detikhealth

Berbohong Demi Mendapat Pengakuan Bisa Dilakukan Orang dengan Megalomania

Erika Kurnia - detikHealth
Senin, 09/10/2017 15:31 WIB
Berbohong Demi Mendapat Pengakuan Bisa Dilakukan Orang dengan MegalomaniaDari banyak perilaku bohong megalomania adalah salah satunya. Foto: Ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Baru-baru ini, kita bisa belajar dari masalah yang melibatkan Dwi Hartanto, Mahasiswa S3 Technise Universiteit Delft di Belanda, yang sudah disebut-sebut sebagai "Penerus Habibie" karena prestasinya di bidang aeronautika. Dwi mengaku telah berbohong atas prestasi-prestasinya itu.

Perilaku berbohong sendiri sebetulnya adalah sesuatu yang muncul dari dorongan psikis seseorang. Baik yang disadari atau tidak, kebohongan banyak tipenya. Di antara yang terkait dengan keinginan mendapat pengakuan lebih adalah megalomania.

Megalomania diambil dari bahasa Yunani, yang berarti "obsesi besar". Dikutip dari laman Lifepersona, Senin (9/10/2017), megalomania adalah kondisi psikologis terkait munculnya obsesi atau khayalan seseorang dalam salah satu aspek pribadi, seperti kecerdasan, kekuatan fisik, keberuntungan, asal usul sosial, dan proyek besar yang tidak realistis.

Megalomania pertama kali diperkenalkan ke dalam dunia psikologi dan psikiatri oleh Sigmund Freud. Ahli saraf asal Austria mengatakan bahwa megalomania adalah bagian dari ciri gangguan mental ringan pada orang dewasa, yang dimanifestasikan dari akumulasi pengalaman di masa kanak-kanak.

Baca juga: Dwi Hartanto Idap Mythomania? Psikolog: Harus Lewati Pemeriksaan

Di sisi lain, psikoanalisi Kleinian menafsirkan megalomania sebagai mekanisme pertahanan psikologis. Dengan cara ini, orang dengan megalomania akan mengembangkan serangkaian pemikiran berlebih mengenai kapasitas pribadi mereka dengan tujuan menghindari depresi dari kondisi pribadi mereka yang sebenarnya.

Seberapa besar obsesi atau overestimasi seseorang terhadap kemampuannya yang disebut megalomania ini memiliki tingkat yang berbeda. Megalomania bisa disebut kelainan delusional jika khayalan atau klaim berlebih diungkapkan karena pikiran mereka terdistorsi dan sama sekali tidak realistis.

Di sisi lain, ketika megalomania hanya bersifat ringan, megalomania mungkin bukan gangguan psikologis dan dapat didefinisikan sebagai ciri kepribadian atau atribut psikologis. Namun, obsesi orang dengan megalomania ini juga bisa dianggap sebagai gangguan mental jika sudah mempengaruhi kehidupan orang tersebut.

Dengan demikian, megalomania merupakan kondisi psikologis yang mungkin terkait dengan gangguan mental. Megalomania juga merupakan gejala psikologis, yang dapat dikaitkan dengan tiga gangguan utama seperti gangguan kepribadian, gangguan delusional, dan gangguan bipolar. Untuk menegakkan diagnosis ini, pemeriksaan perlu dilakuan oleh orang yang ahli dalam bidangnya.

Baca juga: Lima Tipe Pembohong, Beberapa di antaranya Gangguan Kepribadian(fds/)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit