Senin, 06 Agu 2012 09:47 WIB

Gemar Nonton Porno Bikin Remaja Pria Cenderung Seks Bebas

- detikHealth
(Foto: thinkstock) (Foto: thinkstock)
Jakarta - Semakin meresahkannya pelecehan seksual akhir-akhir ini tentu membuat banyak pihak bertanya-tanya. Apalagi pelakunya adalah anak yang masih berusia remaja. Efek buruk pornografi dapat merusak mental generasi muda.

Sebuah penelitian menemukan bahwa remaja pria yang melihat pornografi lebih mungkin melecehkan perempuan dan melakukan seks bebas.

Penelitian yang dilakukan Australian Research Centre in Sex, Health and Society di berbagai negara ini juga menemukan bahwa anak-anak pria yang menonton film atau klip porno lebih kecil kemungkinannya untuk membentuk hubungan yang sukses ketika bertambah tua.

Ada bukti kuat dari seluruh dunia bahwa pornografi memiliki efek negatif pada individu dan masyarakat. Film ini memang bisa menambah pengetahuan seksual dan beberapa orang mungkin berpikir hal itu baik.

"Tetapi film porno bukanlah media untuk memberikan pendidikan seks yang baik karena menunjukkan cara-cara dalam berhubungan seks dan tidak mengajarkan keintiman, cinta, atau asmara. Seringkali tidak berperasaan dan sangat berkebalikan dalam menggambarkan perempuan," kata peneliti, Michael Flood.

"Tapi bukan berarti bahwa setiap anak muda akan keluar dan memperkosa seseorang setelah menonton film porno, tetapi meningkatkan kemungkinan hal itu dapat terjadi," lanjut Flood seperti dilansir mid-day.com, Senin (6/8/2012).

Pria muda adalah konsumen yang paling tertarik dengan pornografi. Dalam sebuah penelitian tahun 2007 di Swedia, ditemukan 92% pria muda dan 57% dari wanita muda berusia antara 15 sampai 18 tahun pernah menyaksikan film porno. Meskipun demikian, beberapa pihak masih menganggap pria yang menonton film porno adalah hal yang lumrah dan patut dimaklumi.

"Anak-anak tidak selalu melihat porno untuk kepuasannya. Mereka melakukannya karena bosan dan tidak diawasi. Seringkali ketika anak melihat film porno yang ekstrem hanya untuk membual sehingga mereka tertawa dan berkata betapa menjijikkannya hal itu," kata Petra Boynton, seorang psikolog dari University College London.






(pah/ir)