detikhealth

Awalnya Sariawan, Ini Kisah Aktivis Migrant Care Melawan Tumor Lidah

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Selasa, 08/08/2017 11:15 WIB
Awalnya Sariawan, Ini Kisah Aktivis Migrant Care Melawan Tumor LidahTumor bisa menyerang siapa saja (Foto: Facebook/Anis Hidayah)
Jakarta, Kisah haru 'Selamat Jalan Suamiku' begitu viral di media sosial, mengisahkan ketegaran Rezy Selvia Dewi yang suaminya meninggal karena kanker lidah. Aktivis Migrant Care, Anis Hidayah terpanggil untuk membagikan pengalamannya bergelut dengan jenis tumor yang sama.

Sama seperti suami Selvia, Anis pada awalnya juga mengeluh sariawan yang tidak sembuh-sembuh. Berbulan-bulan sariawan itu tidak dianggapnya sebagai masalah, hingga akhirnya benjolan dalam mulutnya makin sempurna membentuk daging dan mengganggu bicara.

Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, Anis akhirnya menjalani operasi pada Desember 2015. Tumor di mulutnya akhirnya diangkat, lalu diteliti dan hasilnya tidak ditemukan ada keganasan.

"Semoga cerita ini bisa menjadi penguat bagi siapapun yang mengalami hal yang serupa bahwa kita tidak perlu menunda periksa dan harus berjuang," tutup Anis mengakhiri ceritanya.

Baca juga: Kisah Haru 'Selamat Jalan Suamiku' Banjir Simpati di Medsos

Selengkapnya, berikut ini penuturan Anis Hidayah tentang pengalamannya bergelut dengan tumor, yang dimuat atas izin yang bersangkutan.

Anis HIdayat, seorang aktivis Migrant Care pernah bergelut dengan tumor lidahAnis Hidayah, seorang aktivis Migrant Care pernah bergelut dengan tumor lidah. Foto: Facebook/Anis Hidayah


Melawan Tumor, Melawan Diri Sendiri

Anis Hidayah

Tak pernah saya menyangkal bahwa siapapun bisa mengidap sakit apapun, termasuk tumor. Meski sakit yang satu ini bisa menaikkan bulu kuduk ketika kita menyebutnya.

Sekitar pertengahan Mei 2015, saya mengalami sariawan. Seperti biasanya, saya tidak pernah menganggap sariawan itu sakit, sehingga tak pernah mengobatinya. Hingga awal Juni, sariawan yang "tidak saya anggap sebagai penyakit itu" agak mengejutkan saya karena mengakibatkan saya demam, tidak bisa makan dan sedikit mengalami gangguan untuk bicara. Ternyata lukanya memang sedikit besar dan menganga. Tapi tetap saja, saya tidak mengobatinya, apalagi saat itu kebetulan saya harus bepergian ke Geneva Switzerland selama hampir 10 hari untuk mengikuti sidang ILC (International Labour Conference) di ILO. Sepulang dari Geneva (sekitar pertengahan Juni 2015), saya merasakan sakit sariawan saya hilang dengan sendirinya. Namun luka putihnya tetap menganga. Sekali lagi, saya belum mengangapnya.

Pada minggu kedua bulan Juli 2015, bersamaan dengan perayaan hari raya Idul Fitri, saya bersama keluarga pulang kampung ke kampung suami di Banyuwangi. Mungkin karena lelah, saya kena flu, sempat demam dan pusing. Tiga hari, badan semakin meriang. Saya memutuskan untuk periksa ke dokter. Menurut dokter, saya hanya kecapaian dan dikasih obat. Pada saat pemeriksaan, dokter meminta saya untuk membuka mulut dan memeriksa dengan seksama. Dokter bertanya hingga dua kali, "sariawan ya?". Di akhir pemeriksaan, saya disarankan oleh dokter untuk memeriksakan sariawan saya sekembalinya di Jakarta, siapa tau harus diambil.

Dari situlah kemudian saya mulai memerhatikan "sariawan yang selama ini tidak saya anggap sebagai penyakit". Suami dan mertua saya jadi penasaran, semuanya ingin melihat. Kami lihat bersama-sama melalui cermin, saya mulai merabanya, terasa agak kenyal seperti daging. Sejak itu saya mulai berpikir bahwa inikah tumor? Namun saya memilih untuk meredamnya. Tetapi diam-diam suami saya mencari informasi melalui google tentang sakit yang saya sedang alami. Setelah membaca berbagai referensi yang disertai gambar, suami saya kembali melihat mulut saya. Dengan hati-hati, dia bilang bahwa ini bisa saja di sebut "Tumor Rongga Mulut". Saya agak syok, tapi saya tetap santai meresponnya.

Hampir setiap hari suami saya meminta agar saya menyempatkan diri untuk konsultasi ke dokter. Namun karena kesibukan dan sebenarnya saya juga agak sedikit takut, maka saya tak kunjung ke dokter. Tetapi diam-diam saya juga merasakan, bahwa benjolan dalam mulut saya semakin sempurna membentuk daging dan kadang-kadang sedikit mengganggu bicara. Dari Juli, Agustus, September, sekitar tiga bulan lamanya, saya tak kunjung juga ke dokter. Hingga pada tanggal 13 Oktober 2015, saya dihantarkan suami untuk periksa di Fakultas Kedokteran Gigi dan Mulut Universitas Indonesia, Salemba Jakarta Pusat. Ada alasannya, kenapa saya diajak kesana, bukan rumah sakit, supaya saya mau.

13 Oktober 2015, jam 08.10 kami sudah tiba di Fakultas Kedokteran Gigi dan Mulut Universitas Indonesia, Salemba Jakarta Pusat. Setelah antri selama sekitar satu jam, akhirnya saya diperiksa secara bertahap. Saya menjalani pemeriksaan secara komprehensif: dilakukan rekam medik bagaimana asal muasal benjolan itu, difoto, dianalisis penyebabnya hingga rontgen sampai sekitar jam 14.00-an. Pemeriksa itu adalah dokter Selfi yang sangat teliti melakukan itu dengan sabar, sungguh saya beruntung bertemu dokter ini. Orangnya mungil seperti saya, hehe, gaya bahasanya lembut, namun jelas. Saya diyakinkan bahwa ini harus diambil untuk diteliti. Dari situlah saya mengenal istilah "biopsi" , yang berarti pengambilan jaringan.

Karena di Fakultas Kedokteran Gigi dan Mulut Universitas Indonesia fasilitasnya tidak selengkap rumah sakit, maka saya disarankan untuk segera periksa di klinik gigi dan mulut RSCM. Dengan dibekali surat pengantar, saya diminta untuk segera periksa di RSCM untuk membuat janji operasi. Iya, "operasi". Saya harus operasi. Menurut dokter Selfi, operasi sekitar satu jam, mungkin rawat inap beberapa hari pasca operasi.

Awal November, saya baru sempat periksa di klinik gigi dan mulut RSCM. Karena saya pasien baru, maka perlu menjalani birokrasi yang lumayan. Dari jam 09.00 pagi registrasi dulu, hingga sekitar jam 09.30 saya sudah mengantri di Klinik Gigi dan Mulut, lantai 3. Ruangannya agak sempit, yang ngantri cukup banyak. Beberapa kali saya ingin mundur, tapi terus terang saya malu dengan suami saya yang hari itu sekali lagi menemani dengan sabar dan meninggalkan kampusnya, alias ijin tidak mengajar. Hingga sekitar pukul 13.15 saya baru diperiksa di ruang 10, ruang tindakan gigi dan mulut.

Saya menjalani pemeriksaan dari awal lagi, ditanya kronologi benjolan hingga sampai pada kesimpulan bahwa saya harus "dibiopsi". Adalah dokter Reggi yang juga sangat sabar memeriksa. Saya harus membuat kesepakatan/janji waktu untuk operasi. Akhir Oktober (26-29 Oktober) saya harus melakukan wawancara calon komisioner Ombudsman RI (kebetulan saya salah satu pansel/ panitia seleksi) dan Migrant CARE sedang memiliki hajatan besar "Jambore Nasional Buruh Migran Indonesia" yang mengundang 1500 dari seluruh Indonesia pada 25-27 November 2015, maka saya memutuskan untuk operasinya setelah jambore.

Setelah Jambore kelar dan berhasil merumuskan rekomendasi penting untuk perbaikan tata kelola migrasi, saya merasa secure dan siap untuk menjalani operasi. Tepat tanggal 10 Desember 2015, bertepatan dengan peringatan hari hak asasi manusia, saya kembali ke RSCM untuk membuat janji operasi. Pemeriksaan hari itu diputuskan bahwa tanggal 13 Desember jam 09.00 saya akan di operasi. Terus terang jantung saya berdebar kencang karena 18 Desember adalah momentum penting, peringatan hari buruh migran sedunia di mana Migrant CARE seperti biasanya memiliki serangkaian agenda. Kalau tanggal 13 Desember operasi, diperkirakan tanggal 15 sudah sembuh, katanya hanya perlu waktu sekitar tiga hari. Bismillah, saya sepakat.

15 Desember 2015, saya berangkat jam 06.00 dari Depok agar jam 09.00 sampai RSCM. Setibanya di rumah sakit, saya ditensi, hasilnya 153/110, lumayan fantastis, mungkin karena saya tegang sehingga tensi saya tinggi. Setibanya di ruang 10, dokter Reggi bingung, nampaknya ada miss komunikasi antara suster dan dokter. Saya bilang bahwa pagi ini saya akan "dibiopsi". Dokter Reggi mengajak kami (saya dan suami) duduk dijelaskan bahwa biopsi memang termasuk operasi kecil, tetapi prosesnya sama dengan operasi besar. Memerlukan pemeriksaan secara komprehensif sebelum operasi dilakukan. Hari itu saya gagal dioperasi. Saya harus menjalani serangkain tes darah, kemudian hasilnya harus dikonsulkan dengan bagian anestesi. Operasi saya diperkirakan tanggal 22 Desember 2015 setelah saya dipastikan sehat secara medis untuk menjalani operasi.

Setelah menerima satu lembar surat pengantar untuk cek laboratorium lengkap, tanggal 17 saya pergi ke klinik laboratorium di Kelapa Gading yang dekat dengan kantor. Karena saya tidak puasa, maka ada beberapa cek darah yang harus ditunda besoknya, 18 Desember 2015, jam 07.00 pagi.

18 Desember 2015, hari buruh migran sedunia. Jam 05.00 pagi saya sudah berangkat dari rumah, menuju laboratorium di Kelapa Gading untuk menyelesaikan cek lab yang mengharuskan puasa. Tepat jam 07.00, saya sudah tiba dan langsung dicek. Hanya sekitar 10 menit. Saya langsung menuju istana, untuk demonstrasi, mengingatkan Negara untuk melindungi buruh migran. Setelah pegang TOA dan orasi sebentar, saya pamit dulu kepada teman-teman untuk ke RSCM, karena harus konsultasikan hasil cek laboratorium ke bagian anestesi.

Jam 10.00 saya sudah sampai RSCM, dan langsung menuju ruang pre anestesi untuk daftar cek pre anestesi. Sayangnya saya tidak bisa langsung daftar karena harus melampirkan hasil laboratorium yang masih diambil teman di Kelapa Gading. Sekitar jam 11.00, hasil lab datang dan saya langsung daftar. Karena hari itu hari Jumat, maka ada jam istirahat untuk sholat Jumat. Sekitar jam 13.45, saya baru dapat antrean. Jadi saya menunggu hamper 5 jam, sendirian di lorong RSCM, dan tensi darah saya hari itu 90/85, lumayan rendah. Selama masa menunggu antrean itu, terus terang saya agak down, saya sempat menangis, air mata jatuh untuk yang petama karena sakit ini. Saya mengumpulkan kekuatan untuk "siap" menjalani operasi, saya tahu ini operasi kecil, bahkan sangat kecil, tapi nyali saya juga terasa kecil hari itu. Kebetulan hari itu saya sendiri, karena suami saya tidak bisa menemani.

Setelah diperiksa oleh dokter pre anestesi, sekitar 10 menit pemeriksaanya untuk antrean 5 jam, saya dinyatakan sehat untuk operasi tanggal 22 Desember 2015, jam 09.00. Kelar pemeriksaan, saya langsung ke Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, jam 18.00, Migrant CARE menggelar rangkaian akhir hari buruh migran dimana selain ada diskusi, Migrant CARE malam itu juga memberikan anugerah khusus "Migrant CARE Award untuk almarhumah Yanti Muchtar" sebagai pioneer advokasi hak-hak buruh migran perempuan. Mba Yanti meninggal dunia pada 18 November 2015 setelah berjuang melawan kangker agresif. Penganugerahan itu juga menguatkan saya bahwa selama masih ada jalan untuk berusaha sembuh, harus ditempuh.

Sesuai kesepakatan dengan RSCM, tanggal 21 Desember 2015 saya harus masuk untuk rawat inap dulu sebelum menjalani operasi tanggal 22 Desember 2015 dengan ditemani suami dan mertua saya yang khusus datang untuk nemanin operasi menantunya, beberapa teman dari Migrant CARE dan Kapal Perempuan serta sahabat lama waktu di pesantren, Nurul Azkiyah. Selasa, 22 Desember 2015, bertepatan dengan hari kebangkitan perempuan, yang hari itu saya maknai sebagai kebangkitan melawan penyakit, saya siap 100% untuk menjalani operasi. Semula operasi dijadwalkan jam 09.00, namun karena ada anak yang harus operasi, maka didahulukan. Telpon saya berdering, saya tahu itu dari radio, saya jawab halo, nampaknya minta wawancara jam 15.00 dan saya sampaikan bahwa saya lagi persiapan operasi (. Sekitar jam 12.00, saya dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Saya melewati deretan teman-teman Migrant CARE untuk memberikan dukungan, tetapi saya tidak berani menatap mereka karena takut jadi emosional. Saya juga tidak berani memandang suami dan mertua. Baju operasi sudah saya kenakan, dan masuk ke ruang operasi. Lampu-lampu besar di atas agak membuat sedikit tegang, tetapi dinetralisir oleh para team dokter yang sangat informatif. Setelah dijelaskan prosedur operasi dan berapa lama operasi akan berlangsung, saya kemudian dibius total.

Masih di dalam kamar pasca operasi, dalam kondisi setengah agak sadar, saya melihat jam dinding pukul 15.00. Mulut saya dipenuhi kasa, tentu saya tidak bisa bicara. Saya lambaikan tangan, suster datang dan saya menuliskan sesuatu diatas kertas "tolong panggilkan suami saya". Sedikit samar saya mendengar suster memanggil, suami pasien ibu Anis Hidayah. Suami saya datang, tangan saya digenggam, tidak ada kata-kata yang keluar, tapi saya lihat matanya sebam. Jam 16.00 saya dibawa ke kamar, saya lihat banyak teman yang datang, ada mba Missi dan Mas Wahyu, Ema yang dari kemarin sama Bariyah duet mencari kamar (, teman-teman Migrant CARE masih full di sana. Saya juga dikasih tau kalau kakak saya, mas Ilham juga sempat menunggu saat saya operasi. Terima kasih semuanya. Jam 16.00-17.00 sisa-sisa darah segar seperti tumpah dari mulut saya, tisu satu pak besar habis, saya lihat suami dan mertua panik. Hingga malam hari, saya belum bisa bicara. Malam itu saya melakukan dialog dengan menulis di atas kertas). Sekitar jam 19.00, suami menelpon rumah, mengabarkan bahwa saya telah operasi dan lancer tetapi saya belum bisa bicara. Anak saya yang ragil, Sakwa (4 tahun) menangis terisak-isak, mama mama.... Menurut cerita mba Jamik, Pekerja Rumah Tangga saya, malam itu Sakwa terus menangis, dan meminta kertas. Kemudian dia menggambar tiga orang yang bergandengan tangan, ditulisin "mama", "kakak", "adik". Tulisan mama dia cium-cium hingga tertidur.

Jam 01.00 dini hari saya terbangun, dan agak terkejut karena saya sudah bicara. Pagi harinya, dokter yang melakukan anestesi, dokter Resti melakukan control. Operasi berjalan baik, saya harus latihan menngerakan mulut dan belajar mengunyah makanan biar mulut tidak kaku dan sore harinya saya sudah bisa pulang ke rumah. Perjalanan ini belum selesai, karena puncaknya adalah hasil patologi terhadap tumor saya yang masih dilakukan penelitian.

5 Januari 2016, kami (saya dan suami) kembali ke RSCM untuk mengambil hasil patologi, apakah tumor saya jinak atau ganas. Kalo jinak, maka pengobatan ini sudah selesai, kalau ganas, maka harus dilakukan penyinaran untuk membunuh jaringannya. Betapa gembiranya kami, setelah melihat hasil patologi yang menyatakan bahwa "tidak ditemukan tanda-tanda keganasan". Alhamdulillah, suami menggenggam tangan saya dan saya bisa merasakan kelegaannya melewati proses ini. Dan saya baru tahu bahwa selama ini dia sangat panik karena membaca banyak referensi di mana tumor rongga mulut mayoritas ganas dan saya juga baru mendapat cerita bahwa selama saya di kamar operasi, dia menangis. Terima kasih ayah.

Semoga cerita ini bisa menjadi penguat bagi siapapun yang mengalami hal yang serupa bahwa kita tidak perlu menunda periksa dan harus berjuang.

Salam hangat...

Cerita ini ditulis di atas pesawat saat menuju Doha
Doha, 21 Februari 2016(up/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Database Dokter Obat Penyakit