detikhealth

Konsultasi Laktasi
dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC

Dokter Laktasi dan Ibu Menyusui di RS Permata Depok
Ketua Tim Laktasi RS Permata Depok
Koordinator Pelatihan Manajemen Laktasi Perinasia Pusat

Lama Tak Beri ASI pada Anak, Tapi Sekarang Air Susu Keluar Lagi

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 03/08/2017 13:09 WIB
Lama Tak Beri ASI pada Anak, Tapi Sekarang Air Susu Keluar LagiIlustrasi ibu dan anak/Foto: thinkstock
Jakarta, Selamat siang Dok, saya mau tanya, saya kan sudah melahirkan, tapi saya tidak memberikan ASI untuk anak saya walaupun air susu saya ada. Kenapa sekarang malah keluar lagi ya Dok air susunya? Terimakasih.

Indah (23 tahun)

Jawaban

Selamat siang Ibu, selamat atas kelahiran bayinya...

Untuk pemberian asupan bayi usia 0-6 bulan, dianjurkan memberikan ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI saja tanpa tambahan apapun selain ASI, termasuk susu formula. Setelah 6 bulan, anak idealnya mulai diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai WHO, sambil terus melanjutkan menyusui sampai 2 tahun. Pemberian susu formula tanpa indikasi yang tepat akan menimbulkan banyak sekali kerugian bagi anak maupun ibu.

Ketika Ibu memberi susu formula pada bayi Ibu, Ibu meningkatkan peluang bayi mengalami alergi, asma, infeksi telinga, infeksi pernapasan, gangguan pencernaan, gangguan jantung dan pembuluh darah, obesitas, diabetes, anemia defisiensi besi, kanker anak, gangguan tidur, kematian bayi mendadak, masalah gigi dan maloklusi, gangguan perilaku, IQ dan perkembangan kognitif yang lebih rendah, autisme, serta paparan kontaminan lingkungan.

Ketika seorang Ibu tidak menyusui, maka Ibu makin berpeluang untuk mengalami diabetes, obesitas, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, osteoporosis, kanker payudara/ indung telur/ rahim, dan Alzheimer. Semua yang telah disebutkan telah dibuktikan melalui penelitian yg diakui di dunia oleh orang-orang yang ahli di bidangnya.

Selain bahaya dari susu formula itu sendiri, biasanya pemberian susu formula pada bayi identik sekali dengan penggunaan dot yang ternyata juga memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang yang beragam. Dot sangatlah rentan kontaminasi karena karetnya yang merupakan media tumbuh kuman yang sangat baik dan karena banyaknya zat merugikan hasil reaksi plastik yang dipanaskan setiap hari, yang semakin lama semakin banyak terakumulasi dalam tubuh bayi, sehingga menurunkan daya tahan tubuh bayi dan bayi menjadi sangat rentan terkena penyakit infeksi.

Dot juga dapat menimbulkan masalah gigi dan maloklusi rahang, serta jauh lebih tinggi risiko tersedak dibandingkan pemberian dengan media gelas atau sendok. Anak yang terlanjur mengenal dot juga akan sulit sekali disapih dari dot saat sudah beranjak besar, sehingga akan mempengaruhi sisi psikologis anak tersebut bila tidak berhasil dipisahkan dari dot saat berusia 2 tahun, terlebih lagi jika sampai melewati batas 3 tahun. Hal tersebut akan mempengaruhi kemandirian sang anak di masa depan dan juga dalam hal mengambil keputusan.

Kami berharap semoga penjelasan di atas dapat memberikan pengetahuan dan semangat bagi ibu untuk menumbuhkan keinginan untuk menyusui anak ibu, terlebih lagi bila ASI ibu masih keluar dan diproduksi.

Pada prinsipnya ASI diproduksi sesuai kebutuhan bayi (supply on demand). Namun, dalam masalah ini ada 3 tahapan pembentukan ASI (laktogenesis) yang perlu ibu ketahui. Laktogenesis 1 adalah pembentukan ASI saat masa kehamilan, dimana payudara dipersiapkan untuk proses menyusui.

Pada tahap ini ASI sudah diproduksi, namun masih ditahan oleh hormon kehamilan. Yang berikutnya adalah Laktogenesis 2, yaitu pembentukan ASI setelah kelahiran bayi di mana ASI akan tetap diproduksi walaupun tanpa rangsangan dari hisapan bayi, sampai bayi berusia 8 hari. Setelah ini, barulah masuk pada laktogenesis 3, di mana pembentukan ASI dipengaruhi oleh hisapan bayi yang efektif dan pengosongan payudara. Semakin sering payudara dihisap dan dikosongkan, maka semakin banyak produksi ASInya. Bila ibu tidak menyusui, maka lambat laun payudara akan mengurangi produksi ASI bahkan sampai ASI kering.

Pengurangan jumlah produksi ASI ini disebut dengan masa involusi, di mana payudara yang selama 40 hari tidak mendapat rangsangan sama sekali akan mulai berhenti memproduksi ASI. Namun terkadang, rangsangan yang dimaksud bukan hanya berasal dari bayi, tapi bisa juga dari orang lain, misal suami atau si kakak (jika bayi bukan anak pertama). Dan ASI yang diproduksi di dalam payudara bisa dengan mudah keluar saat ibu merasa rileks dan senang.

Bila dengan penjelasan ini Ibu berubah pikiran dan mempunyai keinginan untuk menyusui, kami sarankan untuk segera berkonsultasi ke klinik laktasi agar dapat segera dibantu untuk memulai proses menyusui dengan indah dan nyaman.

dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC
Dokter Laktasi dan Ibu Menyusui di RS Permata Depok
Ketua Tim Laktasi RS Permata Depok
Koordinator Pelatihan Manajemen Laktasi Perinasia Pusat
www.rspermatadepok.com(hrn/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit