detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan

Suami yang Jengkel karena Istri Menyukai Boyband Korea

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 19/09/2017 18:35 WIB
Suami yang Jengkel karena Istri Menyukai Boyband KoreaSuami jengkel karena istri menyukai boyband Korea/Foto: Thinkstock
Jakarta, Halo Mbak, saya mau tanya karena istri saya masih menyukai boyband korea dan saya nggak suka hal tersebut. Padahal istilahnya dia sudah menikah artinya dia sudah bukan remaja labil kan ya? Saya jengkel sendiri melihatnya dari galeri foto di handphone hingga menonton konser dengan tiket yang mahal. Saya harus bagaimana untuk memberitahu perannya sebagai istri Mbak? Terimakasih.

S (Laki-laki)

Jawaban:

Dear Mas S

Saya bisa mengerti jika Anda menganggap bahwa menjadi penggemar boyband korea, membuat pasangan seakan masih remaja labil. Sayangnya, menggemari sesuatu tidak selalu berpengaruh terhadap usia. Labil atau tidaknya seseorang juga tidak dinilai dari kesukaannya terhadap group musik tertentu, melainkan dari bagaimana ia dapat mengelola emosinya, bagaimana ia memecahkan permasalahan, dan sebagainya.

Ketika menjalin hubungan tentu saja memang kita memiliki harapan-harapan tertentu terhadap pasangan. Setelah menikah, peran yang dijalani pun akan bertambah dalam setiap tahapannya, seperti munculnya peran menjadi pasangan, peran ayah/ibu, dst. Penambahan peran tersebut tidak membuat peran seseorang untuk menjadi dirinya kemudian hilang.

Memiliki kegiatan sendiri yang tidak selalu terkait dengan pasangan (me time) biasanya mendatangkan kebahagiaan (dalam kasus Anda, kemungkinan yang mendatangkan kebahagiaan pada istri adalah boyband Korea. Pada kasus lain, tetap bekerja setelah menikah juga bisa sebagai cara untuk mendapatkan kebebasan intelektual dan independensi finansial). Dengan kebahagiaan tersebut, ia juga bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lainnya.

Saya ingin mengetahui lebih jauh apa yang sebenarnya membuat Anda merasa atau berpikir kesukaan pasangan terhadap boyband ini membuat ia menjadi tidak menjalankan perannya sebagai pasangan? Apakah ia membicarakan hal tersebut setiap saat seperti terobsesi sampai tidak bisa memikirkan pernikahan? Apakah kesenangannya terhadap boyband membuat Anda tidak dipedulikan sebagai pasangan? Apakah ia sama sekali tidak berperan sebagai istri? Atau sebenarnya ia dapat berperan sebagai istri, hanya Anda tidak menyukai hobi istri Anda saja?

Cari tahu dulu, apa yang sebenarnya membuat Anda kesal terkait masalah ini. Misalnya, ternyata masalahnya bukan pada boyband-nya, tetapi perhatiannya yang berlebih terhadap si boyband yang membuat ia mengabaikan Anda. Jika ini yang terjadi diskusikan alternatif yang bisa dilakukan, seperti tidak cek-cek foto / socmed boyband atau selalu mendengarkan lagu-lagu boyband saat Anda sedang bersamanya. Jika mahalnya konser membuat keuangan dalam pernikahan terganggu, diskusikan juga bagaimana mengelolanya. Misalnya, pilih satu dari banyak konsernya yang memang ingin ia datangi dengan pertimbangan finansial.

Meminta pasangan untuk sama sekali tidak menyukai kembali si boyband tentu tidak mudah, namun dalam pernikahan penyesuaian-penyesuaian tersebut yang perlu didiskusikan. Bagaimana membuat pasangan dan Anda sama-sama bisa berbahagia tanpa ada yang merasa perlu mengorbankan sesuatu untuk sama-sama bisa menularkan kebahagiaan, dan tidak kehilangan diri Anda sendiri dalam menjalankan pernikahannya.

Yang perlu kembali diingat adalah pernikahan memang menyatukan dua individu yang berbeda, di sisi lain dalam pernikahan juga tetap ada dua individu berbeda yang butuh ruang untuk tumbuh dan berkembang. Selamat tumbuh dan berkembang bersama.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit