detikhealth

Serum Antidifteri Terbatas, Kemenkes Imbau Dokter Lebih Teliti Diagnosis

Widiya Wiyanti - detikHealth
Senin, 04/12/2017 18:35 WIB
Serum Antidifteri Terbatas, Kemenkes Imbau Dokter Lebih Teliti DiagnosisWabah difteri (Foto: Thinkstock
Jakarta, Penyakit difteri tengah mewabah di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, pada kurun Oktober-November 2017 ada 11 Provinsi yang melaporkan KLB (Kejadian Luar Biasa) Difteri.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, dr H. M. Subuh, MPPM mengatakan bahwa serum antidifteri yaitu obat untuk difteri ada, namun terbatas.

"Permasalahan yang kedua adalah kecukupan terhadap antidifteri serum yang untuk mengobati difteri, stok dunia juga menipis," ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Senin (4/12/2017).

Baca juga: Menkes Sebut Jika KLB Difteri, Harus Ada Imunisasi Lagi

Oleh karena itu, Subuh sangat mengimbau para dokter untuk lebih teliti dalam mendiagnosis pasien, terutama yang memiliki gejala seperti penyakit difteri.

"Makanya kita mengimbau kepada seluruh dokter spesialis atau pelayan kesehatan, ini harus benar-benar teliti menegakkan diagnosa, jangan semua baru kira-kira. Karena ketakutan semua diberi ADS. Pada saat dia negatif ternyata tidak bisa nanti untuk yang lain," jelasnya.

Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diptheriae yang sangat menular. Gejalanya demam yang tidak begitu tinggi, sekitar 38 derajat celcius. Muncul membran atau selaput di tenggorokan berwarna putih keabu-abuan, mudah berdarah jika dilepaskan. Sering pula disertai bullneck atau pembengkakan jaringan lunak leher.

Baca juga: Difteri Mewabah, Kemenkes Tuding Penolakan Vaksin Sebagai Pemicu(wdw/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close