detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Suami Protes karena Kerap Memberi Nafkah pada Orang Tua

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 13/06/2017 16:15 WIB
Suami Protes karena Kerap Memberi Nafkah pada Orang TuaIlustrasi foto: thinkstock
Jakarta, Saya anak ketiga dari empat bersaudara. Saya menikah tahun 2013 yang lalu. Sebelum menikah, saya selalu memberi nafkah kepada orangtua saya karena memang saya bekerja dan itu tidak menjadi masalah atau beban buat saya pribadi. Setelah menikah, saya masih bisa memberikan nafkah tetapi dengan jumlah yang agak dikurangi dan tentu saja dengan sepengetahuan suami.

Suami agak kurang setuju karena dia melihat seolah-olah hanya saya yang diandalkan oleh orang tua sedangkan kedua kakak saya tidak padahal mereka lebih mampu daripada kami. Saya sering bersitegang dengan suami untuk urusan ini karena terkadang saya harus mengorbankan banyak hal, misalnya kebutuhan rumah tangga sendiri agar dapat memberikan bantuan ekonomi untuk ibu saya.

Ibu saya seolah tidak mau tahu apakah kondisi ekonomi saya dan suami baik atau tidak pokoknya harus ada 'jatah' setiap bulannya. Saya sering memberi pengertian kepada ibu saya bahwa saya mungkin tidak bisa lagi setiap saat membantu perekonomian keluarga karena saya sudah menikah berbeda dengan waktu saat saya masih lajang tetapi ibu saya selalu marah dan menyebut saya durhaka. Di mata suami saya, ibu saya terlalu pilih kasih dengan anak-anaknya. Saya paham betul bahwa kita sebagai anak wajib berbakti dan membantu orangtua tetapi jika sang anak tidak mampu bagaimana? Apakah harus dipaksakan?

W (Perempuan, 31 tahun)

Jawaban

Dear Mbak W,

Menafkahi orang tua memang disarankan, apalagi jika orangtua sudah tidak memiliki penghasilan. Besar kecilnya tentu saja menyesuaikan dengan keadaan Anda, terutama jika Anda sudah berkeluarga. Hal yang selama ini Anda lakukan sudah baik sekali, Anda tetap melibatkan suami dalam pengambilan keputusan untuk menafkahi ibu.

Memang masih ada orangtua yang mengganggap anak sebagai 'investasi', sehingga ketika anak-anak sudah mulai memiliki penghasilan sendiri, orangtua merasa ini adalah saatnya untuk anak 'membalas budi' kepada orangtua. Namun, jika ini tidak berlaku pada kakak-kakak Anda, barangkali memang ada alasan lain di balik hal tersebut. Ada juga orangtua yang tidak nyaman untuk 'meminta' kepada anak, sehingga mengandalkan yang memang selama ini sudah terbiasa. Atau bahasa cinta orangtua adalah ia diberi hadiah ( bisa berupa uang atau materi lainnya) oleh anak-anaknya.

Kata-kata durhaka memang biasa terucap ketika seseorang sedang merasa marah atau kecewa, bagaimana Anda sendiri menghayati perkataan tersebut? Jika kewajiban untuk membantu orangtua dalam bentuk uang sudah terinternalisasi di dalam diri Anda, maka perasaan bersalah setiap kali tidak bisa menafkahi Ibu seperti biasanya memang lebih mudah untuk muncul. Jika dibiarkan, ada kemungkinan munculnya masalah lain dalam bentuk yang berbeda. Misalnya, jadi merasa terbebani, merasa bersalah dan akhirnya berpengaruh terhadap relasi dengan pasangan yang sudah Anda rasakan saat ini.

Jika Anda memang memutuskan untuk membantu ibu semampu Anda, Anda juga perlu belajar untuk mengatasi rasa tidak nyaman yang muncul dari rasa bersalah atau durhaka tersebut. Membantu orang tua memang wajib, dan membantu dalam bentuk uang hanyalah salah satu cara dari sekian banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu.

Seberapa besar yang bisa diberikan dalam bentuk uang, amat bergantung kepada kemampuan dan kesepakatan Anda dan pasangan, apalagi jika Anda saat ini tidak bekerja. Apakah selama ini Anda sudah berdiskusi dengan kakak-kakak Anda mengenai hal ini? Anda bisa menghitung seberapa banyak kebutuhan rutin rumah tangga orangtua dan kemudian membagi-nya dengan kakak-kakak Anda. Sepakati juga jumlah yang dapat Anda berikan kepada Ibu bersama pasangan. Misalnya berapa persen dari penghasilan, selebihnya hanya jika memang ada pengeluaran yang sifatnya darurat.

Mengharapkan orangtua untuk mengerti terkadang memang tidak mudah. Biarkan perlahan-lahan orangtua juga memahami bahwa bantuan tidak harus selalu berbentuk uang tetapi bisa saja berupa perhatian. Libatkan kakak-kakak dan adik Anda. Belum tentu mudah. Hanya biasanya akan lebih baik jika Anda merasa melakukan sesuatu ketimbang Anda hanya berdiam diri atau memaksakan diri. Semoga jawabannya bisa membantu ya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit