detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Pria yang Galau Memilih Selingkuhan atau Istri yang Mapan

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 11/08/2017 10:59 WIB
Pria yang Galau Memilih Selingkuhan atau Istri yang MapanIlustrasi pria yang galau pilih selingkuhan atau istri mapan/Foto: thinkstock
Jakarta, Dear Mbak Wulan, saya sudah menikah selama lima tahun dan saya menikahi dia karena dasar rasa sayang, istri saya sangat baik sekali bahkan sangat sempurna mulai dari mengurus rumah tangga, anak, hingga finansial tapi saya tidak cinta. Sekarang ini saya sedang selingkuh, jatuh cinta sama seseorang dan dia pun cinta sama saya namun belakangan ini dia mulai menjauh karena tidak mau menyakiti istri saya dan akan dilamar. Tapi saya tidak bisa menjauhi dia karena selalu teringat dan nggak mau kehilangan.

Saya ingin nikahi dia dan perselingkuhan ini sudah diketahui istri saya. Istri sangat marah sama saya hingga urusan finansial pun dia sudah tidak mau bantu lagi. Yang jadi pertanyaan saya apakah saya harus memperjuangkan cinta saya kepada selingkuhan saya dengan konsekuensi saya akan hidup dari nol dan saya sebenarnya belum tahu karakteristik selingkuhan lebih baik dari istri? Secara finansial selingkuhan saya tidak baik. Apabila saya tetap memilih selingkuhan saya pasti mengorbankan anak, keluarga, dan kehidupan saya yang sudah sempurna.

Sedangkan jika saya memilih kembali kepada keluarga saya (istri saya) maka kejadian perselingkuhan akan terjadi lagi di kemudian hari karena saya tidak begitu mencintai istri saya dan saya ingin memiliki istri yang benar-benar saya cintai. kemungkinan istri saya juga sudah tidak akan percaya lagi terhadap saya. Mohon bantuan dan penjelasannya.

A (Laki-laki, 32 tahun)

Jawaban:

Dear Bapak A,

Dari pemaparan Anda, sepertinya Anda sudah menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Anda juga sudah mengetahui ada konsekuensi menyenangkan dan konsekuensi tidak menyenangkan dalam setiap pilihannya yang menjadi pertimbangan Anda.

Saya setuju bahwa memang ada kemungkinan istri tidak percaya pada Anda lagi. Kalaupun Anda memutuskan untuk kembali pada pasangan, sebaiknya tidak mengharapkan bahwa pasangan akan secara instan kembali seperti sebelum kejadian perselingkuhan, misalnya membantu Anda secara finansial.

Membangun kembali hubungan perkawinan paska perselingkuhan tidak selalu mudah, meskipun memang memungkinkan untuk dilakukan. Dibutuhkan komitmen dari kedua belah pihak untuk membangun kembali hubungan yang tidak selalu berjalan mulus. Dalam prosesnya, bisa saja Anda jadi menyesali keputusan untuk kembali, apalagi Anda punya pemikiran bahwa suatu saat Anda punya potensi untuk melakukan perselingkuhan lagi. Menurut Anda, sudah siapkah Anda untuk bertahan dan berkomitmen?

Saya juga setuju bahwa belum tentu selingkuhan akan lebih baik dari pasangan. Hal ini yang membuat dalam hubungan sehat akan ada komitmen kepada pasangan untuk saling menjaga hubungannya. Mereka juga tidak merasa perlu untuk membandingkan dirinya atau pasangannya dengan orang lain karena akan ada saja hal yang terlihat lebih baik dalam perjalanan hubungan. Menurut Anda, sudah siapkah Anda untuk berkomitmen dengan selingkuhan? Akan selalu ada yang lebih baik lagi muncul nantinya.

Saya tidak memahami definisi cinta dan sayang milik Anda, dan setiap orang memang berhak memiliki definisi dan bentuk cinta yang berbeda dari satu orang dengan orang lainnya. Cinta sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa komponen, seperti intimacy, passion dan komitmen. Jika salah satunya tidak ada, apakah berarti tidak cinta? Belum tentu. Bisa jadi cintanya tetap ada, namun dalam bentuk yang berbeda. Begitu pula rasa Anda kepada pasangan. Bisa jadi bentuk cinta dari pasangan, memang tidak sesuai dengan seperti yang Anda harapkan. Misalnya, bentuk cinta pasangan lebih ke dalam bentuk komitmen dan intimacy yang tertuang dalam bentuk dukungan finansial. Sementara Anda lebih mengharapkan rasa cinta yang menggebu-gebu (komponen passion lebih besar dibandingkan komponen lainnya), yang ternyata Anda dapatkan di selingkuhan.

Ada dua isu yang kerap muncul pada cerita Anda terkait dengan pilihan Anda, yaitu rasa cinta dan isu finansial. Hal ini membatasi diri Anda hanya pada dua pilihan untuk bertahan atau meninggalkan (dalam hal ini menikah dengan selingkuhan), padahal Anda masih memiliki alternatif pilihan lain, yaitu tidak bersama keduanya. Kenali apa yang membuat alternatif pilihan terakhir ini tidak muncul, rasa cinta kah? finansial kah? atau barangkali ada hal lain yang belum Anda sadari?

Apapun yang Anda pilih nantinya, sebaiknya beri jeda pada diri Anda terlebih dahulu dari keduanya agar Anda bisa berpikir dengan jernih. Siapapun yang Anda pilih, menjaga hubungan membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak. Tanpa adanya komitmen, dengan siapapun Anda saat ini, potensi perselingkuhan untuk terjadi lagi tetap sama besarnya. Sudah siapkah Anda berkomitmen?

Hubungan yang sehat tidak selalu bagaimana Anda memiliki hubungan yang membahagiakan Anda, tapi juga bagaimana Anda bisa menjadi orang yang membahagiakan pasangan, tidak hanya bagaimana berbagi dalam kebahagiaan tetapi juga bagaimana mengatasi kekecewaan. Buat pilihan yang bisa membuat Anda tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik lagi setiap harinya bagi diri sendiri dan orang lain.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit