detikhealth

Kisah Wanita Tangguh Layani Ibu Hamil di Pelosok Sulsel

Widiya Wiyanti - detikHealth
Rabu, 12/07/2017 14:13 WIB
Kisah Wanita Tangguh Layani Ibu Hamil di Pelosok SulselRohani Daeng Tene mendedikasikan dirinya untuk kesehatan dan keselamatan ibu hamil (Foto: Widiya Wiyanti)
Jakarta, Tingginya tingkat kematian ibu karena kehamilan, melahirkan, dan nifas disebabkan oleh kurangnya kesadaran para ibu mengenai risiko berbahaya bagi dirinya juga bayinya. Terhitung pada tahun 2016, terdapat 4.912 kasus kematian ibu dan anak di Indonesia.

Banyak orang yang tidak peduli akan hal tersebut, namun berbeda dengan seorang wanita tangguh yang berasal dari Tamaone, Sulawesi Selatan, Rohani Daeng Tene. Rohani (48) memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan ibu dan anak.

Ia mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk mengkampanyekan pentingnya melahirkan di puskesmas. "Saya kader posyandu dari tahun 1993. Saya cuma ibu rumah tangga, kadang kalau rumah berantakan, terus saya dipanggil ya saya tinggalkan," ceritanya di hadapan awak media pada acara media gathering di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Rabu (12/7/2017).

Baca juga: Kisah Inspiratif Mantan Putri Indonesia Saat Berjuang Melawan Kanker

Ibu enam anak ini mengaku sangat senang membantu orang lain terutama ibu hamil. Ia selalu membujuk setiap ibu hamil yang ada di desanya untuk rutin memeriksakan kandungannya secara berkala, serta selalu mendampingi saat melahirkan.

"Awalnya ibu-ibu nggak mau melahirkan ke puskesmas, maunya di rumah. Tapi saya bilang kalau di puskesmas ada bidan, kalau pendarahan di rumah ga ada yang tolong," ujar Rohani.

Ia tidak pernah lelah untuk terus menyerukan pentingnya menjaga kesehatan saat mengandung. Rohani mengaku selalu mengantarkan ibu yang ingin melahirkan sampai ke puskesmas.

Baca juga: Perjuangan Leni, Jualan Kue untuk Melawan Kanker Payudara Stadium Empat

Untuk mengantarkan ibu hamil, Rohani mengungkapkan harus meminta suami dan anaknya membuat tandu darurat dari bilah-bilah bambu yang berfungsi menopang kursi di atasnya untuk tempat duduk pasien.

"Ditandu ke puskesmas, kira-kira 1,5 jam jalan kaki. Terus baru bisa naik mobil kira-kira 10 menit," katanya.

Begitu sulitnya akses ke puskesmas tidak membuatnya lelah untuk menolong orang lain. Hingga saat ini, ia masih sigap untuk mengantarkan pasien melahirkan.

"Saya bangga bisa menolong orang," pungkasnya.

Baca juga: Kisah Anisa, Bocah Penyintas Autoimun Langka yang Inspiratif

(wdw/up)


 
Foto Terkait

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit