detikhealth

True Story

Cerita di Balik Viral Bayi 10 Hari yang Hidup di Kolong Jembatan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Selasa, 06/02/2018 16:52 WIB
Cerita di Balik Viral Bayi 10 Hari yang Hidup di Kolong JembatanFoto: Agung Pambudhy
Jakarta, Kisah Khaidar Ali sempat viral di media sosial. Berita mengenai bayi yang lahir dan hidup di kolong jembatan dan kesusahan mendapatkan asupan gizi ini jadi buah bibir di mana-mana. Ayahnya bekerja sebagai pemulung sampah sungai dan ibunya bekerja serabutan.

Rupanya, awal keluarga tersebut ditemukan yaitu oleh Hendra Lamia, sekretaris dari Yayasan Humanitas Insani (HATI) Indonesia yang kebetulan sedang mengkoordinir kegiatan bakti sosial "berbagi kasih", pada hari Sabtu (3/2/2018) di daerah dekat kolong jembatan tempat mereka tinggal.

"Saat itu nemu kok ada bayi baru lahir berumur satu minggu. Setelah saya selidiki ternyata tinggalnya di kolong jembatan," ujar Hendra. "Akhirnya saya bantu untuk membuatkan donasi karena untuk sehari-hari saja mereka makan susah."

Ditemani Hendra, detikHealth mengunjungi lokasi kolong jembatan tempat tinggal Khaidar Ali dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Jannah (17) menyambut bersama suaminya, Mahmud (43) sambil menggendong Khaidar yang tampak tertidur pulas dalam balutan selimut berwarna biru.

Khaidar Ali baru saja lahir pada tanggal 26 Januari 2018 lalu dengan bantuan seorang bidan. Lahir normal tanpa masalah apapun, bayi ini belum mendapatkan akta kelahirannya. "Ditahan sama bidan, karena masih utang bayar biaya lahir, " ungkap Mahmud.

Dalam kesehariannya, Mahmud bekerja sebagai pemulung sampah di sungai di bawah kolong jembatan yang menjadi "rumah"nya. Pendapatannya sehari hanya berkisar Rp30.000,00, yang ia gunakan untuk hidup sehari-hari termasuk kebutuhan popok Khaidar.

"Kalau lagi musim hujan gini, dapatnya bisa banyak. Dapat ember, botol, macem-macem. Kalau pas kering, dapetnya dikit. Cuma ya susahnya kalau musim hujan kita harus ngungsi karena air bisa naik," kata Mahmud. "Semalam dikabarin dari penjaga pintu air kalau air mau naik, jadi ngungsi dulu. Tapi ya kesusahan kalau ngungsi saat hujan, kasihan anak-anak."

Foto: Agung Pambudhy


Untuk mencuci baju dan mandi, mereka harus menggunakan air sungai. Air sungai tersebut mereka saring dua kali atau berkali-kali agar bisa digunakan. Namun tentu saja, air tersebut tidak bersih untuk digunakan.

Sementara Jannah masih bekerja serabutan sebelum Khaidar lahir, gajinya pun tak seberapa. Mahmud menceritakan bahwa untuk makan saja mereka masih harus berhutang, tetapi mereka berusaha menyicilnya dari uang yang mereka dapatkan.

Khaidar, bayi laki-laki bertubuh mungil berkulit putih dan bersih, kontras dengan kedua orang tuanya yang berkulit gelap. Beberapa hari yang lalu ia sempat batuk-batuk, namun akhirnya mereda setelah diberi obat batuk lewat ibunya walaupun Mahmud sempat merasa kebingungan.

"Alhamdulillah masih bisa ASI," kata Jannah sembari mengusap kepala Khaidar dan tersenyum. Lalu Mahmud menambahkan, "Tapi saya takut dia kelaparan, saya kasih itu bubur beras merah (instan) untungnya mau," tuturnya.

Foto: Agung Pambudhy


Kolong jembatan yang mereka sebut sebagai "rumah" itu hanyalah bentangan semen sepanjang dua meter. Mereka memanfaatkan rangkaian-rangkaian baja penopang jembatan sebagai tempat jemuran dan juga tempat bekerja bagi Mahmud.

Pada bentangan semen tersebut, ada beberapa kotak yang terbuat dari baja penopang yang kemudian mereka jadikan "rumah" untuk masing masing keluarga. Terlihat berbagai barang yang berserakan ditumpuk sembarangan dan gantungan pakaian.

Ada empat keluarga yang menghuni jembatan tersebut, dengan total sembilan orang termasuk keluarga Khaidar dan orang tua Jannah. Bagi mereka, orang-orang tersebut sudah seperti keluarga sendiri, yang saling membantu dan menolong satu sama lain.

Keluarga-keluarga tersebut ada yang sudah tinggal bertahun-tahun di bawah kolong jembatan, termasuk Tia (16) yang juga sudah memiliki satu anak laki-laki berumur sebelas bulan bernama Ivan. Tia lahir dan besar di kolong jembatan, sama halnya seperti anaknya Ivan tetapi Ivan tidak dilahirkan di kolong jembatan.

"Anak saya lahir tidak dibantu bidan, saya lahirkan sendiri di toko (tempatnya bekerja). Baru dibantu bidan setelah lahir karena butuh jahitan banyak, " Tia menceritakan kelahiran Ivan sambil menyusui anaknya memakai dot.

"Suami saya kerja jadi supir bajaj panggilan. Kalau butuh, baru dipanggil. Mau makan susah, untuk anak saya aja kadang saya kasih minum air biasa, kadang kalau ada uang ya beli susu yang 150 gram tapi airnya dibanyakin. Kalau kepepet, ya saya kasih minum pakai susu kental manis. Alhamdulillah akhir-akhir ini anaknya mau," katanya.

Foto: Agung Pambudhy


Baca juga: Foto: Umurnya Baru 10 Hari, Bayi Ini Hidup di Kolong Jembatan

Ivan tumbuh sebagai anak yang hiperaktif. Terpaksa, dengan kerjasama dari penghuni lain di kolong jembatan tersebut, mereka memasang "tembok" dari triplek untuk mencegah Ivan terjatuh ke sungai. Kadang, Tia membawa anaknya berjalan ke atas dekat jembatan, namun daerah tersebut juga rawan karena berdekatan dengan rel kereta.

Beberapa minggu yang lalu, Tia baru saja tertimpa musibah. Lilin yang menjadi penerangan mereka terjatuh dan membakar "rumah" miliknya. Karena di kolong jembatan tidak mendapat asupan listrik, mereka harus menggunakan lilin sebagai alternatif.

Banyak barang yang hangus terbakar karena tidak secepatnya diatasi, termasuk akta kelahiran Ivanpun ikut terbakar. "Rumah" Tia terlihat hitam legam habis terbakar di dinding semen dan baja-baja jembatan yang melingkupinya. Sementara, keluarga Tia tidur dengan alas kardus.

Khaidar dan keluarganya cukup beruntung. Mereka tidur berhimpitan di atas kasur lapuk yang sudah berjamur. Khusus untuk Khaidar, mereka beri bantal kecil. Jika malam, udara cukup dingin sehingga mereka harus tidur berdekatan.

"Sering bermasalah dengan departemen sosial dan satpol PP, main kucing-kucingan. Kalau ada satpol PP biasanya langsung pergi, kalau sudah selesai balik lagi. Soalnya mereka suka main buang barang-barang untuk mengusir kami, dianggapnya kami sampah, kali," terang Mahmud.(up/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit