detikhealth

Sepanjang 2017, Kanker Memicu 3.900 Kematian di Jakarta

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Selasa, 13/02/2018 18:05 WIB
Sepanjang 2017, Kanker Memicu 3.900 Kematian di JakartaGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan bus dengan pesan waspada kanker serviks. (Foto: Frieda isyana Putri)
Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghimbau kepada masyarakat Jakarta untuk melakukan deteksi dini pada kanker. Menurutnya, banyak kasus kanker terdeteksi ketika sudah stadium lanjut sehingga menyebabkan banyak kasus kematian.

"Di tahun 2017, di DKI kanker sebagai penyebab kematian mengakibatkan 3.900 kematian. Sekitar 13-14 persen dari total kematian di Jakarta," kata Anies dalam peringatan Hari Kanker Sedunia 2018 di Kota Tua, Jakarta Pusat, Selasa (13/2/2018).

Acara ini merupakan kerjasama dari Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam rangkaian peringatan hari Kanker Sedunia 2018 sejak awal bulan lalu.

dr Niken Wastu Palupi, Kepala Sub-Direktorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Kemenkes, mengatakan bahwa acara ini sudah dilakukan tiga kali di Bogor, Tangerang, dan kini Jakarta sebagai bentuk upaya tindakan preventif kanker.

Tema yang diusung dalam acara kali ini adalah "Kita Bisa (Mencegah Kanker), Aku Bisa (Mengerti dan Melakukan Deteksi Dini Kanker)" dengan fokus adalah awareness pada masyarakat mengenai bahaya kanker.

Baca juga: 6 Gejala Utama Kanker Serviks yang Tak Boleh Diabaikan

Niken juga menyebut bahwa 60-70 persen pasien yang terdiagnosa kanker sudah dalam fase stadium lanjut. Sebelumnya, WHO juga memprediksikan bahwa akan terjadi "ledakan" kanker pada tahun 2030.

Kepala Dinas Kesehatan Koesmedi juga mengimbau agar warga jangan datang ke puskesmas hanya saat sakit. Karena 14 persen kematian di Jakarta lebih banyak disebabkan oleh kanker serviks.

"Ada tiga hal dalam penanganan kanker, yaitu pencegahan kanker, pendeteksian kanker, pengobatan kanker," terangnya.

Pencegahan bisa melalui perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat dan lebih baik. Selain itu, ada juga pencegahan klinis menggunakan vaksim HPV pada anak kelas 5 dan 6 SD.

Lalu pendeteksian serviks bisa melalui tes screening IVA dan SADANIS, bila ingin lebih canggih maka bisa dilanjutkan dengan pengobatan di rumah sakit.

Koesmedi menyebutkan agar tidak terjadi keterlambatan di dalam berobat maka deteksi harus dilakukan lebih awal. Pihak Dinkes juga sudah melakukan sosialisasi dan menganggarkan bagi puskesmas dan rumah sakit di Jakarta untuk tindakan preventif dan promotif.

Bersamaan dengan ini, Dinas Kesehatan juga meluncurkan bus Transjakarta Cegah Kanker Serviks sebagai tindakan promotif. Dengan harapan bus ini dapat mengedukasi warga Jakarta mengenai kanker serviks dan segera melakukan deteksi dini ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.



Baca juga: Resmikan Bus TransJakarta Cegah Kanker Serviks, Anies: Ayo Deteksi Dini(up/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit