Rabu, 12 Mei 2021 19:00 WIB

Cepat Terangsang, Normalkah? Ini Penjelasan Para Ahli

Yuviniar Ekawati - detikHealth
Konsumsi Produk Susu Berlebihan Bisa Pengaruhi Ereksi dan Gairah Seks Foto: iStock
Jakarta -

Tingkat libido atau gairah seksual pada tiap orang berbeda-beda. Bahkan, dari waktu ke waktu tingkat libido terus berfluktuasi, naik dan turun. Tetapi, jika seseorang selalu merasa terangsang, muncul pertanyaan apakah kondisi tersebut normal?

Dikutip dari Health, para ahli setuju bahwa menetapkan atau memberikan label normal dan tidak normal pada sesuatu yang berhubungan dengan gairah dan frekuensi aktivitas seksual merupakan hal yang sulit.

Memberikan label normal pada jumlah frekuensi seks tertentu dianggap tidak membantu karena hasrat dan dorongan untuk melakukan seks berubah-ubah sepanjang hidup.

Terlebih para ahli menggunakan pendekatan yang lebih subjektif dan humanis bahwa pengalaman seseorang terhadap sesuatu merupakan hal yang valid.

Pada dasarnya, dorongan seks yang dialami oleh seseorang merupakan hal yang normal dan sehat, selama dorongan tersebut memberikan rasa nyaman kepada seseorang yang mengalaminya.

Setiap pasangan memiliki frekuensi yang berbeda-beda untuk melakukan hubungan seksual, tetapi pada umumnya atau sebagian besar pasangan melakukan hubungan seksual seminggu sekali menurut analisis yang diterbitkan Archives of Sexual Behavior di 2017.

Menjawab mengenai tingkat libido yang dianggap normal dan tidak normal seorang seksolog klinis, Sarah Melancon, PhD mengatakan bahwa hal tersebut sangat bergantung kepada tingkat kenyamanan pribadi.

"Perbedaan utama antara seksualitas 'normal' atau sehat dan tentang seksualitas adalah adanya tekanan tentang seksualitas Anda, perasaan bahwa perilaku di luar kendali, atau konsekuensi negatif di dunia nyata terhadap perilaku seksual Anda," kata Melancon.

Agar tidak membebani pikiran terlalu lama dengan pertanyaan apakah normal atau tidak normal. Berikut ini dua kemungkinan seseorang dapat terangsang terus menerus, dikutip dari Health.

1. Dalam hubungan yang baru

Pada saat berada dalam hubungan yang baru, khususnya pada tiga bulan pertama hingga dua tahun, sering ditemukan pasangan mengalami kegembiraan atau euphoria yang besar.

Tidak hanya rasa gembira, pada hubungan yang baru ditemukan juga tingkat gairah yang besar. Hal tersebut seringkali diartikan ke dalam tingkat hasrat dan aktivitas seksual yang tinggi, kata Melancon.

Keadaan ini sering disebut sebagai tahap "limerence" dari suatu hubungan. Pada tahap ini ditemukan hormon dan neurotransmiter yang menciptakan perasaan emosional dan seksual yang sangat kuat.

2. Kecanduan seks

"Apa yang disebut kecanduan seks mirip pada video game, penggunaan ponsel, atau menonton film porno pada dasarnya, perilaku ini tidak membuat ketagihan secara fisiologis seperti halnya heroin, alkohol, atau kokain," ungkap Melancon.

Namun, memberikan label kepada seseorang bahwa mereka mengalami kecanduan seks tidak dapat dilakukan sembarangan. Hal tersebut harus dilakukan oleh dokter dan ahli seks.

"Kecanduan seks memengaruhi remaja dan orang dewasa yang tak terhitung jumlahnya yang saya evaluasi di klinik," kata Leela R. Magavi, MD seorang psikiater dan direktur medis regional Community Psychiatry California.

Leela menambahkan beberapa orang berpendapat bahwa masturbasi atau berhubungan seks secara berulang membantu mereka mencapai rasa kesenangan yang setara dengan apa yang mereka alami ketika mereka berjudi atau menggunakan kokain.



Simak Video "Karantina Akibat Corona Pengaruhi Gairah Seks, Bagaimana Mengatasinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(Yuviniar Ekawati/kna)