detikhealth

Berkaca dari Bayu, Penderita Stroke punya Hak untuk Melawan Stigma

Erika Kurnia - detikHealth
Kamis, 24/08/2017 14:45 WIB
Berkaca dari Bayu, Penderita Stroke punya Hak untuk Melawan StigmaSopir taksi online Bayu. (Foto: bil wahid)
Jakarta, Banyak pejuang stroke yang harus berjuang ganda melawan penyakit dan stigma. Seperti halnya sopir taksi online, Bayu, yang berhasil menumbangkan Permenhub taksi online di Mahkamah Agung (MA) beberapa waktu lalu.

Setelah berjuang hidup dengan stroke selama 5 tahun, Bayu harus menerima bahwa dirinya sulit diterima kerja karena kondisinya. Akan tetapi dengan menjadi sopir taksi online, Bayu mendapat banyak pujian karena mampu melawan penyakit mematikan tersebut.

Dukungan berupa pujian tersebut merupakan salah satu hak bagi para penderita stroke untuk melawan stigma yang ada. Selain itu, ada beberapa hak bagi pejuang stroke yang perlu diperjuangkan:

1. Hak untuk berekreasi

Penelitian berjudul "Leisure Activity After Stroke" dalam Journal of Disability 1990 menunjukkan bahwa kesempatan penderita stroke untuk aktif berekreasi menurun. Didukung oleh studi lain dari Swedia, ketika stigma sosial menguat pada tahun pertama seseorang menderita stroke, maka frekuensi mereka untuk melakukan aktivitas rekreasi menurun.

2. Hak mendapatkan dukungan sosial

Dukungan sosial sangat penting bagi individu yang sudah pulih dari stroke. Studi telah menunjukkan bahwa pasien yang menderita stroke ringan atau parah, namun memiliki dukungan sosial yang sangat baik, akan cepat memperbaiki status fungsional dan psikososial yang lebih baik, daripada mereka yang memiliki sedikit dukungan. Kesimpulan tersebut menurut studi "First Stroke Recovery Process: The Role of Family and Social Support" dalam jurnal Archives of Physical Medicine and Rehabilitation.

3. Hak mendapat kepercayaan diri untuk berhasil

Kepercayaan pada kemampuan pribadi untuk berhasil dalam situasi tertentu sangat penting dimiliki oleh pejuang stroke. Hal ini akan berguna bagi penderita paraplegia atau penurunan kemampuan motorik dan sensorik akibat stroke. Ketidakpastian akibat paradigma stroke akan membuat mereka tidak bisa memprediksi keberhasilan dan hanya memikirkan kegagalan dalam banyak aktivitas.

4. Hak untuk menikmati waktu luang

Mendapatkan waktu luang, khususnya untuk aktivitas waktu luang fisik, merupakan bagian penting dari rehabilitasi pasca stroke untuk memperbaiki profil kesehatan fisik dan mental. Waktu luang dapat menurunkan perasaan terisolasi, kegelisahan, dan depresi. Namun, tetap membutuhkan dukungan sosial yang kuat untuk menyelesaikannya.(fds/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit