detikhealth

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Demi Kesehatan Jiwa, Jangan Ragu Ambil Cuti

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 10/10/2017 13:07 WIB
Demi Kesehatan Jiwa, Jangan Ragu Ambil CutiCuti adalah hak pekerja. Kapan saat yang tepat untuk mengambil cuti? Simak komentar pakar berikut ini. Foto: Fuad Hasim
Jakarta, Cuti merupakan hak pekerja. Pakar mengatakan cuti adalah salah satu cara untuk mencegah pekerja mengalami masalah kejiwaan akibat beban kerja yang terlalu berat atau jam kerja yang terlalu panjang.

dr Nuri Purwito, MSc, MKK, SpOK, dari Perhimpunan Dokter Spesialis kupasi Indonesia (PERDOKI) mengatakan cuti yang diberikan kepada karyawan harus dimaksimalkan. Ambil cuti disarankan saat Anda sudah mulai jenuh dengan pekerjaan dan membutuhkan suasana segar.

Baca juga: Pekerja Tak Pernah Cuti, Ini Risikonya Bagi Kesehatan Mental

"Jadi misalnya sudah sering ngeluh, marah-marah, sudah mulai pusing kalau di kantor, rasanya malas mau kerja, nah itu sudah saatnya mengambil cuti," tutur dr Nuri, kepada detikHealth, baru-baru ini.

Dikatakan dr Nuri, setiap orang memang memiliki batas ambang stres yang berbeda-beda. Namun jika dilihat dari teorinya, stres yang sudah memuncak biasanya akan membuat seseorang kehilangan gairah bekerja.

"Kalau sudah sering izin dari kantor, bolos atau benar-benar tidak produktif itu tandanya sudah parah stresnya. Cuti sudah nggak bisa menolong banyak, bisa minta bantuan ke psikolog atau psikiater," urainya lagi.

Secara terpisah, dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan stres karena pekerjaan bisa muncul kapan saja. Cara pertama untuk menghilangkan stres karena tekanan pekerjaan adalah dengan mengambil cuti.

Cuti bisa digunakan untuk pergi liburan atau istirahat di rumah bersama keluarga. Cara lainnya untuk mengurangi stres pekerja adalah perusahaan mau memberikan apresiasi terhadap karyawan yang sudah bekerja dengan giat.

"Nah, dengan memberi penghargaan, misalnya dengan lemburnya dibayar atau diberi bonus, akan membuat karyawan lebih termotivasi bekerja dan merasa dihargai. Jadinya dia nggak gampang kecewa yang jika ditambah tekanan bisa menyebabkan depresi," tutur dr Andri, kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Baca juga: Infografis: Dampak Stres karena Pekerjaan Pada Kesehatan Tubuh

(mrs/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit