detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan

Suami Istri yang Depresi karena Dipecat dari Pekerjaan

Suherni Sulaeman - detikHealth
Senin, 18/09/2017 11:30 WIB
Suami Istri yang Depresi karena Dipecat dari PekerjaanIlustrasi suami istri yang sedang depresi karena sama-sama dipecat/Foto: thinkstock
Jakarta, Mbak, saya sudah memiliki tiga anak. Namun kondisi finansial saya dan suami benar-benar sedang diuji, di mana saya baru saja dipecat dan suami saya juga. Saya bingung mau bagaimana lagi. Hidup saya sehari-hari ini hanya mengandalkan uang pesangon yang diberikan dan jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Saya banyak mendapat tekanan dari keluarga untuk mencari pekerjaan. Tapi menurut saya kondisi psikis saya sedang tidak baik sehingga saya mudah marah jika diberi tahu. Terimakasih Mbak.

S (Perempuan, 39 tahun)

Jawaban:

Dear Ibu S,

Kebingungan dan kemarahan yang Ibu rasakan wajar sekali untuk dialami pada situasi tersebut. Rasa yang dialami ketika kehilangan pekerjaan biasanya serupa dengan rasa yang dialami saat kita kehilangan cinta atau kehilangan apapun yang pernah kita miliki. Pada situasi ini, memang wajar seseorang mengalami badai emosi, meskipun yang banyak muncul adalah penyangkalan, kesedihan, kecemasan dan kemarahan. Emosi-emosi ini merupakan bagian dari proses penerimaan ketika seseorang mengalami kehilangan. Yang perlu diwaspadai justru ketika Anda tidak merasakan apa-apa.

Saya memahami jika Anda merasa marah karena tekanan dari keluarga. Tanpa diingatkan oleh keluarga pun, Anda dan pasangan tentu sudah mengetahui bahwa paling tidak salah satu dari Anda berdua perlu memulai mencari pekerjaan untuk membiayai keluarga, yang sudah menjadi tekanan tersendiri. Tekanan dari keluarga seakan malah jadi menambah tekanan yang sudah ada.

Dalam situasi seperti ini, tidak hanya kondisi finansial Anda yang diuji. Kualitas hubungan dalam keluarga juga menjadi ujian untuk melewati situasi sulit. Tidak jarang masalah finansial memunculkan masalah-masalah atau ketegangan di dalam keluarga. Jika Anda dan pasangan memiliki hubungan yang kuat, Anda berdua bisa saling menguatkan dan fokus pada prioritas penggunaan budget dan saling menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Jika keluarga menekan Anda untuk segera memiliki pekerjaan, bagaimana jika hal tersebut dikembalikan kepada keluarga? Minta bantuan dari keluarga tentang apa yang bisa mereka berikan untuk membantu Anda. Bantuan tidak harus selalu dalam bentuk uang, namun bisa juga dukungan lain, seperti mencarikan lowongan pekerjaan (tidak hanya menyuruh namun membantu mencarikan).

Tetap pertahankan komunikasi dengan pasangan. Saat ini, bisa jadi pasangan adalah orang yang paling mengerti apa yang Anda rasakan. Diskusikan apa yang perlu dilakukan terlebih dahulu ke depannya untuk mengatasi masalah yang ada. Misalnya, mengevaluasi harta yang dimiliki dan mana yang benar-benar dibutuhkan atau ada yang memang sebenarnya tidak dibutuhkan dan bisa menjadi salah satu dana tambahan di situasi krisis ini.

Merasakan emosi-emosi yang Anda rasakan saat ini memang penting. Perlu diingat bahwa emosi-emosi ini juga bisa membahayakan ketika tidak bisa dikelola dan muncul dalam periode lebih dari 6 (enam) bulan. Misalnya, yang Anda rasakan sudah bukan sekedar marah tapi mengamuk, Anda sudah tidak bisa berfungsi untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan tidak ada keinginan mewarat diri.

Waspadai juga ketika tekanan sudah memunculkan gejala-gejala fisik seperti sakit kepala, sakit dada dan (menyerupai) serangan panik. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang mudah Anda akses saat ini.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close