detikhealth

Ini Alasan Bumil Harus Kontrol Asupan Makanan Manis Saat Hamil

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 10/07/2017 09:38 WIB
Ini Alasan Bumil Harus Kontrol Asupan Makanan Manis Saat HamilIbu hamil tidak disarankan terlalu banyak makan makanan manis karena suatu alasan. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta, Nafsu makan saat mengandung boleh melonjak. Akan tetapi ini tetap harus dikendalikan, terutama pada jenis makanan tertentu seperti makanan atau minuman manis.

Alasannya, sebuah penelitian terbaru mengatakan ibu hamil yang terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis maupun yang berpemanis buatan berisiko melahirkan anak dengan alergi atau asma.

Gagasan untuk meneliti hal ini muncul karena tingginya jumlah anak pengidap asma di negara-negara Barat. Untuk saat ini WHO mencatat 235 juta anak di seluruh dunia mengidap asma. Angka ini diperkirakan naik menjadi 400 juta di tahun 2025.

"Namun sampai saat ini kami belum tahu apa penyebabnya. Hanya saja kami menduga ini ada kaitannya dengan perubahan pola makan, mengingat konsumsi gula (baik yang alami maupun buatan) dan sirup jagung berfruktosa tinggi meningkat dalam kurun yang sama," kata peneliti Annabelle Bedard dari Queen Mary University of London.

Baca juga: Ada Perubahan pH dalam Tubuh, Wajar Jika Ibu Hamil Ngidam Makanan Asam

Timnya kemudian mengamati lebih dari 9.000 pasangan ibu dan anak yang lahir di tahun 1990-an dan menghitung asupan gula si ibu selama kehamilan melalui kuesioner. Lalu hasilnya dibandingkan dengan diagnosis alergi dan asma pada anak-anak mereka mulai usia 7 tahun.

Faktanya, 62 persen anak tidak mengidap alergi, tetapi sisanya memperlihatkan satu-dua gejalanya, di antaranya 22 Persen mengidap alergi, 16 persen eksim, 12 persen asma, 11 persen mengi dan 9 persen alergi rhinitis (hay fever).

Akan tetapi bila dibandingkan antara ibu yang mengonsumsi gula paling sedikit selama kehamilan (kurang dari 34 gram atau 7 sendok teh sehari) dan yang mengonsumsi gula paling banyak (82-345 gram atau 16-69 sendok teh sehari), maka anak dari ibu yang konsumsi gulanya paling tinggi berisiko 73 persen lebih banyak untuk memperoleh diagnosis alergi, pada satu allergen atau pemicu maupun lebih.

Anak-anak ini juga memiliki risiko 101 persen lebih banyak untuk menderita asma dibandingkan anak-anak dari ibu yang konsumsi gulanya paling sedikit saat mengandung.

"Namun kami tidak mengatakan ini pasti terjadi. Bisa saja karena kebetulan saja. Kendati begitu dengan melihat tingginya risiko yang ditemukan, kami nampaknya perlu melakukan penggalian lebih mendalam," imbuh Bedard.

Baca juga: Ibu Hamil Disarankan Kurangi Makanan Olahan Tepung dan Gula, Ini Alasannya

Secara umum, WHO telah merekomendasikan pembatasan asupan gula pada bukan saja ibu hamil tetapi semua orang. Namun khususnya pada ibu hamil, hal ini harus menjadi perhatian karena makan sehat (termasuk mengurangi gula) dibutuhkan untuk mengurangi risiko diabetes gestasional atau diabetes saat kehamilan yang lazimnya terjadi pada ibu dengan kelebihan berat badan.

"Kondisi ini bisa meningkatkan risiko bayi lahir terlalu besar, persalinan caesar dan preeklamsia," tambahnya seperti dilaporkan CNN.

Baca juga: Nyam! Ada Banyak Sajian Lezat Saat Lebaran, Adakah yang Dipantang Ibu Hamil?(lll/mrs)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit