detikhealth

Kebiasaan Makan Mi Instan yang Tidak Sehat Menurut Pakar

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 19/06/2017 18:16 WIB
Kebiasaan Makan Mi Instan yang Tidak Sehat Menurut PakarIlustrasi mi instan (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Apapun mereknya, entah itu samyang atau mi instan lokal yang beredar di Indonesia, keduanya diklaim sama-sama tidak menyehatkan. Namun bukan hanya produknya saja yang tidak sehat.

Sejumlah pakar sepakat cara pengolahan mi instan yang tidak sehat atau tidak tepat juga ikut memperburuk risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat mengonsumsi mi instan.

Seperti apa kebiasaan makan mi instan tak sehat yang dimaksud? Berikut paparannya, seperti dirangkum detikHealth, Senin (19/6/2017).

Baca juga: Samyang Ditarik dari Peredaran, Ingatkan Bahaya Konsumsi Mi Instan Berlebihan

1. Dimasak setengah matang
Ada sebagian orang yang sengaja memasak mi dalam keadaan setengah matang demi menghindari lodoh atau mi yang melembek sehingga kurang nikmat ketika disantap. Padahal kebiasaan ini ada efek sampingnya lho.

"Ya mungkin karena dia masih keras dan belum berkembang betul. Jadi ketika masuk perut, dia baru berkembang dan bisa jadi inilah yang memicu sakit perut pada orang-orang tertentu," tandas Prof dr Endang L Achadi, MPH, Dr.PH dari Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI).

Ditambahkan Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, pakar kesehatan pencernaan dari RS Cipto Mangunkusumo, bumbu mi instan yang tidak matang juga bisa memicu sakit perut.

Lagipula mi instan sendiri terbuat dari tepung terigu yang ditambahkan dengan zat-zat pengembang. Bahan-bahan ini diketahui dapat menimbulkan gas. "Bumbunya itu juga biasanya bisa merangsang iritasi pada lambung karena ada pedasnya," katanya.

2. Menggunakan air bekas rebusan
Menggunakan air bekas rebusan atau menggantinya dengan air yang baru sebagai kuah memang jadi pilihan masing-masing orang. Namun air bekas rebusan mi instan diklaim mengandung banyak lemak, sehingga perlu dibuang.

"Itu memang salah satu cara untuk mengeliminasi lemak yang terkandung dalam air rebusan. Memang gurihnya hilang, tapi ini kembali kepada kebutuhan masing-masing," terang dr Nany Leksokumoro, MS, SpGK, dari Omni Hospital.

Ditambahkan nutrisionis Astri Kurniati, ST, MAppSc dari Nutrifood Research Centre, air rebusan mi bisa berubah menjadi keruh karena proses pembuatan mi instan yang digoreng sampai kering (deep fried). Proses ini menjadikannya lebih awet.

"Direbus terus airnya keruh itu karena ada sebagian lemak atau pati yang terlepas. Namanya digoreng, minyak jenuh yang menempel saat kita rebus kan akan keluar," urainya.

Tetapi itu berarti kuah mi instan kaya akan lemak jenuh sehingga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi berlebihan. Ia juga sependapat jika dibutuhkan, air yang dipakai untuk mi sebaiknya diganti.

Kebiasaan Makan Mi Instan yang Tidak Sehat Menurut PakarFoto: iStock


3. Dikonsumsi berlebihan
Ada pakar yang mengatakan mi instan baiknya dikonsumsi dua kali dalam seminggu atau satu kali dalam sebulan. Lantas sebenarnya berapa frekuensi ideal untuk mengonsumsi mi instan?

"Saya tidak bisa mengatakan how much is too much. Tetapi seharusnya yang lebih diutamakan adalah konsumsi makanan segar, bukan makanan olahan karena namanya juga diproses maka ada bahan kimia yang bisa jadi berbahaya bagi kesehatan," tegas Prof Endang.

Aturan ini juga berlaku untuk mereka yang gemar makan mi instan setiap hari. Ia tidak melarang siapapun makan mi instan, asalkan tidak dikonsumsi setiap hari, mengingat kandungan karbohidrat dan lemaknya yang tinggi.

Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menambahkan, konsumsi mi instan baiknya hanya dilakukan saat darurat saja. "Ya just in case saja. Kalau memang tidak ada makanan lain yang bisa dikonsumsi saya kira boleh-boleh saja, lihat-lihat situasi dan kondisinya," ujarnya.

Dokter yang berpraktik di Divisi Gastroenterologi, Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM tersebut menambahkan seumpama ada makanan lain dianjurkan untuk tidak mengonsumsi mi instan.

Baca juga: Tanggung Sendiri, Risiko Mengonsumsi Mi Instan Berlebihan

4. Dimakan saat sahur
Mi instan disarankan untuk tidak dipilih saat bersantap sahur, sebab dapat memicu lapar dengan cepat.

"Mi instan itu mengandung kadar glikemik yang tinggi, padahal energi yang kita keluarkan banyak sehingga cepat lapar," jelas dr Tirta Prawita Sari, MSc, SpGK.

dr Nurul Ratna Manikam, SpGK dari RS Cipto Mangunkusumo menambahkan, ini bertentangan dengan aturan menu sahur yang baik, di mana makanan memiliki kandungan gizi lengkap, yaitu terdiri atas karbohidrat kompleks, protein dan serat.

Sedangkan mi instan dikatakannya hanya berupa karbohidrat simpel. Artinya, proses perubahan karbohidrat menjadi glukosa, lalu diserap oleh tubuh hanya membutuhkan waktu sebentar. Itulah sebabnya jika sahur dengan mi instan maka rasa lapar akan lebih cepat datang daripada jika sahur dengan nasi.

Foto: iStock


5. Menggunakan seluruh bumbu yang ada
Yang membuat mi instan terasa nikmat adalah bumbu yang menyertainya. Namun Astri pernah menjelaskan bahwa mengurangi penggunaan bumbu pada mi instan dapat memangkas jumlah asupan garam harian.

Dalam bumbu mi instan atau produk makanan instan lain, garam umumnya digunakan sebagai penambah rasa.

Itu artinya, bila seluruh bumbu yang disertakan dalam mi digunakan sepenuhnya, maka risiko gangguan kesehatan bisa saja muncul.

dr Andry Hartono, SpGK dari RS Panti Rapih Yogyakarta juga mengatakan, untuk mengurangi dampak buruk dari mengonsumsi mi instan adalah tidak menggunakan minyak yang menjadi bagian dari bumbu-bumbu yang disertakan dalam mi instan.

"Kalau bisa bumbunya dipakai setengah saja supaya tidak terlalu asin. Bisa juga gunakan kaldu ayam buatan sendiri sebagai bahan dasar kuahnya," ujar nutrisionis Leona Victoria Djajadi, MND.

6. Tidak ditambah sayur
Kendati secara umum mi instan dikatakan tidak sehat, nyatanya mi instan masih bisa disantap dengan cara yang sehat. Bisa dengan menambah sumber nutrisi lain atau mengolahnya dengan tepat.

Untuk penambahan nutrisi, Anda bisa memasukkan sayur dan telur, masing-masing sebagai sumber serat dan protein yang tidak dimiliki mi instan.

Sayuran yang bisa dipilih di antaranya wortel, sawi, tomat dan lain-lain. Anda juga dapat menambahkan sumber protein seperti telur, ikan, tempe, dan daging. Namun tidak disarankan protein yang kandungan nutrisinya kurang seperti kornet.

"Tujuannya adalah agar bukan hanya kebutuhan energi saja yang terpenuhi, melainkan kebutuhan protein, vitamin, lemak, dan serat juga terpenuhi," jelas pakar nutrisi, Jansen Ongko, MSc, RD.

Baca juga: Konsumsi Mi Instan Tinggi, Begini Cara Pakar Membendungnya(lll/ajg)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close