator' ini tidak seribet yang dibayangkan. Pengoperasian alarm persalinan hanya bermodalkan laptop yang terletak di atas meja kerja pada bidan yang dipimpin Kepala Puskesmas, dr Dea Sari bersama stafnya 6 bidan.

Mereka adalah, Fenny Ulya Pratama, Rina Siburian, Ruth Ulyasih, Nurul Hidayah, Elti Riani, Elsa Febrianti dan Berta Karo-karo. Berta Karo-karo merupakan bidan koordinator yang membawahi sejumlah bidan desa lainnya. Untuk diketahui, di kecamatan tersebut terdapat 12 desa.

Sistem kerja alarm persalinan yang masih off-line ini sangat sederhana. Seluruh bidan desa wajib melaporkan para ibu hamil melalui jaringan BBM dan WA ke bidan koordinator. Data-data ibu hamil itu lantas diinput dalam komputer. Apa saja datanya? Ada nama ibu hamil, anak ke berapa yang akan lahir, nama suami, alamat, serta perkiraan akan melahirkan dengan waktu hitungan 9 bulan 10 hari.

Setelah semuanya masuk database, operator setiap hari akan mengecek ke database siapa kira-kira ibu hamil yang akan melahirkan. Jika sudah sesuai dengan tanggal perkiraan akan melahirkan, begitu ada ibu hamil yang akan melahirkan akan terdengar suara alarm bayi menangis.

Baca juga: Hindari Kematian Bayi, Ibu Hamil Jangan Sampai Kekurangan Gizi

"Jadi kami setiap hari membuka database ini. Jika di-enter ada suara tangisan bayi, maka berarti ada ibu hamil yang akan melahirkan. Di sana akan jelas nama ibu, alamat, nama suami dan nama bidan desanya," kata Berta Karo-karo kepada detikHealth.

Alarm persalinan ini sudah dibuat sejak tahun 2015 dan baru dioperasikan secara maksimal awal tahun 2016 lalu. Dengan pendeteksi tersebut, diharapkan bisa mengurangi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Memudahkan Pemantauan

Aplikasi alarm persalinan ini walau masih offline, tapi sudah sangat mempermudah untuk mengetahui para ibu hamil di sana. Jumlah penduduk di Kecamatan Kerinci Kanan, sekitar 20.792 jiwa. Rasio rata-rata ibu hamil setiap tahunnya diperkirakan 2,6 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 510 angka ibu hamil.

Untuk tahun 2017 ini, pada April tercatat ada 169 ibu hamil dan yang sudah melahirkan 151 orang. Semuanya terpantau lewat aplikasi alarm persalinan.

"Sejak tahun 2015 hingga 2017 di tempat kami tidak ditemukan AKI. Ada 4 bayi yang mati pada tahun 2017. Namun itu bukan karena tidak terpantau, tapi sejak kandungan bayi ini sudah terdeteksi ada kelainan. Misalkan, tanpa batok kepala. Itu semua sudah terprediksi lewat cek USG," tambah bidan Elsa Febrianti.

Dengan aplikasi alarm persalinan ini, koordinator bidan di puskesmas akan setiap harinya memantau perkembangan para ibu hamil. Sekalipun belum waktunya melahirkan, bidan desa wajib mengontrol para ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan minimal 4 kali selama kehamilan.

Walaupun kadang tidak semua ibu hamil melahirkan dengan persalinan bidan desa, namun pihak Puskesmas tetap akan mencatat dengan rapi dimana ibu hamil itu melahirkannya. Karena bisa jadi, ada persalinan yang di kampung halamannya, atau di luar kota.

"Kami tetap akan mendata secara lengkap. Dicatat, kapan lahirnya, berapa berat bayinya, lewat persalinan normal atau tidak. Semuanya tetap kami input," kata Elsa.

Di data alarm persalinan ini, juga diberi tanda ada warna biru dan merah di setiap ibu hamil. Tanda biru biasanya dianggap kehamilan yang normal yang dilihat dari usia ibu, tinggi badan dan yang lainnya. Sedangkan tanda merah yang ada di data aplikasi, kriterianya, ibu hamil dengan usia di atas 40 tahun, atau anak ke 2 atau ke 3 dan seterusnya.

"Untuk bertanda merah ini, kami selalu peringatkan bidan di desa untuk memantau hal itu. Karena tanda merah ini rawan dibandingkan ibu hamil tanda warna biru. Lewat aplikasi itu semuanya terkontrol dengan cermat kondisi dan perkembangan si ibu," kata Elsa.

Zero AKI

Dengan aplikasi ini, maka alarm persalinan ala bidan desa di Siak ini, bisa mengurangi AKI dan AKB. Karena selama ini penyebab kematian ibu hamil di Indonesia 80 persen karena komplikasi. Misalkan, perdarahan, infeksi, hipertensi kehamilan. Sedangkan 20 persen lagi karena faktor terlambat dalam mengambil keputusan, terlambat sampai ke tempat rujukan, dan terlambat dalam mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

"Alhamdulilah, dengan aplikasi ini kita zero AKI. Aplikasi ini alarm persalinan ini terus kita sosialisasikan ke perangkat desa dan seluruh masyarakat untuk mencegah kehamilan lewat waktu," kata Kepala Puskesmas Kerinci Kanan, dr Dea Sari.

Menurut dr Dea, awalnya alarm persalinan ini ditandai dengan suara nada dering sebagaimana lazimnya yang ada di HP. Belakangan nada dering itu atas saran Kepala Dinas Kesehatan Kab Siak, dr Tonny Candra nada dering persalinan diganti menjadi suara tangisan bayi. Begitu database berdering suara tangisan bayi, itu bertanda ada ibu yang akan melahirkan.

Jika sudah suara tangisan bayi, bidan desa menuju lokasi ibu hamil. Kalaupun saat itu ibu hamil belum ada tanda-tanda akan melahirkan, pihak Puskesmas akan merujuk ibu tersebut ke dokter spesialis ke rumah sakit umum. Pihak medis hanya memberikan batas waktu 4 hari ke depan.

"Jika batas empat hari belum juga melahirkan, maka itu bertanda ada masalah. Kami akan tetap sarankan untuk diambil tindakan medis," kata dr Dea.

Walau kadang, katanya, masih ada persepsi masyarakat melebihi batas waktu melahirkan dianggap hal yang biasa karena sudah turun temurun hal itu dilakukan warga. Namun dari segi medis, tetap disarankan untuk diambil tindakan.

"Kan memang masih ada mitos di tengah masyarakat, ada yang melahirkan sampai 10 bulan dan itu hal biasa. Tapikan dari segi medis ini jelas tidak normal. Di sinilah kadang kita selalu memberikan pengertian kepada ibu hamil dan suaminya untuk bisa menerima anjuran dari kita diambil tindakan medis," tutup dr Dea.

Ide para bidan desa ini, ternyata hanya ada satu-satunya di Indonesia. Itu sebabnya, alarm persalinan dengan teknologi sederhana dan biaya murah ini, juga diikutsertakan dalam metode pelayanan publik di Kementeria PAN RB. Dari 3500-san pelayanan publik yang diajukan dari seluruh instansi pemerintah yang ada di Indonesia ini, alarm persalinan masuk dalam 99 pelayanan publik terbaik.

Baca juga: Dokter: IMD Minimal 1 Jam Adalah Hak Ibu dan Bayi, Jangan Ragu Minta(cha/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit