detikhealth

Bisakah Mengenali Ciri Pelaku KDRT Seperti yang Dilakukan dr Helmi?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 10/11/2017 12:45 WIB
Bisakah Mengenali Ciri Pelaku KDRT Seperti yang Dilakukan dr Helmi? Wanita sebaiknya mengenali ciri-ciri pelaku KDRT seperti yang dilakukan dr Helmi/Foto: thinkstock
Jakarta, Seorang dokter bernama Helmi telah membabi buta dengan memuntahkan peluru ke arah istrinya, Letty hingga tewas. Diceritakan pihak keluarga istri, Helmi kerap mengancam akan membunuh sang istri bila diceraikan.

"Selama proses (cerai) berlangsung, pelaku telah mengajukan beberapa kali ancaman kepada almarhumah akan membunuh almarhumah dan keluarga sehingga terjadilah kejadian seperti ini," ujar anggota keluarga Letty, Gulfan Afero, lewat pesan singkat, seperti dikutip dari detikNews.

Lanjut Gulfan, selama Helmi dan istri membina rumah tangga, sang istri kerap dipukul hingga lebam di sekujur tubuh. Tak tahan dengan perlakuan Helmi, Letty sempat melapor ke kantor polisi hingga akhirnya menggugat cerai.

"Salah satu alasan yang mendorong almarhumah melakukan gugatan cerai adalah setelah dipukul oleh suaminya dan sekujur tubuhnya lebam. Almarhumah telah melaporkan kasus pemukulan tersebut tersebut ke kepolisian setempat dan telah dilakukan visum," jelas Gulfan.

Terkait peristiwa ini, semua wanita tentu tidak ingin memiliki pasangan yang suka main tangan. Namun kenyataannya masih ada wanita yang kurang beruntung seperti kasus Letty ini. Untuk menghindari hal tersebut terjadi, wanita sebaiknya mengetahui dan mempelajari ciri-ciri pria yang berpotensi menjadi pelaku KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Baca juga: Balada dr Letty: Korban KDRT, Minta Cerai dan Ditembak Mati Suami

Menurut psikolog klinis dewasa, Christina Tedja, M.Psi, Psikolog, atau yang akrab disapa Tina, secara umum memang agak sulit untuk memprediksi perilaku KDRT. Ketika pada masa pacaran yang berperilaku baik pun terkadang masih bisa berubah menjadi pelaku KDRT.

"Namun bisa dikira-kira, apakah sebelumnya memiliki kebiasaan mengatasi masalah dengan emosi seperti memukul, marah, atau kekerasan lainnya. Bisa juga dengan ada atau tidaknya 'budaya' kekerasan dalam keluarga terutama sejak kecil," ujar Tina saat dihubungi detikHealth.

"Tapi bukan artinya semua orang yang punya kebiasaan kekerasan pasti akan jadi pelaku KDRT yah. Bisa saja berubah karena satu dan lain hal. Itu hanya sebagai gambaran potensi saja," pungkasnya.

Baca juga: Mungkinkah Percekcokan Rumah Tangga Bikin Seseorang Halusinasi?(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit