detikhealth

Wanita Ini Tuntut Negaranya Karena Sakit-sakitan Akibat Polusi Udara

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 14/06/2017 11:38 WIB
Wanita Ini Tuntut Negaranya Karena Sakit-sakitan Akibat Polusi UdaraClotilde Nonnez, wanita yang menuntut negaranya karena dirasa tak bisa melindunginya dari dampak polusi udara yang dideritanya. (Foto: surat kabar Le Monde)
Paris, Dewasa ini, Paris dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia, meskipun belum separah kota-kota di Asia seperti Beijing dan Seoul.

Namun dampaknya sudah dirasa sangat buruk, setidaknya oleh seorang wanita bernama Clotilde Nonnez. Namanya mengemuka di hadapan publik setelah ia dikabarkan berupaya menuntut pemerintah Prancis karena efek buruk dari polusi udara yang dirasakannya.

Wanita berusia 56 tahun ini mengaku sudah tinggal di ibukota Paris sejak 30 tahun lalu. Akan tetapi belakangan kesehatannya menurun. Padahal selama ini ia hidup sehat, apalagi sejak dulu ia bekerja sebagai penari dan belakangan menjadi instruktur yoga.

Kendati begitu, ia mengaku heran karena masalah kesehatan yang dihadapinya bersangkutan dengan sistem pernapasan, dimulai dari asma kronis hingga pneumonia.

Bahkan kesehatannya makin memburuk setelah tingkat pencemaran udara di Paris dinyatakan mencapai level terburuk pada Desember 2016 lalu. Saat itu, otoritas Paris mengumumkan kota dalam keadaan waspada karena pekatnya polusi di udara hingga Menara Eiffel yang menjadi ikon kota mereka nyaris tak bisa dilihat dengan mata telanjang.

"Saya tak bisa bernapas dan mengalami demam. Tenggorokan saya juga rasanya sakit sekali. Saya sempat mengira umur saya akan berakhir," tuturnya kepada le Parisien.

Saat itulah Nonnez meyakini kesehatannya menurun drastis. Bahkan tak berapa lama kemudian gangguan bronkitis yang dialaminya memicu terjadinya serangan pericarditis akut.

Pericarditis merupakan peradangan pada lapisan di sekeliling jantung yang memicu rasa sakit seperti tertekan di dada, tak ubahnya serangan jantung. Dikutip dari www.heart.org, bila dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu ritme dan fungsi jantung, hingga mengakibatkan kematian.

"Dokter yang merawat saya mengatakan udara Paris sudah sangat tercemar sehingga kita menghirup udara yang sangat kotor. Ia juga menangani pasien lain seperti saya, bahkan anak-anak dan bayi juga. Begitu juga dengan dokter spesialis jantung saya," tutur Nonnez.

Pengacara Nonnez menambahkan, polusi udara telah mengakibatkan 48.000 warga Prancis meninggal dunia tiap tahunnya.

"Untuk itu kami menuntut pemerintah karena menurut kami masalah kesehatan yang dialami korban-korban polusi udara ini adalah akibat dari kurangnya upaya yang dilakukan otoritas untuk mengatasi polusi udara," tegas sang pengacara, Francois Lafforgue kepada surat kabar Le Monde dan dikutip dari BBC, Rabu (14/6/2017).

Sebagai kompensasinya, menurut Lafforgue, Nonnez meminta ganti rugi sebesar 140.000 Euro atau setara dengan Rp 2 miliar lebih untuk menutup biaya pengobatan yang harus ditanggungnya karena dampak polusi udara di Paris.

Lafforgue menambahkan, Nonnez memang orang pertama di Prancis yang mengajukan tuntutan semacam ini. Akan tetapi dalam waktu dekat akan ada 30-an orang yang menyusul Nonnez untuk mengajukan tuntutan serupa dari kota-kota lainnya seperti Lyon dan Lille.

Baca juga: Efek Buruk Asap Rokok dan Asap Kendaraan Bermotor di Jalanan

Kaitannya dengan peningkatan kadar polusi udara di Paris, otoritas setempat telah melakukan sejumlah upaya. Salah satunya dengan menerapkan denda untuk kendaraan yang tidak menggunakan stiker 'Crit'Air' sebagai bagian dari skema untuk memperkenalkan kendaraan beremisi rendah.

Mobil-mobil keluaran sebelum tahun 1997 juga dilarang dipergunakan lagi sebab diyakini menimbulkan polusi udara yang paling besar. Pemerintah juga menggratiskan transportasi publik agar warganya tidak mengendarai mobil saat beraktivitas.

Sejumlah jalan besar di Paris juga dilarang dilintasi oleh kendaraan bermotor, termasuk jalanan di dekat Right Bank of the River Seine sepanjang 3 km yang disulap menjadi pedestrian atau hanya boleh dilewati pejalan kaki.

Baca juga: Risiko yang Mengancam Kesehatan Akibat Polusi Udara di Jalur Mudik

Laporan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 92 persen populasi dunia telah terpapar polusi udara di atas batas kewajaran. Persoalannya, ini juga disebut berkontribusi memicu berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung dan stroke.

Dalam sebuah kesempatan, dr Adelena Anwar, SpTHT-KL mengungkapkan polusi udara tidak hanya berasal dari luar ruangan tetapi juga dari dalam rumah. Misalnya pada rumah-rumah yang dilengkapi kipas angin atau AC.

"Nah, berapa sering kita bersihin AC atau kipas angin? Kalau nggak rutin dibersihkan, akan berpengaruh pada kualitas udara yang masuk ke tubuh. Kipas angin atau AC berdebu terus debunya kepapar ke kita," jelasnya beberapa waktu lalu.

Selain AC dan kipas angin, karpet lantai, sofa, dan karpet mobil yang jarang dibersihkan pun berpotensi menjadi sumber polusi udara. Terlebih jika memiliki binatang peilharaan, bulu-bulu anjing atau kucing juga bisa menjadi alergen bagi seseorang yang memiliki alergi.(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit