detikhealth

Adakah Kelainan Jiwa pada Orang yang Memutilasi Orang Lain?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Kamis, 14/12/2017 14:14 WIB
Adakah Kelainan Jiwa pada Orang yang Memutilasi Orang Lain?Membunuh dan memutilasi korban, belum tentu ada gangguan kejiwaan pada pelaku. Foto: Muhamad Kholil (21), tersangka pembunuh Nindy. (Istimewa)
Jakarta, Karawang digemparkan oleh berita heboh seorang pria, Muhammad Kholil yang dengan keji memutilasi istrinya sendiri, Siti Saidah alias Nindya hanya karena tidak tahan mendengar rengekan istrinya itu.

Motif mutilasi Nindya akhirnya terungkap. Menurut Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan, Kholil mengaku membunuh istrinya yang kerap merengek dibelikan mobil. "Iya betul. Pelaku tak tahan karena diejek," ujarnya, dikutip dari detikNews, Kamis (14/12/2017).

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa Kholil memiliki gangguan kejiwaan, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa itu merupakan perilaku seorang psikopat. Benarkah demikian?

Baca juga: Kejinya Suami Mutilasi dan Buang Kepala Nindya ke Air Terjun

Menanggapi kasus tersebut, dokter spesialis kejiwaan, Dr dr Irmansyah, SpKJ (K) mengatakan bahwa belum tentu orang yang membunuh kemudian memutilasi pasti memiliki kelainan jiwa.

"Rata-rata itu untuk menghilangkan jejak. Kalau memang itu suatu rasa marah yang luar biasa, biasanya mengakibatkan itu (membunuh dan memutilasi). Biasanya dikaitkan dengan emosional," jelas dokter yang juga Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI kepada detikHealth.

Menurut dr Irmansyah, perilaku Kholil tersebut hanya untuk menghilangkan jejak pembunuhannya saja, karena kerisauannya menyembunyikan jasad korban.

"Kalau ada kelainan, habis dimutilasi ya ditinggal gitu aja. Kalau kasusnya kemarahan akut, biasanya tidak ditinggalkan," tegasnya.

Baca juga: Saat Bertemu Orang dengan Gangguan Jiwa, Haruskah Menghindar?(wdw/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit