detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Sering Bertengkar Depan Anak karena Suami Selingkuh

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 04/07/2017 16:15 WIB
Sering Bertengkar Depan Anak karena Suami SelingkuhIlustrasi pasutri sedang bertengkar/Foto: thinkstock
Jakarta, Mbak, saya sudah menikah 25 tahun. Singkat cerita suami saya selingkuh dan pertengkaran menjadi sering terjadi. Saya selalu meminta diceraikan saja tapi suami saya tidak mau dan mengancam bunuh diri. Saya khawatir Mbak terhadap psikis anak-anak saya karena pertengkaran ini selalu terjadi di depannya dan ia selalu terlibat untuk melerai. Bagaimana solusi terbaiknya Mbak? Terimakasih.

A (Perempuan, 47 tahun)

Jawaban

Dear Ibu A,

Keinginan untuk menyudahi pernikahan setelah mengetahui pasangan berselingkuh, apalagi setelah 25 tahun, sebenarnya merupakan sebuah respon wajar yang bisa dipahami dalam situasi seperti ini. Kekecewaan, kemarahan, rasa tidak percaya, belum lagi emotional rollercoaster yang biasa muncul juga bukan sesuatu yang mudah untuk dihilangkan begitu saja. Waspadai jika mulai muncul gejala-gejala fisik seperti kesulitan tidur, tidak nafsu makan, tidak stabilnya emosi, kecemasan tinggi, dan lain sebagainya yang bertahan lebih dari 1 bulan ya, Bu.

Saya bisa memahami jika pertengkaran yang terjadi setelahnya pun, membuat Anda semakin ingin mengakhiri hubungan. Memulihkan luka akibat perselingkuhan memang sulit tetapi bukan berarti tidak bisa dipulihkan. Semakin dalam dan semakin besar lukanya, tentu semakin lama pula pemulihannya dan menjadi semakin penting untuk dipulihkan. Perceraian tidak selalu menjadi jalan keluar, karena tidak jarang luka perselingkuhan terbawa juga ke hubungan selanjutnya dan bisa terbawa ke dalam relasi Anda dan anak-anak.

Di sisi lain Anda sudah memiliki 25 tahun kebersamaan yang saya yakin tidak semuanya berisi duka, Anda tentu juga punya banyak 'tabungan kebahagiaan' yang membuat Anda bisa mempertahankan 25 tahun perkawinan. Hanya saja saat ini Anda masih belum bisa melihat kembali hal-hal penuh suka cita yang sudah dilalui bersama karena saat ini Anda sedang terluka.

Adanya pertengkaran yang dipenuhi ancaman tentu saja memang tidak sehat untuk semua pihak yang terlibat di dalamnya. Apakah selama ini suami memiliki pola mengancam seperti ini ketika menghadapi permasalahan? Jika ini terjadi setelah kasus perselingkuhannya, bisa jadi ini merupakan langkah putus asa karena rasa bersalahnya dan ia tidak cukup percaya diri untuk bisa mempertahankan Anda setelah apa yang ia lakukan. Apakah ia sudah pasti akan melakukan ancaman tersebut? Belum tentu. Hanya saja ancaman bunuh diri memang tidak bisa diabaikan.

Jika saat ini interaksi Anda dan suami masih tegang, itu wajar kok. Berilah waktu bagi diri Anda dan perkawinan agar dapat pulih kembali. Pada beberapa kasus, ada juga pasangan yang meminta waktu untuk berlibur , atau melakukan hal yang selama ini tidak bisa ia lakukan karena terfokus pada mengurus rumah tangga. Ada juga yang meminta pasangan untuk menjauh dulu sementara waktu dan sebagainya. Dari proses ini masing-masing memiliki waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri, melakukan eksplorasi dan introspeksi mengenai apa yang bisa dilakukan ke depannya.

Beri anak-anak Anda juga waktu untuk mencerna apa yang terjadi pada orangtuanya, dan diskusikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan mengenai hal ini. Perselingkuhan juga bisa dampak terhadap anak-anak, tanpa adanya kekerasan. Tidak mudah tentunya dilakukan di saat Anda juga mungkin masih bergelut dengan perasaan Anda. Minta bantuan dari orang terdekat yang Anda percayai untuk memberikan dukungan, termasuk untuk anak-anak Anda. Pada banyak kasus dukungan dari orang-orang terdekat sangat membantu untuk proses pemulihan luka yang terjadi.

Jika memungkinkan, lakukan konseling keluarga. Jika Anda masih tidak ingin membawa pasangan juga tidak apa-apa. Lakukan dari hal yang paling memungkinkan untuk dilakukan, seperti untuk diri Anda sendiri dan anak-anak ke depannya. Tidak jarang dari kasus yang datang ke ruang konseling dan diawali dengan kasus perselingkuhan, justru membuka masalah-masalah yang sebenarnya sudah lama terjadi jauh sebelum perselingkuhan, yang bisa jadi tidak disadari sebelumnya. Dengan terbukanya perselingkuhan, masing-masing pihak bisa lebih terbuka dan saling memperbaiki diri satu sama lain. Tentu saja langkah utamanya adalah menerima bahwa perselingkuhan sudah terjadi, berhenti untuk saling menyalahkan dan memulihkan luka.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit